\
Tampilkan postingan dengan label Paramparca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paramparca. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2016

#AniesWidiyarti_DemiSangBuahHati_CnH2_9 Sebuas-buasnya harimau, dia tidak akan memangsa anaknya sendiri. Dan oleh karena itu, seegois-egoisnya orang tua, berharap mereka tidak akan mengorbankan kebahagiaan dan masa depan sang putra-putri. Binatang yang tak berakal dan tak berhati nurani saja seolah-olah tahu diri, apalagi manusia yang dianugrahi oleh Yang Kuasa dengan akal dan perasaan... Akan tetapi, yang sering terjadi justru karena saking kompletnya kita sebagai makhluk ciptaanNYA, makin banyak juga yang serba ‘ajaib’ dan keterlaluan yang kita lakukan. Bukan lagi urusannya egois kl sampai belakangan sering mendengar kasus-kasus kriminal orang tua tega berbuat jahat dengan anaknya sendiri... Hhuufftt... Tak sadarkah para orang tua kl anak itu sebatas titipan dari Tuhan?!! Logikanya kl itu titipan, berarti anak-anak tersebut harus dirawat, dibesarkan, dan dididik dengan hati-hati dan sebaik-baiknya, karena kl sedikit saja ada yang lecet dan kurang berkenan, pasti sang empunya yang menitipkan akan merasa kecewa. Masih ingatkah kau para orang tua? Hhmmm...


Namun itulah kehidupan, satu sisi akan selalu ada yang mengecewakan dan menyakitkan hati, di sisi yang lain juga akan selalu hadir cerita seputar kasih sayang serta pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya yang mengharukan sekaligus menginspirasi. Tak jarang bahkan orang tua rela menjadi babu demi melihat anaknya kelak bisa menjadi seorang majikan kaya atau dokter. Atau juga cerita seorang anak yang tidak ingin terlalu menyusahkan orang tuanya, maka mereka tergerak untuk ikut turun tangan membantu meringankan beban orang tuanya... Indahnya kehidupan ya jika segala sesuatunya berjalan saling beriringan dan pengertian... Tapi kehidupan juga tidak akan menjadi pembelajaran, jika segala sesuatunya berjalan pada treknya. Maka itu Tuhan memberikan kita berbagai macam dan bentuk ujian, cobaan, atau juga teguran untuk dilalui, dijalani, dan InsyaAlloh akan jadi pengalaman yang berharga selama hidup. Namun sekali lagi, tak semuanya mampu dengan bijak dan legowo melewati ujian, cobaan, dan teguran dariNYA. Dan dari sinilah cerita segala keruwetan di kehidupan berawal, termasuk cerita ruwetnya problematika antara orang tua dan anak atau juga sebaliknya.


Kisah Cansu bertemu orang tua kandungnya yang sikonnya jauh berkebalikan dari orang tua yang merawat dan membesarkannya dari bayi hingga 15 tahun berselang, boleh jadi inilah cerita yang dapat dijadikan bahan perenungan dan pembelajaran untuk semuanya. Cerita tentang penerimaan dan penemuan kasih sayang yang selama ini seperti belum sampai pada tahap yang diinginkan. Mungkin Oskan dan Gulseren Gulpinar bukanlah Cihan dan Dilara Gurpinar yang berada dan berkecukupan, tapi Cansu yang menerima dan menyayangi Gulseren dan Oskan seiring cerita yang berjalan, begitu mengharukan dan jadi cerita kesayangan tersendiri. Dari cerita Cansu yang dulu di awal-awal malah yang berinisiatif terlebih dahulu untuk mencari siapa ibu dan ayah kandungnya dan berlanjut ketika bertemu Gulseren, ia langsung begitu menyayangi dan membanggakan ibu kandungnya, terlepas dari sikon Gulseren yang serba terbatas kehidupan perekonomiannya, seolah-olah turut membawa pada sebuah inti masalah bahwa yang terlihat indah dan penuh kenyamanan, tak menjamin kebahagiaan. Kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, dan perasaan untuk dianggap ‘ada’, ternyata menjadi lika-liku cerita yang seperti tiada ujungnya.


Dan sekarang, ketika Cansu mulai bermasalah dengan Gulseren dan Cihan akibat  ketakutan mereka berdua akan mengabaikan anak-anak karena tengah dimabuk asmara, membuat Cansu berkesempatan lari dan mengadu kepada Oskan, sang ayah kandung. Yupz. Lari dan mengadu yang sedikit berbau pelampiasan dan keputusasaan dari Cansu, untuk membalas perlakuan Gulseren dan Cihan yang menurutnya hanya berlagak saja menyayangi anak-anaknya demi memuluskan penyatuan cinta mereka. Beruntung Oskan selama Cansu ada di dekatnya, dia tidak sampai mencuci otak Cansu dan menambah panas sikon dengan menceritakan hal-hal yang buruk tentang Gulseren dan juga Cihan kepada anak kandungnya tersebut. Terlepas dari perlakuan Cihan dan Dilara yang dirasa begitu berlebihan dan terkesan tidak menganggap Oskan sebagai ayah kandung Cansu, namun Oskan hanya mempedulikan dan memikirkan bagaimana membuat Cansu bisa bahagia dan nyaman ketika tinggal bersamanya. Hingga akhirnya cerita yang begitu mengharukan di episode yang semalam bergulir.


Oskan Gulpinar bukanlah seorang laki-laki, suami, atau ayah idaman. Dia hingga akhirnya pernikahannya dengan Gulseren, hampir tak menyisakan cerita positif untuk sekadar digunjingkan. Bahkan Oskan malah seperti ketularan mata duitan dan keranjingan terhadap uang seperti halnya sang kakak, Keriman. Sebelum-sebelumnya cerita perhatiannya kepada Cansu, hanya seperti sok-sokan saja. Malah akhirnya muncul Nuray, perempuan yang dihamilinya semasa Oskan tinggal dan bekerja di Jerman, makin blangsaklah statusnya sebagai laki-laki. Hhhufftt... Tapi kiranya Tuhan masih menyayangi Oskan dan memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia sebenarnya masih berhati. Hingga pada saatnya Cansu berlari ke pihaknya. Saatnya kau yang memegang peranan, Oskan...


Pikirmu kau masih punya simpanan di bank untuk jaminan bahwa kau bisa menghidupi Cansu sebagaimana Cihan dan Dilara Gurpinar menghidupinya, tapi semuanya seperti tinggal mimpi ketika uang yang diandalkan tak bisa untuk dicairkan. Habiskah kesempatan untuk menjadi ayah yang baik? Ahh, Oskan... Yang Tuhan maksudkan bukan kau yang menghidupi anakmu hanya dengan gampangnya, tanpa perjuangan, tanpa pembelajaran. Tuhan kiranya menginginkan kau lebih menggunakan hati dan wibawamu sebagai seorang laki-laki dan ayah yang bertanggung jawab dan juga penuh pengorbanan. Apa jadinya jika uang simpanan di bank bisa kau ambil, pastilah kau tetap menjadi Oskan yang terlalu menggampangkan dan arogan. Maka ketika Yang Di Atas ingin kau menjadi lebih baik, dibuatlah kau menjadi seperti halnya seorang brengsek yang tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi seoarng ayah yang bertanggung jawab dan berjiwa besar hanya karena permohonanmu kepada Cihan untuk merawat dan membesarkan Cansu di tangannya.


Meskipun terkesan pasrah dan belum maksimal dalam berjuang, tapi setidak-tidaknya Oskan sudah membuat sebuah keputusan yang bijak, agar anaknya tetap bisa hidup layak dan mempunyai masa depan yang lebih terjamin, daripada ketika sang anak dipaksakannya untuk hidup dalam pengasuhannya. Toh Oskan sejauh ini bisa melihat Cihan sebagai orang tua bagi Cansu dia jauh dari kata mengecewakan. Inilah keputusan yang dianggap paling baik dan memungkinkan untuk saat ini, meskipun Oskan di satu sisi belum mendengar pendapat dari Cansu, tentang hal yang diputuskannya tersebut. Percayalah, Oskan.. Di balik niat baik, ada Tuhan sebagai jaminanya. Cansu tidak akan pernah meninggalkanmu.


Cansu bukanlah Hazal yang manipulatif dan licik. Tapi sayangnya, setiap kali Hazal terlihat sudah seperti mendekati ‘kemenangannya’, saat itu pasti Cansu muncul dan seolah-olah selalu jadi ‘malapetaka’ tersendiri baginya. Dasar, Hazal... Pikirannya yang selalu jelek, tak menjamin kebahagiaannya meski sekarang dia tinggal  bersama Cihan dan Dilara, sang orang tua kandung. Pikiran-pikirannya yang licik, suka berbohong, dan tak henti berbuat culas serta curang kepada orang-orang di sekitarnya, membuat Hazal seperti selalu terkurung dalam penderitaannya sendiri. Tambah sekarang dia harus berhadap-hadapan lagi dengan Keriman di rumah Cihan dan Dilara, wkwkwkwkkk... Selamat datang kembali, Bibi Keriman... ‘Sang guru’ licik dan ‘panutan’ drama queenku, xixixiii... Yeeeayy... Hazal bakalan serumah lagi neh dengan Keriman...


Untuk Cihan yang selalu di hati, semangatttt, Ayah tampan... Perang yang diinginkan oleh Harun baru saja dimulai... Setidak-tidaknya, meski musuhmu yang jelas belum terlihat batang hidungnya, tetaplah kau mulai waspada... Karena yang sedang kau hadapi sekarang adalah seseorang yang punya dendam... Dendam yang hingga sekarang belum jelas bentuknya seperti apa. Coba tanyakan saja kepada Chandan, yang sekarang bak ‘budak cinta’ untuk Harun, wkwkwkwkkk... Chandan... Tunggu saja sampai semuanya jelas bagimu... Karena yang cukup jelas sekarang untuk yang lainnya (terkecuali Chandan), Harun ternyata tak punya tempat untukmu, selain hanya Dilara. Untuk Chandan seorang, hanya ada buket-buket bunga yang tak penting, karena buket Bunga Erguvan  hanya dipersembahkan oleh Harun kepada Dilara.


Ahh, Dilara yang katanya mengeluh kesepian di hadapan Ozan... Sebentar lagi kau akan belajar bagaimana bila hatimu sudah beraksi dan berbicara, Dilara... Dan kau akan merasakan betapa harga diri akan jadi cerita yang kesekian, ketika cinta dan hati sudah saling bertaut. Jujur, melihatmu semalam ketika memilih untuk agak menahan diri ketika berselisih paham dengan Cihan, saya koq justru suka dan salut yaa... Kau terlihat lebih bijak, alih-alih merasa kalah suara dari suamimu... Masing-masing dengan alasannya sendiri-sendiri, semoga tetap ada penyelesaiannya. Dilara dan Cihan... Seperti sudah memegang nasibnya sendiri-sendiri.


Seperti halnya Cihan dan Gulseren yang tetap bertahan meski sekarang semakin banyak yang menentangnya. Bahkan di balik kebingungan mencari sang putri, tetap ada waktu untuk saling bercerita dan mengurai hati. Biarlah semua berjalan apa adanya. Jika yakin dengan yang sudah dijalani, tak melawan hati nurani, mintalah pada Tuhan untuk senantiasa mengiringi perjuangan dan cinta kalian. Berharap yang terbaik. Have a sweet Friday... Happy long weekend... Salam hangat.





16.50.00 Unknown
#AniesWidiyarti_DemiSangBuahHati_CnH2_9 Sebuas-buasnya harimau, dia tidak akan memangsa anaknya sendiri. Dan oleh karena itu, seegois-egoisnya orang tua, berharap mereka tidak akan mengorbankan kebahagiaan dan masa depan sang putra-putri. Binatang yang tak berakal dan tak berhati nurani saja seolah-olah tahu diri, apalagi manusia yang dianugrahi oleh Yang Kuasa dengan akal dan perasaan... Akan tetapi, yang sering terjadi justru karena saking kompletnya kita sebagai makhluk ciptaanNYA, makin banyak juga yang serba ‘ajaib’ dan keterlaluan yang kita lakukan. Bukan lagi urusannya egois kl sampai belakangan sering mendengar kasus-kasus kriminal orang tua tega berbuat jahat dengan anaknya sendiri... Hhuufftt... Tak sadarkah para orang tua kl anak itu sebatas titipan dari Tuhan?!! Logikanya kl itu titipan, berarti anak-anak tersebut harus dirawat, dibesarkan, dan dididik dengan hati-hati dan sebaik-baiknya, karena kl sedikit saja ada yang lecet dan kurang berkenan, pasti sang empunya yang menitipkan akan merasa kecewa. Masih ingatkah kau para orang tua? Hhmmm...


Namun itulah kehidupan, satu sisi akan selalu ada yang mengecewakan dan menyakitkan hati, di sisi yang lain juga akan selalu hadir cerita seputar kasih sayang serta pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya yang mengharukan sekaligus menginspirasi. Tak jarang bahkan orang tua rela menjadi babu demi melihat anaknya kelak bisa menjadi seorang majikan kaya atau dokter. Atau juga cerita seorang anak yang tidak ingin terlalu menyusahkan orang tuanya, maka mereka tergerak untuk ikut turun tangan membantu meringankan beban orang tuanya... Indahnya kehidupan ya jika segala sesuatunya berjalan saling beriringan dan pengertian... Tapi kehidupan juga tidak akan menjadi pembelajaran, jika segala sesuatunya berjalan pada treknya. Maka itu Tuhan memberikan kita berbagai macam dan bentuk ujian, cobaan, atau juga teguran untuk dilalui, dijalani, dan InsyaAlloh akan jadi pengalaman yang berharga selama hidup. Namun sekali lagi, tak semuanya mampu dengan bijak dan legowo melewati ujian, cobaan, dan teguran dariNYA. Dan dari sinilah cerita segala keruwetan di kehidupan berawal, termasuk cerita ruwetnya problematika antara orang tua dan anak atau juga sebaliknya.


Kisah Cansu bertemu orang tua kandungnya yang sikonnya jauh berkebalikan dari orang tua yang merawat dan membesarkannya dari bayi hingga 15 tahun berselang, boleh jadi inilah cerita yang dapat dijadikan bahan perenungan dan pembelajaran untuk semuanya. Cerita tentang penerimaan dan penemuan kasih sayang yang selama ini seperti belum sampai pada tahap yang diinginkan. Mungkin Oskan dan Gulseren Gulpinar bukanlah Cihan dan Dilara Gurpinar yang berada dan berkecukupan, tapi Cansu yang menerima dan menyayangi Gulseren dan Oskan seiring cerita yang berjalan, begitu mengharukan dan jadi cerita kesayangan tersendiri. Dari cerita Cansu yang dulu di awal-awal malah yang berinisiatif terlebih dahulu untuk mencari siapa ibu dan ayah kandungnya dan berlanjut ketika bertemu Gulseren, ia langsung begitu menyayangi dan membanggakan ibu kandungnya, terlepas dari sikon Gulseren yang serba terbatas kehidupan perekonomiannya, seolah-olah turut membawa pada sebuah inti masalah bahwa yang terlihat indah dan penuh kenyamanan, tak menjamin kebahagiaan. Kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, dan perasaan untuk dianggap ‘ada’, ternyata menjadi lika-liku cerita yang seperti tiada ujungnya.


Dan sekarang, ketika Cansu mulai bermasalah dengan Gulseren dan Cihan akibat  ketakutan mereka berdua akan mengabaikan anak-anak karena tengah dimabuk asmara, membuat Cansu berkesempatan lari dan mengadu kepada Oskan, sang ayah kandung. Yupz. Lari dan mengadu yang sedikit berbau pelampiasan dan keputusasaan dari Cansu, untuk membalas perlakuan Gulseren dan Cihan yang menurutnya hanya berlagak saja menyayangi anak-anaknya demi memuluskan penyatuan cinta mereka. Beruntung Oskan selama Cansu ada di dekatnya, dia tidak sampai mencuci otak Cansu dan menambah panas sikon dengan menceritakan hal-hal yang buruk tentang Gulseren dan juga Cihan kepada anak kandungnya tersebut. Terlepas dari perlakuan Cihan dan Dilara yang dirasa begitu berlebihan dan terkesan tidak menganggap Oskan sebagai ayah kandung Cansu, namun Oskan hanya mempedulikan dan memikirkan bagaimana membuat Cansu bisa bahagia dan nyaman ketika tinggal bersamanya. Hingga akhirnya cerita yang begitu mengharukan di episode yang semalam bergulir.


Oskan Gulpinar bukanlah seorang laki-laki, suami, atau ayah idaman. Dia hingga akhirnya pernikahannya dengan Gulseren, hampir tak menyisakan cerita positif untuk sekadar digunjingkan. Bahkan Oskan malah seperti ketularan mata duitan dan keranjingan terhadap uang seperti halnya sang kakak, Keriman. Sebelum-sebelumnya cerita perhatiannya kepada Cansu, hanya seperti sok-sokan saja. Malah akhirnya muncul Nuray, perempuan yang dihamilinya semasa Oskan tinggal dan bekerja di Jerman, makin blangsaklah statusnya sebagai laki-laki. Hhhufftt... Tapi kiranya Tuhan masih menyayangi Oskan dan memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia sebenarnya masih berhati. Hingga pada saatnya Cansu berlari ke pihaknya. Saatnya kau yang memegang peranan, Oskan...


Pikirmu kau masih punya simpanan di bank untuk jaminan bahwa kau bisa menghidupi Cansu sebagaimana Cihan dan Dilara Gurpinar menghidupinya, tapi semuanya seperti tinggal mimpi ketika uang yang diandalkan tak bisa untuk dicairkan. Habiskah kesempatan untuk menjadi ayah yang baik? Ahh, Oskan... Yang Tuhan maksudkan bukan kau yang menghidupi anakmu hanya dengan gampangnya, tanpa perjuangan, tanpa pembelajaran. Tuhan kiranya menginginkan kau lebih menggunakan hati dan wibawamu sebagai seorang laki-laki dan ayah yang bertanggung jawab dan juga penuh pengorbanan. Apa jadinya jika uang simpanan di bank bisa kau ambil, pastilah kau tetap menjadi Oskan yang terlalu menggampangkan dan arogan. Maka ketika Yang Di Atas ingin kau menjadi lebih baik, dibuatlah kau menjadi seperti halnya seorang brengsek yang tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi seoarng ayah yang bertanggung jawab dan berjiwa besar hanya karena permohonanmu kepada Cihan untuk merawat dan membesarkan Cansu di tangannya.


Meskipun terkesan pasrah dan belum maksimal dalam berjuang, tapi setidak-tidaknya Oskan sudah membuat sebuah keputusan yang bijak, agar anaknya tetap bisa hidup layak dan mempunyai masa depan yang lebih terjamin, daripada ketika sang anak dipaksakannya untuk hidup dalam pengasuhannya. Toh Oskan sejauh ini bisa melihat Cihan sebagai orang tua bagi Cansu dia jauh dari kata mengecewakan. Inilah keputusan yang dianggap paling baik dan memungkinkan untuk saat ini, meskipun Oskan di satu sisi belum mendengar pendapat dari Cansu, tentang hal yang diputuskannya tersebut. Percayalah, Oskan.. Di balik niat baik, ada Tuhan sebagai jaminanya. Cansu tidak akan pernah meninggalkanmu.


Cansu bukanlah Hazal yang manipulatif dan licik. Tapi sayangnya, setiap kali Hazal terlihat sudah seperti mendekati ‘kemenangannya’, saat itu pasti Cansu muncul dan seolah-olah selalu jadi ‘malapetaka’ tersendiri baginya. Dasar, Hazal... Pikirannya yang selalu jelek, tak menjamin kebahagiaannya meski sekarang dia tinggal  bersama Cihan dan Dilara, sang orang tua kandung. Pikiran-pikirannya yang licik, suka berbohong, dan tak henti berbuat culas serta curang kepada orang-orang di sekitarnya, membuat Hazal seperti selalu terkurung dalam penderitaannya sendiri. Tambah sekarang dia harus berhadap-hadapan lagi dengan Keriman di rumah Cihan dan Dilara, wkwkwkwkkk... Selamat datang kembali, Bibi Keriman... ‘Sang guru’ licik dan ‘panutan’ drama queenku, xixixiii... Yeeeayy... Hazal bakalan serumah lagi neh dengan Keriman...


Untuk Cihan yang selalu di hati, semangatttt, Ayah tampan... Perang yang diinginkan oleh Harun baru saja dimulai... Setidak-tidaknya, meski musuhmu yang jelas belum terlihat batang hidungnya, tetaplah kau mulai waspada... Karena yang sedang kau hadapi sekarang adalah seseorang yang punya dendam... Dendam yang hingga sekarang belum jelas bentuknya seperti apa. Coba tanyakan saja kepada Chandan, yang sekarang bak ‘budak cinta’ untuk Harun, wkwkwkwkkk... Chandan... Tunggu saja sampai semuanya jelas bagimu... Karena yang cukup jelas sekarang untuk yang lainnya (terkecuali Chandan), Harun ternyata tak punya tempat untukmu, selain hanya Dilara. Untuk Chandan seorang, hanya ada buket-buket bunga yang tak penting, karena buket Bunga Erguvan  hanya dipersembahkan oleh Harun kepada Dilara.


Ahh, Dilara yang katanya mengeluh kesepian di hadapan Ozan... Sebentar lagi kau akan belajar bagaimana bila hatimu sudah beraksi dan berbicara, Dilara... Dan kau akan merasakan betapa harga diri akan jadi cerita yang kesekian, ketika cinta dan hati sudah saling bertaut. Jujur, melihatmu semalam ketika memilih untuk agak menahan diri ketika berselisih paham dengan Cihan, saya koq justru suka dan salut yaa... Kau terlihat lebih bijak, alih-alih merasa kalah suara dari suamimu... Masing-masing dengan alasannya sendiri-sendiri, semoga tetap ada penyelesaiannya. Dilara dan Cihan... Seperti sudah memegang nasibnya sendiri-sendiri.


Seperti halnya Cihan dan Gulseren yang tetap bertahan meski sekarang semakin banyak yang menentangnya. Bahkan di balik kebingungan mencari sang putri, tetap ada waktu untuk saling bercerita dan mengurai hati. Biarlah semua berjalan apa adanya. Jika yakin dengan yang sudah dijalani, tak melawan hati nurani, mintalah pada Tuhan untuk senantiasa mengiringi perjuangan dan cinta kalian. Berharap yang terbaik. Have a sweet Friday... Happy long weekend... Salam hangat.





#sinopsis_cansuhazal2_eps10
#paramparca2_bolum35part1
Tayang: Jum’at, 01 Juli 2016
Oleh: Anies Widiyarti. Bersama: Debby Arin Anggraini, Indrie Puspita, Anisa Puji Rahayu, dan Intan Hapsari.



*Usai menutup pembicaraannya di telpon dengan Dilara, Cihan merasa begitu lega dan bahagia saat berbicara dengan Gulseren. Senyum Cihan kepada Gulseren di malam hujan lebat itu, ketika mereka berdua saja di dalam mobil... Duh... Bikin makin nyesss gimana gitu, hehhe.. Berasa hujan yang harusnya membawa udara dingin, mendadak menjadi hangat hanya karena senyuman Cihan dan juga sambutan wajah yang cerah dari raut muka Gulseren... 

*Ozan berjalan di tengah keramaian jalanan dengan menampakkan raut muka yang penuh dengan kemarahan dan kebencian...

*Di dalam mobil, Cihan dan Gulseren melanjutkan pembicaraan tentang Cansu, Oskan, dsb..dsb... Pssssttttt... Gulseren justru terlihat makin natural cantiknya di scene berikut lho... Aura seksinya, senyumannya yang manis, serta mata hijaunya yang indah, seolah-olah mampu berpadu dan menyatu dengan kharismatiknya Cihan serta hujan yang turun malam itu. Tak perlulah adegan ciuman itu dituntaskan sampai ke ujung, cukup dengan pelukan yang erat, kecupan di kening dan pelipis, usapan tangan di bibir, bahkan romantisnya rasanya tidak akan habis-habis... Dewasa sekali percintaan berdua ini... Dramatisasi latar berikut back song soundtrack utama sudah dapat mewakili untuk menggambarkan keindahannya.

*Ozan rupanya sedang mematai-matai/ mengawasi Gulseren dan Cihan yang baru saja pulangdari ‘kencan dadakan’, haddeh.. Perasaan, gak rela banget kl latar music scoring yang baisanya dipakai untuk melatari scene Harun, di scene Ozan ini, music scoring tersebut juga terpakai, wwweew... Hahha..

*Gulseren masuk ke dalam rumah, menyapa Deriya dengan perasaan lega dan bahagia. Lanjut kemudian mereka berdua saling berpelukan. Tak lama, terdengar pintu diketuk. Gulseren mengira kl itu adalah Cihan yang mungkin dia sedang kelupaan sesuatu. Tapi ternyata...!!!

*Ozan yang datang!!! Dengan wajah yang sudah memperlihatkan urat kemarahan, Ozan tiba-tiba langsung menodongkan pistol ke arah Gulseren. Seketika itu juga Gulseren merasa terkejut. Deriya pun langsung berteriak kaget dan histeris melihat Ozan yang bertindak nekad tersebut...

*Gulseren yang belum habis rasa terkejutnya melihat Ozan menodongkan pistol ke arahnya, berusaha berbicara dan bertanya kepada Ozan, ada apa sebenarnya. Ozan yang sedang begitu emosional, terus menodongkan pistolnya ke arah Gulseren dengan tangan yang gemetaran.

*Sigap, Gulseren menampik pistol itu dari tangan Ozan. Pistol terjatuh ke lantai, Gulseren langsung mengambilnya, dan lanjut mengarahkan pistol tersebut ke kepalanya sendiri. Gulseren berkata dengan setengah berteriak sekaligus dengan nada yang tegas kepada Ozan, termasuk mengatakan kl dia mencintai Cihan. Ozan yang masih terlihat emosional dan gelagapan, di tengah tangisan dan kemarahannya, berusaha menyangkal semua yang dikatakan Gulseren dengan berteriak menyuruh Gulseren diam. Akan tetapi, Gulseren lebih tegas dengan segala responnya. Ozan menyuruh Gulseren untuk menurunkan pistolnya dari arah kepala Gulseren.

*Gulseren akhirnya menurunkan pistol itu ke bawah. Ozan menangis, begitu juga dengan Gulseren. Namun ketika Gulseren hendak memeluk Ozan, berniat ingin menenangkan, Ozan menolaknya dan langsung pergi meninggalkan apartemen Deriya. Lalu Gulseren menutup pintu dan menangis.

*Ozan berjalan menuruni tangga dengan langkah yang gontai, sambil terus menangis. Sempat duduk sebentar di pintu gerbang serambi apartemen sambil menggumamkan sesuatu, Ozan akhirnya berjalan meninggalkan apartemen dengan terus menangis. Scene yang benar-benar ironis dan memprihatinkan.  Ozan... Keinginanannya untuk melindungi sang ibu, tekadnya untuk bisa menyelamatkan rumah tangga orang tuanya, apapun Ozan tak bisa sepenuhnya disalahkan. Tapi bagaimanapun, dalam hidup ini tak semuanya berjalan sesuai  yang kau inginkan, Ozan... Belajarlah dan bersabarlah!!!

*Di kediaman Gurpinar, Dilara memberikan handuk kepada Cansu untuk mengeringkan rambutnya. Mereka berdua sedang berbicara di kamar. Cansu sedikit-banyak masih terlihat mendebat Dilara. Dan Dilara berusaha menanggapi Cansu sesabar mungkin.

*Di ruang keluarga Gurpinar, Nuray dan Keriman sedang berdebat. Ampun deh Keriman...!!! Ngomel dari kapan mulai, entah akan berhenti kapan... Hadddeh...

*Dilara menyuruh Emine untuk menyiapkan kamar bagi para ‘tamu kehormatan’, wkwkwkwkkk...

*Nuray yang sudah tidak sabar dan kebingungan karena sejak tadi didiamkan oleh tuan rumah di ruang keluarga, berteriak-teriak memanggil orang-orang yang ada di rumah tersebut. Hazal yang sedang tidur di kamarnya merasa terganggu dengan teriakan Nuray. Hazal bangun dari tempat tidurnya, berjalan menuju kursi rodanya. Ya elllah... Masih ingat saja dengan acara lumpuh bokisnya nie bocah satu,,

*Sema mempersilakan Nuray dan Keriman untuk segera menuju ke kamar yang telah disiapkan. Nuray seperti setengah mengeluh dan protes kepada Sema tentang sesuatu hal, tapi tampaknya Sema menanggapinya dengan santai..sambil lalu.

*Hazal muncul di ruang keluarga dan ketika melihat Keriman, gadis itu lanjut memanggilnya. Hadddoh... Langsung Keriman bertingkah layaknya artis yang lebay... Melihat kemunculan Hazal yang tiba-tiba, puar-puranya Keriman merasa terkejut, sok antusias, dan segera menghampiri Hazal dengan begitu rupa. Sayang yang diantusiasi sudah terlalu jengah melihat tingkah Keriman, wkwkwkwkkk..

*Cansu menyusul ke ruang tamu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Cansu melihat Hazal sedang berada di dekat Keriman. Hazal juga sempat mengatakan sesuatu kepada Cansu. Entah apa yang disampaikan, yang jelas dari muka Hazal ketika berbicara denagn Cansu, terlihat masam dan menjengkelkan.

*Keriman mengenalkan Hazal kepada Nuray. Nuray yang lebay nya sebelas-dua belas dengan Keriman, langsung menghambur mendekati Hazal untuk menciumi pipi Hazal. Dasar Hazal... Dia langsung menghapus dengan usapan tangannya, bekas ciuman pipi Nuray yang mendarat di kedua pipinya, hahha.. Keriman menjelaskan kepada Hazal , siapa Nuray. Nuray kemudian juga menunjukkan dan mengenalkan bayinya kepada Hazal.

*Di bengkel, Oskan merasa putus asa dan marah atas nasib yang sedang menimpanya sekarang. Gelas yang ada di atas meja pun ikut jadi korban amukan Oskan.

*Di kamar tamu, Keriman masih saja terus mengomel dan mengeluh, sementara Nuray sedang memberi minum dan menenangkan bayinya yang sedang dalam gendongannya. Nuray menyuruh Keriman mengambil air untuk mengisi botol.

*Secara tak sengaja, Keriman masuk ke kamar hazal dan duarrrrrrr... Keriman melihat Hazal bisa berdiri dan berjalan dengan kakinya sendiri. Keriman dan Hazal sama-sama terkejutnya, sampai-sampai botol air yang ada di tangan Keriman terlempar jatuh. Tapi tentu saja terkejutnya dengan alasannya sendiri-sendiri. Keriman terkejut bahagia melihat Hazal sudah bisa berjalan sendiri (entah ini ekspresi bahagia sungguhan atau lagak saja seperti biasanya, wwweew), tapi justru Hazal marah-marah karena melihat Keriman masuk ke kamarnya tanpa izin.

*Mendengar keributan di kamar Hazal, Dilara langsung menghampiri dan masuk ke kamar Hazal. Dilara menanyakan ada keributan apa kepada Hazal dan sempat sedikit curiga melihat sandal kamar Hazal. Hazal berdalih bahwa sebelumnya ia sempat jatuh dan Dilara kelihatannya percaya dengan jawaban dari Hazal. Untuk sementara, Dilara masih bisa diperdayai. Tapi tidak rupanya untuk Keriman. Kedipan mata Hazal kepada Keriman menandakan kl Keriman setingkat lebih ‘canggih’ dalam membaca tipu muslihat Hazal. Bahkan ketika Keriman berniat mengatakan apa yang tadi dilihatnya kepada Dilara, dengan cepat Hazal mengisyaratkan tutup mulut untuk Keriman.

*Di apartemen, Deriya masih berusaha untuk menenangkan Gulseren yang belum hilang dari rasa syoknya usai tadi insiden dengan Ozan. Deriya terus memberikan nasehat dan dukungannya kepada Gulseren.

*Gulseren mengambil pistol Ozan yang diletakkan di atas meja rias, di kamarnya. Gulseren kemudian menyimpan pistol tersebut di laci, di bawah handuk.

*Sementara itu, Ozan di kamarnya sedang berbaring dan memandangi foto-foto semasa ia kecil bersama denagn Cihan. Foto-foto itu tampak berserakahan. Ozan sesekali masih terlihat meneteskan air matanya. Ozan, berharap kau dapat mengambil hikmah di balik kenekadannya yang sempat kau lakukan tadi...

*Di dermaga, halaman belakang rumah, Cansu sedang berdiri sambil menelpon. Cansu berusaha untuk menghubungi ayahnya, namun sepertinya tak ada respon, mengingat ponsel Oskan yang ketinggalan di kedai milik Abidin kemarin.

*Cihan berjalan mendekati Cansu, berusaha mengajaknya bicara. Cansu masih terlihat malas menanggapi Cihan. Tapi Cihan terus mengajaknya bicara. Cansu kelihatannya masih marah dan berburuk sangka kepada Cihan. Dan Cihan terus berusaha meyakinkan putrinya tersebut. Cihan pada akhirnya sampai tega untuk membentak Cansu karena gadis itu makin keras kepala dengan pendapatnya. Cansu pun terlihat makin emosional dan bergegas pergi meninggalkan pembicaraannya dengan Cihan.

*Ozan bertemu dengan Keriman secara kebetulan ketika Keriman tak sengaja menabraknya, seusai Ozan menuang dan minum teh dari cangkirnya. Ozan yang terkejut dengan kehadiran Keriman di rumahnya, menanyakan kepada Keriman apa yang sedang dilakukan di rumah tersebut. Tentu saja Keriman sudah sudah siap dengan gaya penjelasannya kepada Ozan. Hhheeeiisstt...

*Gulseren sedang merias dan mematut diri di depan meja rias ketika Deriya masuk ke kamar untuk menyapanya. Gulseren bersiap-siap untuk pergi, kelihatannya untuk memenuhi panggilan wawancara kerja. Di antara obrolan Gulseren dan Deriya, sepertinya mereka menyinggung-nyinggung tentang Cansu. Oy, melihat Deriya itu selalu menyenangkan ya, Paramparca Fan... Kecantikan dan ketulusan hatinya kepada Gulseren berikut paket lesung pipit di pipinya, bikin setiap kali melihat Deriya jadi berasa adem..menarik, hehhe..

*Pagi itu, di kediaman Gurpinar... Dilara tampak begitu menawan, berbalut gaun tidur panjang berwarna merah marun... Dia lanjut berjalan dan berdiri di depan jendela ruang kelurga sambil membawa cangkir minumannya... Tampak dia menyapa dan berbicara dengan Cihan yang sedang duduk membaca koran di seberang ruangan, tak jauh dari tempat Dilara berdiri... Angin sepoi-sepoi yang menerpa rambut dan gaun Dilara, sumpahhh... Bikin Dilara terlihat makin istimewa!!! Seolah-olah dramatisasi angin itu ikut bercerita dan menegaskan, betapa menawannya sang nyonya rumah... Sayang sang suami seperti acuh saja dengan keindahan yang ada di dekatnya tersebut

*Di tempat lain, Harun dan Chandan sedang membicarakan Cihan. Nada-nada bicara penuh kemenangan dan kepuasan mewarnai pembicaraan mereka berdua. Tapi sesudahnya, ketika Chandan melanjutkan pembicaraannya tentang Cihan dan Dilara, dengan sekejap raut muka Harun berubah menjadi penuh ketegangan dan kelihatan menggumamkan sesuatu.

*Dilara dan Cihan masih berbicara di ruang keluarga. Ketika berniat akan mengakhiri pembicaraannya dengan Cihan dan ingin menemui Cansu, Cihan justru mengatakan kepada Dilara kl Cansu sedang pergi karena masih marah dengannya.

*Diantar Bachtiar, Cansu mendatangi bengkel tempat Oskan bekerja. Cansu mendapati Oskan masih tertidur di sebuah kursi, di dalam bengkel. Cansu beranjak membangunkan Oskan dan sejenak kemudian Oskan terbangun dan menyadari kl Cansu yang telah membangunkannya. Cansu mengajak Oskan bicara. Setelahnya, Oskan berjalan menuju ke sebuah wastafel untuk cuci muka dan lanjut mengeringkannya dengan handuk. Cansu hanya bisa terdiam sementara terus mengikuti kemana ayahnya berjalan. Oskan lalu menyuruhnya untuk duduk.

*Dilara marah kepada Cihan. Sepertinya kemarahan Dilara karena Cihan membiarkan Cansu untuk menemui Oskan. Cihan yang jengkel menyuruh Dilara diam sambil beranjak pergi dari ruangan. Dilara hanya bisa menggumam kesal melihat sikap Cihan pagi itu.

*Oskan dan Cansu melanjutkan pembicaraan mereka. Pasangan ayah-anak ini, sebenarnya juga tak kalah asyik dengan apabila kita melihat Cihan bersama putrinya, hehhe.. Oskan sepertinya berusaha menjelaskan kepada Cansu tentang perasaannya sebenarnya kepada putrinya. Lagi-lagi... Oskan menarik hati saiya di scene berikut ini... Di sela-sela isak tangisnya ketika berbicara dengan Cansu, Oskan terus berusaha meyakinkan Cansu untuk lebih baik kembali berada dalam pengasuhan Cihan, daripada bertahan bersama dirinya, tapi Oskan tidak sanggup mencukupi segala kebutuhan Cansu. Namun sepertinya Cansu juga tak mau kalah berkeras agar tetap dapat bertahan dengan ayah kandungnya. Hhmmm... Indah sekaligus mengharukan menonton scene ini...

*Harun dan Chandan sedang menikmati sarapan bersama. Chandan menyuruh Harun untuk duduk karena rupanya Harun terlihat lebih menikmati kopi dan membaca korannya sambil berdiri. Berdua saling serius, sambil sesekali terlihat becanda. Tak lupa kecupan manis di bibir turut ‘mampir’ menghangatkan pagi itu, wwweew... Harun kepada Chandan... Berasa hanya nafsu saja yang menghiasi keduanya, alih-alih terlihat sebagai pasangan yang tengah saling jatuh cinta.. Mungkin yang cinta Chandan nya doank, kl Harun ya jelas tidak, hahha...

*Soulmas bergegas membangunkan Alper yang masih tertidur pulas di bawah selimutnya. Diwarnai dengan pertengkaran, berdua ini serasi benar sebagai pasangan pecundang, wkwkwkwkk..

*Harun dan Chandan masih asyik dengan pembicaraannya. Kali ini giliran Dilara yang menjadi topik bahasannya.

*Soulmas menuangkan kopi di cangkir, untuk bersiap-siap sarapan. Tak lama Alper menyusul ke meja makan. Rupanya pertengkaran di kamar tadi masih berlanjut hingga ke meja makan. Alper dan Soulmas terus saling berdebat. Ada Harun disebut-sebut di antara pembicaraan mereka berdua.

*Cansu sempat berpapasan dengan Cihan di halaman rumah, seusai pulang dari menemui Oskan. Namun Cihan sama sekali tak digubrisnya. Masuk ke dalam rumah, pun dengan Dilara yang ketika menyapa Cansu gadis itu malah langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Terdengar Cansu menangis. Dilara berusaha mengajak Cansu bicara, tapi Cihan menyuruh Dilara untuk mengurungkan niatnya terlebih dahulu. Sementara di kamarnya, Cansu masih terus menangis.



NEXT: Gulseren terancam hampir diperkosa oleh seorang laki-laki ketika sedang melakukan wawancara kerja.
16.37.00 Unknown
#sinopsis_cansuhazal2_eps10
#paramparca2_bolum35part1
Tayang: Jum’at, 01 Juli 2016
Oleh: Anies Widiyarti. Bersama: Debby Arin Anggraini, Indrie Puspita, Anisa Puji Rahayu, dan Intan Hapsari.



*Usai menutup pembicaraannya di telpon dengan Dilara, Cihan merasa begitu lega dan bahagia saat berbicara dengan Gulseren. Senyum Cihan kepada Gulseren di malam hujan lebat itu, ketika mereka berdua saja di dalam mobil... Duh... Bikin makin nyesss gimana gitu, hehhe.. Berasa hujan yang harusnya membawa udara dingin, mendadak menjadi hangat hanya karena senyuman Cihan dan juga sambutan wajah yang cerah dari raut muka Gulseren... 

*Ozan berjalan di tengah keramaian jalanan dengan menampakkan raut muka yang penuh dengan kemarahan dan kebencian...

*Di dalam mobil, Cihan dan Gulseren melanjutkan pembicaraan tentang Cansu, Oskan, dsb..dsb... Pssssttttt... Gulseren justru terlihat makin natural cantiknya di scene berikut lho... Aura seksinya, senyumannya yang manis, serta mata hijaunya yang indah, seolah-olah mampu berpadu dan menyatu dengan kharismatiknya Cihan serta hujan yang turun malam itu. Tak perlulah adegan ciuman itu dituntaskan sampai ke ujung, cukup dengan pelukan yang erat, kecupan di kening dan pelipis, usapan tangan di bibir, bahkan romantisnya rasanya tidak akan habis-habis... Dewasa sekali percintaan berdua ini... Dramatisasi latar berikut back song soundtrack utama sudah dapat mewakili untuk menggambarkan keindahannya.

*Ozan rupanya sedang mematai-matai/ mengawasi Gulseren dan Cihan yang baru saja pulangdari ‘kencan dadakan’, haddeh.. Perasaan, gak rela banget kl latar music scoring yang baisanya dipakai untuk melatari scene Harun, di scene Ozan ini, music scoring tersebut juga terpakai, wwweew... Hahha..

*Gulseren masuk ke dalam rumah, menyapa Deriya dengan perasaan lega dan bahagia. Lanjut kemudian mereka berdua saling berpelukan. Tak lama, terdengar pintu diketuk. Gulseren mengira kl itu adalah Cihan yang mungkin dia sedang kelupaan sesuatu. Tapi ternyata...!!!

*Ozan yang datang!!! Dengan wajah yang sudah memperlihatkan urat kemarahan, Ozan tiba-tiba langsung menodongkan pistol ke arah Gulseren. Seketika itu juga Gulseren merasa terkejut. Deriya pun langsung berteriak kaget dan histeris melihat Ozan yang bertindak nekad tersebut...

*Gulseren yang belum habis rasa terkejutnya melihat Ozan menodongkan pistol ke arahnya, berusaha berbicara dan bertanya kepada Ozan, ada apa sebenarnya. Ozan yang sedang begitu emosional, terus menodongkan pistolnya ke arah Gulseren dengan tangan yang gemetaran.

*Sigap, Gulseren menampik pistol itu dari tangan Ozan. Pistol terjatuh ke lantai, Gulseren langsung mengambilnya, dan lanjut mengarahkan pistol tersebut ke kepalanya sendiri. Gulseren berkata dengan setengah berteriak sekaligus dengan nada yang tegas kepada Ozan, termasuk mengatakan kl dia mencintai Cihan. Ozan yang masih terlihat emosional dan gelagapan, di tengah tangisan dan kemarahannya, berusaha menyangkal semua yang dikatakan Gulseren dengan berteriak menyuruh Gulseren diam. Akan tetapi, Gulseren lebih tegas dengan segala responnya. Ozan menyuruh Gulseren untuk menurunkan pistolnya dari arah kepala Gulseren.

*Gulseren akhirnya menurunkan pistol itu ke bawah. Ozan menangis, begitu juga dengan Gulseren. Namun ketika Gulseren hendak memeluk Ozan, berniat ingin menenangkan, Ozan menolaknya dan langsung pergi meninggalkan apartemen Deriya. Lalu Gulseren menutup pintu dan menangis.

*Ozan berjalan menuruni tangga dengan langkah yang gontai, sambil terus menangis. Sempat duduk sebentar di pintu gerbang serambi apartemen sambil menggumamkan sesuatu, Ozan akhirnya berjalan meninggalkan apartemen dengan terus menangis. Scene yang benar-benar ironis dan memprihatinkan.  Ozan... Keinginanannya untuk melindungi sang ibu, tekadnya untuk bisa menyelamatkan rumah tangga orang tuanya, apapun Ozan tak bisa sepenuhnya disalahkan. Tapi bagaimanapun, dalam hidup ini tak semuanya berjalan sesuai  yang kau inginkan, Ozan... Belajarlah dan bersabarlah!!!

*Di kediaman Gurpinar, Dilara memberikan handuk kepada Cansu untuk mengeringkan rambutnya. Mereka berdua sedang berbicara di kamar. Cansu sedikit-banyak masih terlihat mendebat Dilara. Dan Dilara berusaha menanggapi Cansu sesabar mungkin.

*Di ruang keluarga Gurpinar, Nuray dan Keriman sedang berdebat. Ampun deh Keriman...!!! Ngomel dari kapan mulai, entah akan berhenti kapan... Hadddeh...

*Dilara menyuruh Emine untuk menyiapkan kamar bagi para ‘tamu kehormatan’, wkwkwkwkkk...

*Nuray yang sudah tidak sabar dan kebingungan karena sejak tadi didiamkan oleh tuan rumah di ruang keluarga, berteriak-teriak memanggil orang-orang yang ada di rumah tersebut. Hazal yang sedang tidur di kamarnya merasa terganggu dengan teriakan Nuray. Hazal bangun dari tempat tidurnya, berjalan menuju kursi rodanya. Ya elllah... Masih ingat saja dengan acara lumpuh bokisnya nie bocah satu,,

*Sema mempersilakan Nuray dan Keriman untuk segera menuju ke kamar yang telah disiapkan. Nuray seperti setengah mengeluh dan protes kepada Sema tentang sesuatu hal, tapi tampaknya Sema menanggapinya dengan santai..sambil lalu.

*Hazal muncul di ruang keluarga dan ketika melihat Keriman, gadis itu lanjut memanggilnya. Hadddoh... Langsung Keriman bertingkah layaknya artis yang lebay... Melihat kemunculan Hazal yang tiba-tiba, puar-puranya Keriman merasa terkejut, sok antusias, dan segera menghampiri Hazal dengan begitu rupa. Sayang yang diantusiasi sudah terlalu jengah melihat tingkah Keriman, wkwkwkwkkk..

*Cansu menyusul ke ruang tamu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Cansu melihat Hazal sedang berada di dekat Keriman. Hazal juga sempat mengatakan sesuatu kepada Cansu. Entah apa yang disampaikan, yang jelas dari muka Hazal ketika berbicara denagn Cansu, terlihat masam dan menjengkelkan.

*Keriman mengenalkan Hazal kepada Nuray. Nuray yang lebay nya sebelas-dua belas dengan Keriman, langsung menghambur mendekati Hazal untuk menciumi pipi Hazal. Dasar Hazal... Dia langsung menghapus dengan usapan tangannya, bekas ciuman pipi Nuray yang mendarat di kedua pipinya, hahha.. Keriman menjelaskan kepada Hazal , siapa Nuray. Nuray kemudian juga menunjukkan dan mengenalkan bayinya kepada Hazal.

*Di bengkel, Oskan merasa putus asa dan marah atas nasib yang sedang menimpanya sekarang. Gelas yang ada di atas meja pun ikut jadi korban amukan Oskan.

*Di kamar tamu, Keriman masih saja terus mengomel dan mengeluh, sementara Nuray sedang memberi minum dan menenangkan bayinya yang sedang dalam gendongannya. Nuray menyuruh Keriman mengambil air untuk mengisi botol.

*Secara tak sengaja, Keriman masuk ke kamar hazal dan duarrrrrrr... Keriman melihat Hazal bisa berdiri dan berjalan dengan kakinya sendiri. Keriman dan Hazal sama-sama terkejutnya, sampai-sampai botol air yang ada di tangan Keriman terlempar jatuh. Tapi tentu saja terkejutnya dengan alasannya sendiri-sendiri. Keriman terkejut bahagia melihat Hazal sudah bisa berjalan sendiri (entah ini ekspresi bahagia sungguhan atau lagak saja seperti biasanya, wwweew), tapi justru Hazal marah-marah karena melihat Keriman masuk ke kamarnya tanpa izin.

*Mendengar keributan di kamar Hazal, Dilara langsung menghampiri dan masuk ke kamar Hazal. Dilara menanyakan ada keributan apa kepada Hazal dan sempat sedikit curiga melihat sandal kamar Hazal. Hazal berdalih bahwa sebelumnya ia sempat jatuh dan Dilara kelihatannya percaya dengan jawaban dari Hazal. Untuk sementara, Dilara masih bisa diperdayai. Tapi tidak rupanya untuk Keriman. Kedipan mata Hazal kepada Keriman menandakan kl Keriman setingkat lebih ‘canggih’ dalam membaca tipu muslihat Hazal. Bahkan ketika Keriman berniat mengatakan apa yang tadi dilihatnya kepada Dilara, dengan cepat Hazal mengisyaratkan tutup mulut untuk Keriman.

*Di apartemen, Deriya masih berusaha untuk menenangkan Gulseren yang belum hilang dari rasa syoknya usai tadi insiden dengan Ozan. Deriya terus memberikan nasehat dan dukungannya kepada Gulseren.

*Gulseren mengambil pistol Ozan yang diletakkan di atas meja rias, di kamarnya. Gulseren kemudian menyimpan pistol tersebut di laci, di bawah handuk.

*Sementara itu, Ozan di kamarnya sedang berbaring dan memandangi foto-foto semasa ia kecil bersama denagn Cihan. Foto-foto itu tampak berserakahan. Ozan sesekali masih terlihat meneteskan air matanya. Ozan, berharap kau dapat mengambil hikmah di balik kenekadannya yang sempat kau lakukan tadi...

*Di dermaga, halaman belakang rumah, Cansu sedang berdiri sambil menelpon. Cansu berusaha untuk menghubungi ayahnya, namun sepertinya tak ada respon, mengingat ponsel Oskan yang ketinggalan di kedai milik Abidin kemarin.

*Cihan berjalan mendekati Cansu, berusaha mengajaknya bicara. Cansu masih terlihat malas menanggapi Cihan. Tapi Cihan terus mengajaknya bicara. Cansu kelihatannya masih marah dan berburuk sangka kepada Cihan. Dan Cihan terus berusaha meyakinkan putrinya tersebut. Cihan pada akhirnya sampai tega untuk membentak Cansu karena gadis itu makin keras kepala dengan pendapatnya. Cansu pun terlihat makin emosional dan bergegas pergi meninggalkan pembicaraannya dengan Cihan.

*Ozan bertemu dengan Keriman secara kebetulan ketika Keriman tak sengaja menabraknya, seusai Ozan menuang dan minum teh dari cangkirnya. Ozan yang terkejut dengan kehadiran Keriman di rumahnya, menanyakan kepada Keriman apa yang sedang dilakukan di rumah tersebut. Tentu saja Keriman sudah sudah siap dengan gaya penjelasannya kepada Ozan. Hhheeeiisstt...

*Gulseren sedang merias dan mematut diri di depan meja rias ketika Deriya masuk ke kamar untuk menyapanya. Gulseren bersiap-siap untuk pergi, kelihatannya untuk memenuhi panggilan wawancara kerja. Di antara obrolan Gulseren dan Deriya, sepertinya mereka menyinggung-nyinggung tentang Cansu. Oy, melihat Deriya itu selalu menyenangkan ya, Paramparca Fan... Kecantikan dan ketulusan hatinya kepada Gulseren berikut paket lesung pipit di pipinya, bikin setiap kali melihat Deriya jadi berasa adem..menarik, hehhe..

*Pagi itu, di kediaman Gurpinar... Dilara tampak begitu menawan, berbalut gaun tidur panjang berwarna merah marun... Dia lanjut berjalan dan berdiri di depan jendela ruang kelurga sambil membawa cangkir minumannya... Tampak dia menyapa dan berbicara dengan Cihan yang sedang duduk membaca koran di seberang ruangan, tak jauh dari tempat Dilara berdiri... Angin sepoi-sepoi yang menerpa rambut dan gaun Dilara, sumpahhh... Bikin Dilara terlihat makin istimewa!!! Seolah-olah dramatisasi angin itu ikut bercerita dan menegaskan, betapa menawannya sang nyonya rumah... Sayang sang suami seperti acuh saja dengan keindahan yang ada di dekatnya tersebut

*Di tempat lain, Harun dan Chandan sedang membicarakan Cihan. Nada-nada bicara penuh kemenangan dan kepuasan mewarnai pembicaraan mereka berdua. Tapi sesudahnya, ketika Chandan melanjutkan pembicaraannya tentang Cihan dan Dilara, dengan sekejap raut muka Harun berubah menjadi penuh ketegangan dan kelihatan menggumamkan sesuatu.

*Dilara dan Cihan masih berbicara di ruang keluarga. Ketika berniat akan mengakhiri pembicaraannya dengan Cihan dan ingin menemui Cansu, Cihan justru mengatakan kepada Dilara kl Cansu sedang pergi karena masih marah dengannya.

*Diantar Bachtiar, Cansu mendatangi bengkel tempat Oskan bekerja. Cansu mendapati Oskan masih tertidur di sebuah kursi, di dalam bengkel. Cansu beranjak membangunkan Oskan dan sejenak kemudian Oskan terbangun dan menyadari kl Cansu yang telah membangunkannya. Cansu mengajak Oskan bicara. Setelahnya, Oskan berjalan menuju ke sebuah wastafel untuk cuci muka dan lanjut mengeringkannya dengan handuk. Cansu hanya bisa terdiam sementara terus mengikuti kemana ayahnya berjalan. Oskan lalu menyuruhnya untuk duduk.

*Dilara marah kepada Cihan. Sepertinya kemarahan Dilara karena Cihan membiarkan Cansu untuk menemui Oskan. Cihan yang jengkel menyuruh Dilara diam sambil beranjak pergi dari ruangan. Dilara hanya bisa menggumam kesal melihat sikap Cihan pagi itu.

*Oskan dan Cansu melanjutkan pembicaraan mereka. Pasangan ayah-anak ini, sebenarnya juga tak kalah asyik dengan apabila kita melihat Cihan bersama putrinya, hehhe.. Oskan sepertinya berusaha menjelaskan kepada Cansu tentang perasaannya sebenarnya kepada putrinya. Lagi-lagi... Oskan menarik hati saiya di scene berikut ini... Di sela-sela isak tangisnya ketika berbicara dengan Cansu, Oskan terus berusaha meyakinkan Cansu untuk lebih baik kembali berada dalam pengasuhan Cihan, daripada bertahan bersama dirinya, tapi Oskan tidak sanggup mencukupi segala kebutuhan Cansu. Namun sepertinya Cansu juga tak mau kalah berkeras agar tetap dapat bertahan dengan ayah kandungnya. Hhmmm... Indah sekaligus mengharukan menonton scene ini...

*Harun dan Chandan sedang menikmati sarapan bersama. Chandan menyuruh Harun untuk duduk karena rupanya Harun terlihat lebih menikmati kopi dan membaca korannya sambil berdiri. Berdua saling serius, sambil sesekali terlihat becanda. Tak lupa kecupan manis di bibir turut ‘mampir’ menghangatkan pagi itu, wwweew... Harun kepada Chandan... Berasa hanya nafsu saja yang menghiasi keduanya, alih-alih terlihat sebagai pasangan yang tengah saling jatuh cinta.. Mungkin yang cinta Chandan nya doank, kl Harun ya jelas tidak, hahha...

*Soulmas bergegas membangunkan Alper yang masih tertidur pulas di bawah selimutnya. Diwarnai dengan pertengkaran, berdua ini serasi benar sebagai pasangan pecundang, wkwkwkwkk..

*Harun dan Chandan masih asyik dengan pembicaraannya. Kali ini giliran Dilara yang menjadi topik bahasannya.

*Soulmas menuangkan kopi di cangkir, untuk bersiap-siap sarapan. Tak lama Alper menyusul ke meja makan. Rupanya pertengkaran di kamar tadi masih berlanjut hingga ke meja makan. Alper dan Soulmas terus saling berdebat. Ada Harun disebut-sebut di antara pembicaraan mereka berdua.

*Cansu sempat berpapasan dengan Cihan di halaman rumah, seusai pulang dari menemui Oskan. Namun Cihan sama sekali tak digubrisnya. Masuk ke dalam rumah, pun dengan Dilara yang ketika menyapa Cansu gadis itu malah langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Terdengar Cansu menangis. Dilara berusaha mengajak Cansu bicara, tapi Cihan menyuruh Dilara untuk mengurungkan niatnya terlebih dahulu. Sementara di kamarnya, Cansu masih terus menangis.



NEXT: Gulseren terancam hampir diperkosa oleh seorang laki-laki ketika sedang melakukan wawancara kerja.

Kamis, 30 Juni 2016

#AniesWidiyarti_PertemuanKembaliDenganYangTercinta_CnH2_8 Hhmmm... Ada kisah tentang Bunga Erguvan dan Anggur Kroasia sebagai pemecah kebuntuan setelah 20 tahun tak saling bertemu dan menyapa. Tak apalah jika di balik sebuah pertemuan indah itu sebenarnya ada aroma konspirasi, nikmati saja dulu sajiannya. Tak mengecewakan bukan??! Setelah selama ini terbiasa hanya melihat Dilara dalam kondisi putus asa mengejawantahkan antara cinta, kasih sayang, dan harga diri, kini dengan dibantu seorang Harun Erguvan, bahkan kita disuguhi sorot mata Dilara yang lain dari yang biasanya. Masih tampak tegang dan kaku, tapi jelas di balik ketegangan dan kekauan tersebut, ada makna di masa lalu yang sungguh berarti untuk Dilara dan juga Harun. Ahh, saking terpananya saya, sampai lupa beberapa baris kalimat-kalimat romantis yang dilontarkan oleh Harun untuk mengenang masa-masa indahnya dulu bersama Dilara. “Berapa lama kita tidak bertemu, Harun?” “20 tahun atau tepatnya setelah 20 kali bunga Erguvan mekar dan bersemi...” Bla..bla..bla...  Duh, Harun... Romantisnya ternyata sebelas-dua belas dengan saingan beratnya, wkwkwkwkkk... Hanya bedanya, keromantisan Harun terbungkus rapi di balik dingin dan liciknya sorot mata, sedangkan Cihan... Kl yang satu ini berasa romantisnya terpancar sedemikian rupa dari tutur kata dan tindak-tanduknya sehari-hari... Mo pilih mana, Paramparca Fan? Wkwkwkwkwkkk...


Harun Erguvan... Ternyata di balik nama belakang itu mengandung unsur keindahan yang bernuansa ungu dan cantik. Yupz, Erguvan Flower atau Judas Tree... Bunga berwarna dominan ungu ini sepintas mirip anggrek atau juga Bunga Sakura di Jepang... Cantik dan hanya mekar satu kali dalam setahun... Semestinya memang Harun mempunyai keindahannya sendiri, jika tidak ada dendam masa lalu yang menyelimuti. Sukaaa dengan mata Harun yang tiba-tiba bersorot redup dan  penuh cinta ketika sedang menatap Dilara. Perbincangannya dengan Dilara pun untuk pertama kalinya setelah 20 tahun tak bertemu, untuk sementara ini berjalan lancar. Perbincangan dengan latar pemandangan dari tingkat atas sebuah gedung yang sangat tinggi..indah nian pemandangan yang tampak di luar. Berasa Burj Dubai dipindah ke Istanbul, wkwkwkwkkk... Saking lihai dengan keindahannya, bahkan Harun sudah berhasil mendapatkan nomor telepon Dilara saat itu juga. Makin indah bukan permainan yang akan dimainkan?! Wkwkwkwkkk... Yuk mariii... Lets start the game, beibeh...!!!


Akan tetapi untuk Rahmi yang tetap nekad bermain-main dan mempermainkan Cihan, selalu ada cerita skak mat di kemudian hari. Yach, si kakek... Pintar sekali dia memutarbalikkan fakta dan bersilat lidah di hadapan Cihan. Maksud hati ingin menaikkan citra Dilara sebagi ibu dan menjatuhkan Gulseren sedemikian hingga, tapi niat busuk itu tetap terbaca oleh anaknya. Berkali-kali dia memperingatkan Cihan akan bahaya Gulseren untuk kehidupannya kelak, berulang kali juga Cihan membalikkan kepada ayahnya tentang fakta-fakta di masa lalu. Dan sekali lagi, Rahmi hampir selalu tak bisa berkata-kata kl Cihan sudah memojokkan ayahnya dengan masa lalu tragis dan menyakitkan. Bukan bermaksud untuk kualat, Kakek... Tapi kau sebagai seorang ayah apalagi kakek, sikap dan kata-katamu terlampau tendensius, berat sebelah, dan tak mengayomi. Seperti kata Cihan, jadilah ayah yang baik bagiku. Hanya itu, Rahmi!!! Kl masih nekad berulah, bayar sendiri tuh nanti utang-utangmu, wkwkwkwkkk...


Seberapa sulitkah untuk menjadi ayah yang baik? Kiranya Oskan sedang dalam pengujiannya. Benarkah seorang ayah yang baik hanya mereka yang mampu mencukupi kebutuhan anaknya secara materi? Lantas benarkah kesempatan Oskan untuk ‘meraih’ Cansu sudah habis seiring uang simpanannya di bank ratusan ribu lira diblokir oleh kantor pajak? Ahh, Oskan... Nasibmu... Ketika dirasa ini saat yang paling tepat kl kau tidak ingin kalah saing dengan Cihan Gurpinar, malah halangannnya ada saja... Tapi ini mungkin juga sebagai teguran dan ujian dari Yang Kuasa... Bukannya bermaksud berprasangka buruk, masak kau akan memberi makan dan kemewahan Cansu dengan uang hasil kompensasi rumah sakit atas tertukarnya Cansu dan Hazal dulu... Pendek kata, uang itu tidak sepenuhnya barokah, jadi enyahkan pikiran untuk menggunakannya sebagai kesenangan atau lambang kasih sayang. Bahkan mungkin uang yang kau hitung dengan tangisan tadi lebih pantas untuk kau banggakan di depan Cansu... Setidak-tidaknya, jadikan momentum ini untuk berubah, Oskan... Ada dua anak yang menjadi tanggung jawabmu... Tak melulu soal materi, meski itu merupakan bagian yang penting dan tak bisa dielakkan... Tapi berjanjilah kepada dirimu sendiri, bahwa kau harus bisa jadi seorang ayah yang bisa dibanggakan Cansu dan adiknya. Agar kelak kau tidak hanya dipandang sebelah mata oleh Cihan Gurpinar. Dan seandainya kau harus rebutan Cansu dengan Cihan, kau punya posisi tawar yang sama kuat dengan laki-laki kaya dan kharismatik tersebut. Jangan jadikan status anak kandung sebagai satu-satunya jalan untuk melegitimasi Cansu menjadi milikmu sepenuhnya. Apa gunanya ayah kandung jika ia tidak bisa berjuang dan memerjuangkan nasib keluarganya?!!


Dan seharusnya memang Oskan bersyukur, karena anak yang menjadi darah dagingnya adalah Cansu. Cansu yang keras kepala tapi dia bisa bertahan dan enjoy dengan keputusan yang diambilnya. Andai anak Oskan yang sebenarnya itu adalah Hazal... Hadddeh... Bisa-bisa kiamat berkali-kali terjadi antara ayah dan anak. Hazal si drama queen, yang rasa-rasanya belum akan ada kapoknya memerdayai keluarganya sendiri. Good, Dilara!!! Karena sekarang kau berkesempatan ‘membawahi’ Hazal, berilah dia ketegasan. Terserah Hazal akan membandingkanmu lagi dengan Gulseren, tapi bolehlah ketegasanmu itu sekarang kau terapkan untuk anak gadismu yang pandai berbohong tersebut. Toh, Hazal membanding-bandingkanmu dengan Gulseren hanya untuk ‘drama’ saja. Enak saja semua orang harus punya sifat seperti Gulseren untuk memperlakukanmu, Hazal. Drama queen seperti dirimu sekali-kali butuh berhadapan dengan orang yang dua kali keras kepalanya. Usia belum seberapa, tapi otak manipulatifnya bahkan mengalahkan seorang hipokrit kelas kakap. Kaki lumpuh seakan-akan dijadikan bahan perangkap untuk keluarganya agar mau terus untuk memerhatikannya. Padahal lumpuhnya hanya bo’ongan. Bukan bermaksud untuk menyumpahi, kiranya Tuhan Yang Maha Tahu akan memperhitungkannya kelak untuk semua perbuatanmu, Hazal. Seakan-akan memang sudah digariskan, mo kau berakting kakimu sampai patah dan harus diamputasi, tetap Cansu itu yang paling di hati semuanya, hahaha... Kau pikir dengan tidak adanya Cansu di rumah ayah dan ibumu, lau perhatian otomatis akan tercurah semua kepadamu?? Yach, Hazal... Yang namanya sudah di hati, kl hilang justru akan semakin dicari-cari... Wkwkwkwkkk... Bersyukur kau punya ayah Cihan Gurpinar, sementara menurutmu yang lainnya seperti tidak pernah cukup di hadapanmu, Cihan masih menyempatkan bercengkerama, memeluk, dan mengecup keningmu, dengan rasa sayang yang tak disangsikan lagi.


Lalu apa kabar Cansu dengan pilihannya untuk sementara ini?? Hidup seadanya bersama dengan Keriman dan kebawelannya yang tingkat Istanbul, wkwkwkwkkk... Sekali lagi seperti yang dikatakan Cihan di depan Gulseren, bahwa Cansu itu keras kepala, tapi dia akan bertahan dengan apa yang sudah dijalaninya. Meskipun di balik itu ada kesan semacam pembuktian bercampur kemarahan, tapi biarlah itu untuk sementara berjalan demikian... Apa sie beratnya menjemur selimut di jendela, hehhe.. Pahit hari ini, manis di kemudian hari, Cansu...


Tak berat juga kan untuk sekadar membuat secangkir kopi dan teh sendiri, Alper? Wkwkwkwkkk... Orang sombong teriak disombongin... Rasakan kau, Alper... Kini ada yang sekelas Harun yang lebih garang dan tak bisa gampang kau permainkan. Masih untung dikasih pekerjaan dan ruangan sendiri... Duh, berharapnya... Itu lhoooh, Soulmaz di rumah sedang mencuci piring sendiri,... Wkwkwkwkwkkk... Sosialita cuci piring nie yeee... Lha koq tidak beda jauh dengan saiya, hahahaaa... Have a nice Thursday... Salam hangat.

 
17.14.00 Unknown
#AniesWidiyarti_PertemuanKembaliDenganYangTercinta_CnH2_8 Hhmmm... Ada kisah tentang Bunga Erguvan dan Anggur Kroasia sebagai pemecah kebuntuan setelah 20 tahun tak saling bertemu dan menyapa. Tak apalah jika di balik sebuah pertemuan indah itu sebenarnya ada aroma konspirasi, nikmati saja dulu sajiannya. Tak mengecewakan bukan??! Setelah selama ini terbiasa hanya melihat Dilara dalam kondisi putus asa mengejawantahkan antara cinta, kasih sayang, dan harga diri, kini dengan dibantu seorang Harun Erguvan, bahkan kita disuguhi sorot mata Dilara yang lain dari yang biasanya. Masih tampak tegang dan kaku, tapi jelas di balik ketegangan dan kekauan tersebut, ada makna di masa lalu yang sungguh berarti untuk Dilara dan juga Harun. Ahh, saking terpananya saya, sampai lupa beberapa baris kalimat-kalimat romantis yang dilontarkan oleh Harun untuk mengenang masa-masa indahnya dulu bersama Dilara. “Berapa lama kita tidak bertemu, Harun?” “20 tahun atau tepatnya setelah 20 kali bunga Erguvan mekar dan bersemi...” Bla..bla..bla...  Duh, Harun... Romantisnya ternyata sebelas-dua belas dengan saingan beratnya, wkwkwkwkkk... Hanya bedanya, keromantisan Harun terbungkus rapi di balik dingin dan liciknya sorot mata, sedangkan Cihan... Kl yang satu ini berasa romantisnya terpancar sedemikian rupa dari tutur kata dan tindak-tanduknya sehari-hari... Mo pilih mana, Paramparca Fan? Wkwkwkwkwkkk...


Harun Erguvan... Ternyata di balik nama belakang itu mengandung unsur keindahan yang bernuansa ungu dan cantik. Yupz, Erguvan Flower atau Judas Tree... Bunga berwarna dominan ungu ini sepintas mirip anggrek atau juga Bunga Sakura di Jepang... Cantik dan hanya mekar satu kali dalam setahun... Semestinya memang Harun mempunyai keindahannya sendiri, jika tidak ada dendam masa lalu yang menyelimuti. Sukaaa dengan mata Harun yang tiba-tiba bersorot redup dan  penuh cinta ketika sedang menatap Dilara. Perbincangannya dengan Dilara pun untuk pertama kalinya setelah 20 tahun tak bertemu, untuk sementara ini berjalan lancar. Perbincangan dengan latar pemandangan dari tingkat atas sebuah gedung yang sangat tinggi..indah nian pemandangan yang tampak di luar. Berasa Burj Dubai dipindah ke Istanbul, wkwkwkwkkk... Saking lihai dengan keindahannya, bahkan Harun sudah berhasil mendapatkan nomor telepon Dilara saat itu juga. Makin indah bukan permainan yang akan dimainkan?! Wkwkwkwkkk... Yuk mariii... Lets start the game, beibeh...!!!


Akan tetapi untuk Rahmi yang tetap nekad bermain-main dan mempermainkan Cihan, selalu ada cerita skak mat di kemudian hari. Yach, si kakek... Pintar sekali dia memutarbalikkan fakta dan bersilat lidah di hadapan Cihan. Maksud hati ingin menaikkan citra Dilara sebagi ibu dan menjatuhkan Gulseren sedemikian hingga, tapi niat busuk itu tetap terbaca oleh anaknya. Berkali-kali dia memperingatkan Cihan akan bahaya Gulseren untuk kehidupannya kelak, berulang kali juga Cihan membalikkan kepada ayahnya tentang fakta-fakta di masa lalu. Dan sekali lagi, Rahmi hampir selalu tak bisa berkata-kata kl Cihan sudah memojokkan ayahnya dengan masa lalu tragis dan menyakitkan. Bukan bermaksud untuk kualat, Kakek... Tapi kau sebagai seorang ayah apalagi kakek, sikap dan kata-katamu terlampau tendensius, berat sebelah, dan tak mengayomi. Seperti kata Cihan, jadilah ayah yang baik bagiku. Hanya itu, Rahmi!!! Kl masih nekad berulah, bayar sendiri tuh nanti utang-utangmu, wkwkwkwkkk...


Seberapa sulitkah untuk menjadi ayah yang baik? Kiranya Oskan sedang dalam pengujiannya. Benarkah seorang ayah yang baik hanya mereka yang mampu mencukupi kebutuhan anaknya secara materi? Lantas benarkah kesempatan Oskan untuk ‘meraih’ Cansu sudah habis seiring uang simpanannya di bank ratusan ribu lira diblokir oleh kantor pajak? Ahh, Oskan... Nasibmu... Ketika dirasa ini saat yang paling tepat kl kau tidak ingin kalah saing dengan Cihan Gurpinar, malah halangannnya ada saja... Tapi ini mungkin juga sebagai teguran dan ujian dari Yang Kuasa... Bukannya bermaksud berprasangka buruk, masak kau akan memberi makan dan kemewahan Cansu dengan uang hasil kompensasi rumah sakit atas tertukarnya Cansu dan Hazal dulu... Pendek kata, uang itu tidak sepenuhnya barokah, jadi enyahkan pikiran untuk menggunakannya sebagai kesenangan atau lambang kasih sayang. Bahkan mungkin uang yang kau hitung dengan tangisan tadi lebih pantas untuk kau banggakan di depan Cansu... Setidak-tidaknya, jadikan momentum ini untuk berubah, Oskan... Ada dua anak yang menjadi tanggung jawabmu... Tak melulu soal materi, meski itu merupakan bagian yang penting dan tak bisa dielakkan... Tapi berjanjilah kepada dirimu sendiri, bahwa kau harus bisa jadi seorang ayah yang bisa dibanggakan Cansu dan adiknya. Agar kelak kau tidak hanya dipandang sebelah mata oleh Cihan Gurpinar. Dan seandainya kau harus rebutan Cansu dengan Cihan, kau punya posisi tawar yang sama kuat dengan laki-laki kaya dan kharismatik tersebut. Jangan jadikan status anak kandung sebagai satu-satunya jalan untuk melegitimasi Cansu menjadi milikmu sepenuhnya. Apa gunanya ayah kandung jika ia tidak bisa berjuang dan memerjuangkan nasib keluarganya?!!


Dan seharusnya memang Oskan bersyukur, karena anak yang menjadi darah dagingnya adalah Cansu. Cansu yang keras kepala tapi dia bisa bertahan dan enjoy dengan keputusan yang diambilnya. Andai anak Oskan yang sebenarnya itu adalah Hazal... Hadddeh... Bisa-bisa kiamat berkali-kali terjadi antara ayah dan anak. Hazal si drama queen, yang rasa-rasanya belum akan ada kapoknya memerdayai keluarganya sendiri. Good, Dilara!!! Karena sekarang kau berkesempatan ‘membawahi’ Hazal, berilah dia ketegasan. Terserah Hazal akan membandingkanmu lagi dengan Gulseren, tapi bolehlah ketegasanmu itu sekarang kau terapkan untuk anak gadismu yang pandai berbohong tersebut. Toh, Hazal membanding-bandingkanmu dengan Gulseren hanya untuk ‘drama’ saja. Enak saja semua orang harus punya sifat seperti Gulseren untuk memperlakukanmu, Hazal. Drama queen seperti dirimu sekali-kali butuh berhadapan dengan orang yang dua kali keras kepalanya. Usia belum seberapa, tapi otak manipulatifnya bahkan mengalahkan seorang hipokrit kelas kakap. Kaki lumpuh seakan-akan dijadikan bahan perangkap untuk keluarganya agar mau terus untuk memerhatikannya. Padahal lumpuhnya hanya bo’ongan. Bukan bermaksud untuk menyumpahi, kiranya Tuhan Yang Maha Tahu akan memperhitungkannya kelak untuk semua perbuatanmu, Hazal. Seakan-akan memang sudah digariskan, mo kau berakting kakimu sampai patah dan harus diamputasi, tetap Cansu itu yang paling di hati semuanya, hahaha... Kau pikir dengan tidak adanya Cansu di rumah ayah dan ibumu, lau perhatian otomatis akan tercurah semua kepadamu?? Yach, Hazal... Yang namanya sudah di hati, kl hilang justru akan semakin dicari-cari... Wkwkwkwkkk... Bersyukur kau punya ayah Cihan Gurpinar, sementara menurutmu yang lainnya seperti tidak pernah cukup di hadapanmu, Cihan masih menyempatkan bercengkerama, memeluk, dan mengecup keningmu, dengan rasa sayang yang tak disangsikan lagi.


Lalu apa kabar Cansu dengan pilihannya untuk sementara ini?? Hidup seadanya bersama dengan Keriman dan kebawelannya yang tingkat Istanbul, wkwkwkwkkk... Sekali lagi seperti yang dikatakan Cihan di depan Gulseren, bahwa Cansu itu keras kepala, tapi dia akan bertahan dengan apa yang sudah dijalaninya. Meskipun di balik itu ada kesan semacam pembuktian bercampur kemarahan, tapi biarlah itu untuk sementara berjalan demikian... Apa sie beratnya menjemur selimut di jendela, hehhe.. Pahit hari ini, manis di kemudian hari, Cansu...


Tak berat juga kan untuk sekadar membuat secangkir kopi dan teh sendiri, Alper? Wkwkwkwkkk... Orang sombong teriak disombongin... Rasakan kau, Alper... Kini ada yang sekelas Harun yang lebih garang dan tak bisa gampang kau permainkan. Masih untung dikasih pekerjaan dan ruangan sendiri... Duh, berharapnya... Itu lhoooh, Soulmaz di rumah sedang mencuci piring sendiri,... Wkwkwkwkwkkk... Sosialita cuci piring nie yeee... Lha koq tidak beda jauh dengan saiya, hahahaaa... Have a nice Thursday... Salam hangat.

 

Rabu, 22 Juni 2016

#sinopsis_cansuhazal2_eps3
#paramparca2_bolum32part2
Tayang: Rabu, 22 Juni 2016
0leh : Anies Widiyarti. Bersama Debby Arin Anggraini, Anisa Puji Rahayu, Indrie Puspita, Intan Hapsari.



*Selepas dibebaskan dari penjara, Ozan berada di kantor ayahnya untuk menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya. Dengan ditemani Yildirim, Cihan mendengarkan semua penjelasan dari anaknya tersebut.

*Sementara itu di kediaman Gurpinar, pasca ribut-ribut ketika Gulseren dicegah pergi oleh Cihan dan Cansu, Gulseren dan Cansu sedang bicara berdua di dalam kamar. Pasangan ibu dan anak ini terlihat sangat serasi, nyaman, dan saling menenangkan satu sama lain.

*Balik ke kantor Cihan, Ozan menjelaskan kepada ayahnya dan juga Yildirim kronologis peristiwa sebelum akhirnya dia ditangkap dengan tuduhan membawa narkoba sewaktu di diskotik. Di tengah-tengah pembicaraan, Yildirim dan Cihan mencoba menyinggung sekaligus menghubung-hubungkan antara masalah penjebakan Ozan dengan peristiwa meledaknya bom di garasi rumah Cihan. Ozan yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut sekaligus bingung dengan kabar yang disinggung oleh ayahnya dan juga Yildirim.

*Rahmi baru saja pulang ke rumah dan merasa bingung dengan keramaian di sekitar kediaman Gurpinar. Rahmi kemudian bertanya kepada Mustafa, salah satu staf keamanan yang sedang bertugas, tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi.

*Alper dan Soulmas datang mengunjungi Dilara dengan bergaya sok ikut prihatin dengan musibah yang telah terjadi di kediaman Gurpinar. Mereka berdua sempat bertemu dengan Gulseren yang secara kebetulan tengah berjalan di ruang depan.

*Cihan mengantar Ozan pulang ke rumah. Cihan juga masih sempat bertemu denagn Alper dan Soulmas. Sementara ayahnya berbincang dengan Alper dan Soulmas, Ozan langsung masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Dilara di ruang depan. Setelahnya, Ozan pergi menemui Hazal di kamarnya. Di sinilah Ozan bertemu dengan Gulseren. Tak ada sepatah katapun yang terucap, bahkan Gulseren justru merasa sangat rikuh ketika bertatap muka dengan sulung dari Cihan dan Dilara tersebut.

*Ozan kembali ke ruang tv untuk berbicara dengan Dilara. Di antara pembicaraan tersebut, mereka berdua menyinggung-nyinggung tentang Gulseren dan keberadaannya di rumah megah itu.

*Chandan sedang sibuk mempersiapkan kedatangan Harun di Istanbul. Hhmmm... Siapa itu Harun? Kita lihat saja nanti ya, hahha... Chandan menyuruh beberapa staf rumah tangga untuk membersihkan dan membereskan sebuah ruangan. Mungkin ini nanti bakal dipakai jadi tempat tinggalnya si Harun itu...

*Rahmi kembali menemui temannya, melanjutkan pembicaraan sebelumnya tentang tanggungan-tanggungan Rahmi selama masih berada di Rusia dan Ukraina.

*Cihan berbicara dengan Azmi, menanyakan tentang Rahmi. Tak lama kemudian, Cihan menelpon ayahnya tersebut. Rahmi yang sedang serius berbicara dengan temannya menjadi tampak sedikit gugup ketika mengangkat telpon dari Cihan.

*Keriman, Nuray, dan Engin berada di rumah sakit untuk menemani Oskan yang sedang menjalani operasi. Selesai operasi, Nuray masuk ke ruangan ICU menemui Oskan, sambil membawa anaknya yang masih bayi.  Eeeaalllah... Malah Keriman main nylonong saja, ikut-ikutan masuk ke ruangan ICU. Karena kehebohan Keriman juga, akhirnya perawat menyuruh Nuray dan Keriman keluar dari ruangan ICU dan hanya diperbolehkan melihat Oskan dari balik kaca. Akan tetapi, Oskan meminta kepada perawat untuk membawa anaknya masuk kembali ke ruangan ICU. Ya elllah, si botak... Bisa nangis terharu juga eeuuyyy... Melihat anaknya yang sedang dalam gendongan sang perawat.

*Di kediaman Gurpinar, Gulseren sedang berada di kamar Hazal untuk membantu menjalin rambut anak perempuannya tersebut. Hhmmm... Pemandangan yang sederhana, tapi tetap terlihat manis dan mengesankan. Coba, apa pernah Dilara melakukan itu kepada Cansu atau juga Hazal??! Tak lama setelah Gulseren selesai dengan jalinan rambut Hazal, Emine masuk ke kamar mereka untuk memberitahukan bahwa Gulseren dan Hazal sudah ditunggu oleh Cihan di ruang keluarga.

*Ternyata Cihan bermaksud untuk membicarakan tentang kejadian mencekam yang telah terjadi di rumah itu bersama dengan seluruh anggota keluarga. Gulseren yang semula tampak hanya berdiri di belakang kursi roda Hazal, dipaksa Cihan untuk duduk seperti halnya yang lain. Sepintas Dilara dengan lirikannya, terlihat tidak suka dengan ikutnya Gulseren di pertemuan keluarga malam itu. Selain Dilara, Ozan rupanya juga merasa tidak nyaman dengan kehadiran Gulseren. Ingatannya justru kembali kepada sewaktu dia dan Dilara membicarakan Gulseren di siangnya. Dilara akhirya meninggalkan ruangan itu sebagai tanda bahwa ia tidak sependapat dengan semua yang dikatakan Cihan. Menyusul kemudian Ozan yang meninggalkan ruang keluarga tersebut.

*Cihan akhirnya menyusul Dilara ke kamar. Mereka rupanya masih melanjutkan perdebatan tentang Gulseren . Berdua itu, hhheeiissstt... Saling kekeuh dengan pendiriannya sendiri-sendiri...

*Di rumah sakit, Oskan menyuruh Engin untuk memanggil Nuray dan bayinya agar menemuinya di ruangan ICU.  Lagi-lagi... Keriman tiba-tiba datang untuk menyela dan menghantui, wkwkwkwkwkwkkk...

*Cihan dan Rahmi melakukan pembicaraan di ruangan kerja Cihan. Pasangan ayah dan anak ini sepertinya memang ditakdirkan untuk saling tidak akur satu sama lain. Dasarnya Rahmi sebagai orang tua tidak bisa memposisikan dirinya  sebagaimana mestinya sebagai orang tua yang baik kepada Cihan, makanya setiap kali mereka terlibat pembicaraan selalu berakhir dengan lebih banyak ricuhnya, hhhuufft... Seperti juga pembicaraan malam itu di ruang kerja, perselisihan antara Cihan dan ayahnya tak bisa terelakkan lagi. Bahkan secara tidak sengaja, Dilara pun kebagian juga suara-suara keras dari ruang kerja suaminya tersebut. Dilara  akhirnya memutuskan untuk masuk dan bermaksud untuk menengahi. Dilara yang cenderung berpihak kepada sang ayah mertua, justru akhirnya ikut kebagian bentakan dari Cihan.

*Selepas berselisih paham dengan ayah dan istrinya, Cihan menemui Cansu di kamarnya. Gadis manis yang tengah gundah-gulana sambil duduk di dekat jendela kamarnya itu akhirnya mendapat pelukan hangat lagi berikut kalimat-kalimat menyejukkan hati dari sang ayah. Selalu suka ketika Cihan memanggil dua putrinya dengan sebutan, “guzel kisim” atau juga “janem benim”... Iiih..iihh... Mendadak ingin jadi Cansu saja, alih-alih ngidam pengen jadi Gulseren, wkwkwkwkwkwkkk..

*Sementara Cihan bersama Cansu, di kamar lainnya, Hazal sedang dipijat kakinya oleh Gulseren, sambil terus saling bicara.

*Ketika Gulseren sudah meninggalkan kamar, Hazal mencoba untuk berdiri dari kursi rodanya, berusaha berjalan sendiri sebisanya. Dan kejutannya, Hazal ternyata sudah bisa berdiri sendiri, walaupun belum sempurna benar. Pijatan tangan Gulseren di kaki Hazal sepertinya membawa efek yang luar biasa ya, hehhe..

*Di dapur, Gulseren sedang mencari makanan/buah di kulkas untuk diberikan kepada Hazal. Emine yang kebetulan melihat Gulseren, turut membantu. Diam-diam Dilara mengamati dan mendengarkan pembicaraan antara Emine dan Gulseren. Raut wajah tidak suka ditunjukkan Dilara ketika melihat Gulseren masih saja berkeliaran di rumahnya, wwweew...

*Cihan dan Dilara di kamarnya sendiri-sendiri seperti sedang tenggelam dalam lamunan mereka. Ozan sempat datang menghampiri ibunya di kamar untuk sekadar menenangkan dan memberikan semangat kepada Dilara.

*Gulseren yang sedang tidur di samping Hazal, begitu terkejut dengan kehadiran Cihan yang tiba-tiba ke kamar Hazal. Duh, ini dia yang selalu sukses bikin saiya baperrr... Pandangan mata dalam diam antara Cihan dan Gulseren dan juga sekadar sentuhan lembut di tangan Gulseren dari Cihan... Berasa yang lembut dan simpel tersebut, berdampak selangit dan menentramkan jiwa, uuuuuggghhh...

*Chandan menjemput Harun di bandara. Di scene ini, jangan lewatkan untuk mendengar musik ilustrasinya yang keren dan seolah-olah ikut mendukung suasana yang dimaksudkan, hehhe...
Harun dan Chandan akhirnya berteu dan meneruskan perjalanan mereka dengan Range Rover hitam mengkilat.

*Pagi di kediaman Gurpinar, Emine menyapa Gulseren dan Hazal di kamar.

*Keriman si tukang makan, sedang menunggui Oskan di samping tempat tidur sambil mulut yang tak lepas untuk mengunyah bermacam-macam makanan yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian, Nuray datang menyusul ke kamar membawa serta bayinya. Ketika perawat datanag untuk menyampaikan sesuatu, Keriman, Nuray, dan Oskan tampak sedikit kebingungan, lalu berubah panik, dan akhirnya kaget kemudian, wkwkwkwkkk... Entah apa yang mereka omongkan... Mungkin perawat menyinggung soal tagihan rumah sakit, hahha...

*Di ruang makan keluarga Gurpinar, Ozan dan Dilara sedang bersiap-siap untuk sarapan. Kembali ibu dan anak ini membicarakan tentang Gulseren.

*Ketika sang istri sedang bersiap untuk sarapan, Cihan justru di ruangan kerjanya sedang serius bersama Yildirim membaca koran terbaru yang memuat berita tentang kejadian mencekam yang terjadi kemarin di rumahnya. Ozan sempat datang menyusul ke ruangan kerja ayahnya.

*Sesaat setelah meakukan pembicaraan dengan Yildirim, Cihan bergegas menuju ke ruang makan untuk sarapan. Yildirim menyempatkan untuk menyapa semua yang di ruang makan. Sempat ditawari Dilara untuk sekaliyan ikut sarapan, namun Yildirim menolaknya dan memilih untuk segera pamit undur diri.

*Di meja makan, Dilara sepertinya kembali menyulut perselisihan, hingga akhirnya Cansu memilih untuk meninggalkan meja makan, bahkan sebelum gadis itu menyantap sarapannya. Cihan pun ikut-ikutan kesal dengan sikon yang baru saja terjadi tadi. Lain halnya dengan Hazal... Gadis berparas culas tersebut justru seolah-olah menambah keruh suasana dengan umpatan-umpatannya. Hhhhhhhh...

*Cihan menelpon Ozan yang sedang santai sambil jogging di tepian Bosphorus.

*Dilara meenghampiri Cansu di kamarnya untuk berusaha menenangkan sekaligus menetralkan suasana, selepas yang tidak menyenangkan tadi di meja makan. Tapi Cansu sudah terlanjur kecewa dengan sikap Dilara. Perdebatan kembali terjadi antara Cansu dan Dilara dan lagi-lagi Gulseren lah yang menjadi isu utamanya. Sampai akhirnya Cansu nekad untuk mengusir Dilara dari kamarnya.

*Keriman datang menemui Chandan di kantornya untuk membicarakan masalah Oskan. Chandan kemudian memberikan selembar kertas kepada Keriman. Apa itu isi lembaran kertasnya? Ntar tonton saja sendiri, hehhe..

*Dilara kembali bertemu dengan Gulseren yang sedang merapikan kamar Hazal. Kali ini Dilara rupanya lebih sibuk dengan pembicaraannya di telpon daripada memulai perdebatan lagi dengan Gulseren. Tapi teteup... Tatapan mata Dilara yang tajam kepada Gulseren, sudah mewakilkan segala kebencian yang ada, eeeyyyaaa...

*Justru yang sedang terlibat pertengkaran adalah Cansu dan Hazal. Hazal yang tiba-tiba muncul dengan kursi rodanya ketika Cansu sedang menelpon dan terdengar menyebutkan nama Hazal, langsung saja menyerang Cansu dengan kalimat-kalimat pedasnya. Gadis berambut pirang ini memang selalu ribet dengan prasangka-prasangka jeleknya berikut watak emosionalnya yang ngeselin.  Hhhaah... Pertengkaran itu akhirnya mereda ketika Dilara datang untuk melerai kedua putrinya. Seperti biasa, sang drama queen kembali menunjukkan kebolehannya... Akting..akting... Seolah-olah dia sudah berusaha manis di hadapan Cansu hingga akhirnya justru Cansu yang terlihat ‘setan’ di hadapan Dilara. Pada akhirnya, Cansu memilih untuk meninggalkan Dilara dan Hazal berdua saja di ruang keluarga.

NEXT: Harun menelpon Cihan.

17.01.00 Unknown
#sinopsis_cansuhazal2_eps3
#paramparca2_bolum32part2
Tayang: Rabu, 22 Juni 2016
0leh : Anies Widiyarti. Bersama Debby Arin Anggraini, Anisa Puji Rahayu, Indrie Puspita, Intan Hapsari.



*Selepas dibebaskan dari penjara, Ozan berada di kantor ayahnya untuk menjelaskan duduk permasalahan sebenarnya. Dengan ditemani Yildirim, Cihan mendengarkan semua penjelasan dari anaknya tersebut.

*Sementara itu di kediaman Gurpinar, pasca ribut-ribut ketika Gulseren dicegah pergi oleh Cihan dan Cansu, Gulseren dan Cansu sedang bicara berdua di dalam kamar. Pasangan ibu dan anak ini terlihat sangat serasi, nyaman, dan saling menenangkan satu sama lain.

*Balik ke kantor Cihan, Ozan menjelaskan kepada ayahnya dan juga Yildirim kronologis peristiwa sebelum akhirnya dia ditangkap dengan tuduhan membawa narkoba sewaktu di diskotik. Di tengah-tengah pembicaraan, Yildirim dan Cihan mencoba menyinggung sekaligus menghubung-hubungkan antara masalah penjebakan Ozan dengan peristiwa meledaknya bom di garasi rumah Cihan. Ozan yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut sekaligus bingung dengan kabar yang disinggung oleh ayahnya dan juga Yildirim.

*Rahmi baru saja pulang ke rumah dan merasa bingung dengan keramaian di sekitar kediaman Gurpinar. Rahmi kemudian bertanya kepada Mustafa, salah satu staf keamanan yang sedang bertugas, tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi.

*Alper dan Soulmas datang mengunjungi Dilara dengan bergaya sok ikut prihatin dengan musibah yang telah terjadi di kediaman Gurpinar. Mereka berdua sempat bertemu dengan Gulseren yang secara kebetulan tengah berjalan di ruang depan.

*Cihan mengantar Ozan pulang ke rumah. Cihan juga masih sempat bertemu denagn Alper dan Soulmas. Sementara ayahnya berbincang dengan Alper dan Soulmas, Ozan langsung masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Dilara di ruang depan. Setelahnya, Ozan pergi menemui Hazal di kamarnya. Di sinilah Ozan bertemu dengan Gulseren. Tak ada sepatah katapun yang terucap, bahkan Gulseren justru merasa sangat rikuh ketika bertatap muka dengan sulung dari Cihan dan Dilara tersebut.

*Ozan kembali ke ruang tv untuk berbicara dengan Dilara. Di antara pembicaraan tersebut, mereka berdua menyinggung-nyinggung tentang Gulseren dan keberadaannya di rumah megah itu.

*Chandan sedang sibuk mempersiapkan kedatangan Harun di Istanbul. Hhmmm... Siapa itu Harun? Kita lihat saja nanti ya, hahha... Chandan menyuruh beberapa staf rumah tangga untuk membersihkan dan membereskan sebuah ruangan. Mungkin ini nanti bakal dipakai jadi tempat tinggalnya si Harun itu...

*Rahmi kembali menemui temannya, melanjutkan pembicaraan sebelumnya tentang tanggungan-tanggungan Rahmi selama masih berada di Rusia dan Ukraina.

*Cihan berbicara dengan Azmi, menanyakan tentang Rahmi. Tak lama kemudian, Cihan menelpon ayahnya tersebut. Rahmi yang sedang serius berbicara dengan temannya menjadi tampak sedikit gugup ketika mengangkat telpon dari Cihan.

*Keriman, Nuray, dan Engin berada di rumah sakit untuk menemani Oskan yang sedang menjalani operasi. Selesai operasi, Nuray masuk ke ruangan ICU menemui Oskan, sambil membawa anaknya yang masih bayi.  Eeeaalllah... Malah Keriman main nylonong saja, ikut-ikutan masuk ke ruangan ICU. Karena kehebohan Keriman juga, akhirnya perawat menyuruh Nuray dan Keriman keluar dari ruangan ICU dan hanya diperbolehkan melihat Oskan dari balik kaca. Akan tetapi, Oskan meminta kepada perawat untuk membawa anaknya masuk kembali ke ruangan ICU. Ya elllah, si botak... Bisa nangis terharu juga eeuuyyy... Melihat anaknya yang sedang dalam gendongan sang perawat.

*Di kediaman Gurpinar, Gulseren sedang berada di kamar Hazal untuk membantu menjalin rambut anak perempuannya tersebut. Hhmmm... Pemandangan yang sederhana, tapi tetap terlihat manis dan mengesankan. Coba, apa pernah Dilara melakukan itu kepada Cansu atau juga Hazal??! Tak lama setelah Gulseren selesai dengan jalinan rambut Hazal, Emine masuk ke kamar mereka untuk memberitahukan bahwa Gulseren dan Hazal sudah ditunggu oleh Cihan di ruang keluarga.

*Ternyata Cihan bermaksud untuk membicarakan tentang kejadian mencekam yang telah terjadi di rumah itu bersama dengan seluruh anggota keluarga. Gulseren yang semula tampak hanya berdiri di belakang kursi roda Hazal, dipaksa Cihan untuk duduk seperti halnya yang lain. Sepintas Dilara dengan lirikannya, terlihat tidak suka dengan ikutnya Gulseren di pertemuan keluarga malam itu. Selain Dilara, Ozan rupanya juga merasa tidak nyaman dengan kehadiran Gulseren. Ingatannya justru kembali kepada sewaktu dia dan Dilara membicarakan Gulseren di siangnya. Dilara akhirya meninggalkan ruangan itu sebagai tanda bahwa ia tidak sependapat dengan semua yang dikatakan Cihan. Menyusul kemudian Ozan yang meninggalkan ruang keluarga tersebut.

*Cihan akhirnya menyusul Dilara ke kamar. Mereka rupanya masih melanjutkan perdebatan tentang Gulseren . Berdua itu, hhheeiissstt... Saling kekeuh dengan pendiriannya sendiri-sendiri...

*Di rumah sakit, Oskan menyuruh Engin untuk memanggil Nuray dan bayinya agar menemuinya di ruangan ICU.  Lagi-lagi... Keriman tiba-tiba datang untuk menyela dan menghantui, wkwkwkwkwkwkkk...

*Cihan dan Rahmi melakukan pembicaraan di ruangan kerja Cihan. Pasangan ayah dan anak ini sepertinya memang ditakdirkan untuk saling tidak akur satu sama lain. Dasarnya Rahmi sebagai orang tua tidak bisa memposisikan dirinya  sebagaimana mestinya sebagai orang tua yang baik kepada Cihan, makanya setiap kali mereka terlibat pembicaraan selalu berakhir dengan lebih banyak ricuhnya, hhhuufft... Seperti juga pembicaraan malam itu di ruang kerja, perselisihan antara Cihan dan ayahnya tak bisa terelakkan lagi. Bahkan secara tidak sengaja, Dilara pun kebagian juga suara-suara keras dari ruang kerja suaminya tersebut. Dilara  akhirnya memutuskan untuk masuk dan bermaksud untuk menengahi. Dilara yang cenderung berpihak kepada sang ayah mertua, justru akhirnya ikut kebagian bentakan dari Cihan.

*Selepas berselisih paham dengan ayah dan istrinya, Cihan menemui Cansu di kamarnya. Gadis manis yang tengah gundah-gulana sambil duduk di dekat jendela kamarnya itu akhirnya mendapat pelukan hangat lagi berikut kalimat-kalimat menyejukkan hati dari sang ayah. Selalu suka ketika Cihan memanggil dua putrinya dengan sebutan, “guzel kisim” atau juga “janem benim”... Iiih..iihh... Mendadak ingin jadi Cansu saja, alih-alih ngidam pengen jadi Gulseren, wkwkwkwkwkwkkk..

*Sementara Cihan bersama Cansu, di kamar lainnya, Hazal sedang dipijat kakinya oleh Gulseren, sambil terus saling bicara.

*Ketika Gulseren sudah meninggalkan kamar, Hazal mencoba untuk berdiri dari kursi rodanya, berusaha berjalan sendiri sebisanya. Dan kejutannya, Hazal ternyata sudah bisa berdiri sendiri, walaupun belum sempurna benar. Pijatan tangan Gulseren di kaki Hazal sepertinya membawa efek yang luar biasa ya, hehhe..

*Di dapur, Gulseren sedang mencari makanan/buah di kulkas untuk diberikan kepada Hazal. Emine yang kebetulan melihat Gulseren, turut membantu. Diam-diam Dilara mengamati dan mendengarkan pembicaraan antara Emine dan Gulseren. Raut wajah tidak suka ditunjukkan Dilara ketika melihat Gulseren masih saja berkeliaran di rumahnya, wwweew...

*Cihan dan Dilara di kamarnya sendiri-sendiri seperti sedang tenggelam dalam lamunan mereka. Ozan sempat datang menghampiri ibunya di kamar untuk sekadar menenangkan dan memberikan semangat kepada Dilara.

*Gulseren yang sedang tidur di samping Hazal, begitu terkejut dengan kehadiran Cihan yang tiba-tiba ke kamar Hazal. Duh, ini dia yang selalu sukses bikin saiya baperrr... Pandangan mata dalam diam antara Cihan dan Gulseren dan juga sekadar sentuhan lembut di tangan Gulseren dari Cihan... Berasa yang lembut dan simpel tersebut, berdampak selangit dan menentramkan jiwa, uuuuuggghhh...

*Chandan menjemput Harun di bandara. Di scene ini, jangan lewatkan untuk mendengar musik ilustrasinya yang keren dan seolah-olah ikut mendukung suasana yang dimaksudkan, hehhe...
Harun dan Chandan akhirnya berteu dan meneruskan perjalanan mereka dengan Range Rover hitam mengkilat.

*Pagi di kediaman Gurpinar, Emine menyapa Gulseren dan Hazal di kamar.

*Keriman si tukang makan, sedang menunggui Oskan di samping tempat tidur sambil mulut yang tak lepas untuk mengunyah bermacam-macam makanan yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian, Nuray datang menyusul ke kamar membawa serta bayinya. Ketika perawat datanag untuk menyampaikan sesuatu, Keriman, Nuray, dan Oskan tampak sedikit kebingungan, lalu berubah panik, dan akhirnya kaget kemudian, wkwkwkwkkk... Entah apa yang mereka omongkan... Mungkin perawat menyinggung soal tagihan rumah sakit, hahha...

*Di ruang makan keluarga Gurpinar, Ozan dan Dilara sedang bersiap-siap untuk sarapan. Kembali ibu dan anak ini membicarakan tentang Gulseren.

*Ketika sang istri sedang bersiap untuk sarapan, Cihan justru di ruangan kerjanya sedang serius bersama Yildirim membaca koran terbaru yang memuat berita tentang kejadian mencekam yang terjadi kemarin di rumahnya. Ozan sempat datang menyusul ke ruangan kerja ayahnya.

*Sesaat setelah meakukan pembicaraan dengan Yildirim, Cihan bergegas menuju ke ruang makan untuk sarapan. Yildirim menyempatkan untuk menyapa semua yang di ruang makan. Sempat ditawari Dilara untuk sekaliyan ikut sarapan, namun Yildirim menolaknya dan memilih untuk segera pamit undur diri.

*Di meja makan, Dilara sepertinya kembali menyulut perselisihan, hingga akhirnya Cansu memilih untuk meninggalkan meja makan, bahkan sebelum gadis itu menyantap sarapannya. Cihan pun ikut-ikutan kesal dengan sikon yang baru saja terjadi tadi. Lain halnya dengan Hazal... Gadis berparas culas tersebut justru seolah-olah menambah keruh suasana dengan umpatan-umpatannya. Hhhhhhhh...

*Cihan menelpon Ozan yang sedang santai sambil jogging di tepian Bosphorus.

*Dilara meenghampiri Cansu di kamarnya untuk berusaha menenangkan sekaligus menetralkan suasana, selepas yang tidak menyenangkan tadi di meja makan. Tapi Cansu sudah terlanjur kecewa dengan sikap Dilara. Perdebatan kembali terjadi antara Cansu dan Dilara dan lagi-lagi Gulseren lah yang menjadi isu utamanya. Sampai akhirnya Cansu nekad untuk mengusir Dilara dari kamarnya.

*Keriman datang menemui Chandan di kantornya untuk membicarakan masalah Oskan. Chandan kemudian memberikan selembar kertas kepada Keriman. Apa itu isi lembaran kertasnya? Ntar tonton saja sendiri, hehhe..

*Dilara kembali bertemu dengan Gulseren yang sedang merapikan kamar Hazal. Kali ini Dilara rupanya lebih sibuk dengan pembicaraannya di telpon daripada memulai perdebatan lagi dengan Gulseren. Tapi teteup... Tatapan mata Dilara yang tajam kepada Gulseren, sudah mewakilkan segala kebencian yang ada, eeeyyyaaa...

*Justru yang sedang terlibat pertengkaran adalah Cansu dan Hazal. Hazal yang tiba-tiba muncul dengan kursi rodanya ketika Cansu sedang menelpon dan terdengar menyebutkan nama Hazal, langsung saja menyerang Cansu dengan kalimat-kalimat pedasnya. Gadis berambut pirang ini memang selalu ribet dengan prasangka-prasangka jeleknya berikut watak emosionalnya yang ngeselin.  Hhhaah... Pertengkaran itu akhirnya mereda ketika Dilara datang untuk melerai kedua putrinya. Seperti biasa, sang drama queen kembali menunjukkan kebolehannya... Akting..akting... Seolah-olah dia sudah berusaha manis di hadapan Cansu hingga akhirnya justru Cansu yang terlihat ‘setan’ di hadapan Dilara. Pada akhirnya, Cansu memilih untuk meninggalkan Dilara dan Hazal berdua saja di ruang keluarga.

NEXT: Harun menelpon Cihan.