#AW_KemarahanClaudiaKebencianAmor_ReviewPangakoSayo_19
Si Madame... Saking adanya senewen saja, mere2 melulu, makin kesini
semakin lucu eeeuuyyy!!!:p Katanya, "...Apa kamu tidak suka dimarahi,
Yna...?" Ya elllaahhh, Madame... Mana ada orang yg maniak dimarahi??!
Kecuali orang gila, gak ada orang yg bersedia dimarahi, apalagi marah yg
tiada henti... Nie nyonya satu agaknya juga sudah serba keblinger...
Sbg bos ternyata Claudia lebih suka ditakuti bawahan alih-alih
dihormati dan disegani... Hhmmm... Jabatan dan kekayaan kl dapetinnya
serba merebut, ya jadinya spt Claudia ini... Berasa paling OK segalanya,
padahal hanya segitu doank... 'The GodMother' nya Buenavista ini ada
baiknya mendengar lebih seksama apa kata2 dari peramal berjambul...
Biarpun norak, tp ramalan tarotnya lumayan mewakili nasibmu, Madame...
Nasibmu yg sdh melupakan Tuhan dan mendewakan ramalan..
:p
Ya Tuhan... Suatu hari, gadis yg skr tiada henti kau hina dan rendahkan
sedemikian rupa itu, dialah yg sesungguhnya jauh di atasmu untuk
segalanya... Boleh saja sekarang kau berikut 'dayang-dayangmu' itu
meremehkan Yna, tapi bukankah tak ada yg abadi??:p Sumpah, melihat
kepala koki pengikutnya Claudia, berasa pengen nabokin mukanya pakai
wajan atau pisau daging.... Gayanya to ketika mengerjai Yna... Muka dan
mulutnya provokatif banget, berasa 'menggoda' buat ngajak ribut:@:p Tapi
episode kali ini gedhegggg saya bukan hny untuk Claudia, Amor pun
sangat menarik hati untuk dinyinyiri... Memang ya kl sudah dikuasai
benci kpd seseorang atau sesuatu, gak ada bagus2nya ktk melihatnya...
Pokoknya aku benci, aku tidak suka, aku sakit hati. Titik!!! Mo David di
hadapan Amor sambil bawa parang untuk meyakinkan ibu angkatnya tsb agar
membatalkan rencana2 balas dendamnya pada Eduardo, tetap saja Amor
teguh pada pendirian, bahwa ia sakit hati dan layak untuk melakukan
balas dendam... Amor..Amor.. Setiap orang dgn egonya sendiri-sendiri,
pasti akan selalu merasa dia yang paling dan ter-..ter- dibanding orang
lain... Spt halnya dirimu yg merasa paling sakit hati, mata hatimu sudah
terlampau dibutakan untuk melihat bahwa ada selain dirimu yg mengalami
sakit hati jauh lebih parah darimu. OK lah kamu dulu dicampakkan
Eduardo, mengalami pelecehan seksual, hidup sengsara dan terpaksa
membanting tulang mjd pekerja kasar di negeri orang, kehilangan anggota
keluarga, korban KDRT, bla..bla..bla, tapi di balik semua itu, bukankah
Tuhan masih memberimu kesempatan hidup lebih baik, bahkan berhasil
mencapai kedudukan yg terhormat dgn menjadi seorang jutawan?! Apa
jadinya jika tanganNYA tak menyelamatkanmu dari segala penderitaan, bisa
saja kau hny akan miris menjadi perempuan jalanan atau penjaja cinta
yang hanya jadi sampah masyarakat... Semoga Amor lekas kembali menjadi
yang 'sebenarnya'... Bukan yang seperti belakangan, yg tak lebih baik
dari seorang Claudia... Amor harusnya lebih peka bahwa yang ia dendami
setengah mati justru masih menyimpan cinta sejati untuknya hingga detik
ini.. Eduardo Buenavista... Ihirrrrr... Foto yg di panti asuhan, bersama
Amor, disimpan juga di laci meja kamar mandi,... Mulai nie mulai,
hahahaaa... Krn sudah ada foto sang kekasih hati di dekatnya, mo Claudia
mencak-mencak begitu rupa, ya terserah saja:p Setali tiga uang dengan
Angelo, mo ibunya sekuat hati tak menyetujui Yna menjadi pacarnya, tetep
Angelo tak henti memerjuangkan Yna di hadapan Claudia. Angelo yg perasa
sekaligus dewasa, meski Yna sudah berusaha menyembunyikan sakit hati
krn dihina Claudia, tp Angelo paham apa yg sbnrnya tengah Yna hadapi.
Tapi alih2 berkonfrontasi dengan sang ibu, Angelo memilih jalan yg lebih
santun untuk mengambil hati Claudia... Sop buntut itu... Jangan
menyerah, Angelo!!! Aaaiihhhh..Bea Bianca, wkwkwkwkwkkk.. Hadddoh,
kirain cuma di sini doank yg hobi datang ke pesta bukan sbg siapa-siapa
alias tamu tak diundang, tapi nekad muka tebal hny demi bisa numpang
makan gratis:p Lha ini Bea Bianca... Pake acara bungkus segala, hahha...
Tertangkap kamera seorang undangan pula... Pikir sang 'penangkap
momen', ada maling makanan bening neh:p Dah ujian minta contekannya
maksa dan kini yg terjadi, seorang Miss Puerta Verde, tertangkap kamera
sedang mengutil hidangan pesta:p Yuhuuuuuu... See you...
Tampilkan postingan dengan label song hye kyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label song hye kyo. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Desember 2016
#AW_KemarahanClaudiaKebencianAmor_ReviewPangakoSayo_19
Si Madame... Saking adanya senewen saja, mere2 melulu, makin kesini
semakin lucu eeeuuyyy!!!:p Katanya, "...Apa kamu tidak suka dimarahi,
Yna...?" Ya elllaahhh, Madame... Mana ada orang yg maniak dimarahi??!
Kecuali orang gila, gak ada orang yg bersedia dimarahi, apalagi marah yg
tiada henti... Nie nyonya satu agaknya juga sudah serba keblinger...
Sbg bos ternyata Claudia lebih suka ditakuti bawahan alih-alih
dihormati dan disegani... Hhmmm... Jabatan dan kekayaan kl dapetinnya
serba merebut, ya jadinya spt Claudia ini... Berasa paling OK segalanya,
padahal hanya segitu doank... 'The GodMother' nya Buenavista ini ada
baiknya mendengar lebih seksama apa kata2 dari peramal berjambul...
Biarpun norak, tp ramalan tarotnya lumayan mewakili nasibmu, Madame...
Nasibmu yg sdh melupakan Tuhan dan mendewakan ramalan..
:p
Ya Tuhan... Suatu hari, gadis yg skr tiada henti kau hina dan rendahkan
sedemikian rupa itu, dialah yg sesungguhnya jauh di atasmu untuk
segalanya... Boleh saja sekarang kau berikut 'dayang-dayangmu' itu
meremehkan Yna, tapi bukankah tak ada yg abadi??:p Sumpah, melihat
kepala koki pengikutnya Claudia, berasa pengen nabokin mukanya pakai
wajan atau pisau daging.... Gayanya to ketika mengerjai Yna... Muka dan
mulutnya provokatif banget, berasa 'menggoda' buat ngajak ribut:@:p Tapi
episode kali ini gedhegggg saya bukan hny untuk Claudia, Amor pun
sangat menarik hati untuk dinyinyiri... Memang ya kl sudah dikuasai
benci kpd seseorang atau sesuatu, gak ada bagus2nya ktk melihatnya...
Pokoknya aku benci, aku tidak suka, aku sakit hati. Titik!!! Mo David di
hadapan Amor sambil bawa parang untuk meyakinkan ibu angkatnya tsb agar
membatalkan rencana2 balas dendamnya pada Eduardo, tetap saja Amor
teguh pada pendirian, bahwa ia sakit hati dan layak untuk melakukan
balas dendam... Amor..Amor.. Setiap orang dgn egonya sendiri-sendiri,
pasti akan selalu merasa dia yang paling dan ter-..ter- dibanding orang
lain... Spt halnya dirimu yg merasa paling sakit hati, mata hatimu sudah
terlampau dibutakan untuk melihat bahwa ada selain dirimu yg mengalami
sakit hati jauh lebih parah darimu. OK lah kamu dulu dicampakkan
Eduardo, mengalami pelecehan seksual, hidup sengsara dan terpaksa
membanting tulang mjd pekerja kasar di negeri orang, kehilangan anggota
keluarga, korban KDRT, bla..bla..bla, tapi di balik semua itu, bukankah
Tuhan masih memberimu kesempatan hidup lebih baik, bahkan berhasil
mencapai kedudukan yg terhormat dgn menjadi seorang jutawan?! Apa
jadinya jika tanganNYA tak menyelamatkanmu dari segala penderitaan, bisa
saja kau hny akan miris menjadi perempuan jalanan atau penjaja cinta
yang hanya jadi sampah masyarakat... Semoga Amor lekas kembali menjadi
yang 'sebenarnya'... Bukan yang seperti belakangan, yg tak lebih baik
dari seorang Claudia... Amor harusnya lebih peka bahwa yang ia dendami
setengah mati justru masih menyimpan cinta sejati untuknya hingga detik
ini.. Eduardo Buenavista... Ihirrrrr... Foto yg di panti asuhan, bersama
Amor, disimpan juga di laci meja kamar mandi,... Mulai nie mulai,
hahahaaa... Krn sudah ada foto sang kekasih hati di dekatnya, mo Claudia
mencak-mencak begitu rupa, ya terserah saja:p Setali tiga uang dengan
Angelo, mo ibunya sekuat hati tak menyetujui Yna menjadi pacarnya, tetep
Angelo tak henti memerjuangkan Yna di hadapan Claudia. Angelo yg perasa
sekaligus dewasa, meski Yna sudah berusaha menyembunyikan sakit hati
krn dihina Claudia, tp Angelo paham apa yg sbnrnya tengah Yna hadapi.
Tapi alih2 berkonfrontasi dengan sang ibu, Angelo memilih jalan yg lebih
santun untuk mengambil hati Claudia... Sop buntut itu... Jangan
menyerah, Angelo!!! Aaaiihhhh..Bea Bianca, wkwkwkwkwkkk.. Hadddoh,
kirain cuma di sini doank yg hobi datang ke pesta bukan sbg siapa-siapa
alias tamu tak diundang, tapi nekad muka tebal hny demi bisa numpang
makan gratis:p Lha ini Bea Bianca... Pake acara bungkus segala, hahha...
Tertangkap kamera seorang undangan pula... Pikir sang 'penangkap
momen', ada maling makanan bening neh:p Dah ujian minta contekannya
maksa dan kini yg terjadi, seorang Miss Puerta Verde, tertangkap kamera
sedang mengutil hidangan pesta:p Yuhuuuuuu... See you...
Selasa, 06 Desember 2016
#AW_YangSedangMengenangDanTerkenangKenang_ReviewPangakoSayo_14
Hhmmm... Bea Bianca... Perempuan dari masa lalu Angelo yg bukan hanya
sekadar masa lalu. Dia salah satu bagian terpenting bagi Angelo, namun
bukan juga sbg pacar atau kekasih hati. Lebih dari seorang kekasih, Bea
mungkin bisa dikatakan sbg bagian dari 'utang' dan tanggung jawab
Angelo... Utang dan tanggung jawab krn sang kakak, Jasper terpaksa hrs
meregang nyawa di penjara krn ulah sembrono Angelo kala itu... Kematian
Jasper dan kepengecutan Angelo... Setelahnya dan sesudahnya, hingga
kini, cerita keluarga Jasper selepas kematiannya tak pernah mudah. Pun
adiknya yg cantik, Bea Bianca hrs berjuang demi bea siswa agar bisa
kuliah, sembari pontang-panting mencari peluang siapa tahu bisa mjd
artis. Mungkin cerita takkan sepahit ini jika Jasper yg senantiasa baik
dan pintar itu masih hidup... Cerita Angelo pasca kematian sang sahabat
pun tak lebih baik... Cerita kepengecutan Angelo, pelariannya ke
Amerika, seolah-olah spt hukuman yg akan sll menghantuinya... Meski
bermaksud baik, ktk akhirnya Angelo tak sengaja bertemu Bea Bianca,
namun ternyata Bea tetap tak bisa melupakan sebab kepergian kakaknya
dulu. Dan kini, seakan-akan bersiap semakin merumit krn Bea Bianca yg
sejatinya sangat mengidolakan Angelo, justru menjadi sahabat baru Yna...
Yna yg diam2 menjadi cinta Angelo, Yna yg makin hari semakin memberikan
semangat baru bagi Angelo untuk menjelang masa depan, dan Yna yg
sebentar lagi pasti akan sangat dekat dgn Bea Bianca... Hhuufftt...
Sepertinya akan ada pertarungan atas nama cinta sesungguhnya vs cinta
pura2 krn alasan tak enak hati... Satu yg jelas akan diingat Angelo, dia
mmg takkan bnr2 bisa bebas dari kenangan seorang Jasper... Setali tiga
uang dengan sang ayah... Kenangan akan Amor kembali terngiang-ngiang
seiring pertemuan malam itu... Niat hati murni ingin bicara bisnis, tp
apa daya mata Eduardo tak lepas memandang sosok perempuan yg sll
memiliki hatinya tsb... Amor... Telinga Eduardo tak cukup kuat untuk
mendengar apa yg kau katakan, krn baik mata, hati, dan pikirannya hny
fokus memandangmu, bukan mendengarmu... Hehhe... Eduardo Buenavista yg
lambat-laun kembali menjadi dirinya yg sebenarnya... Yg tampan, serius,
dan kembali fokus. Yg hny doyan air mineral dan menolak minuman
beralkohol... Eduardo, istrimu yg sedang spt cacing kepanasan itu
membuatmu serupa 'umpan' di hadapan Amor Powers. Hahha... Hayo ngaku,
"Tapi suka kan dgn jabatan sbg 'umpan'? Hahahaaa... Pikir Eduardo,
sebentar lagi umpannya akan dgn senang hati mendekati yg diingini..."
Umpan toh hny berupa kedok, yg penting kan di balik kedoknya:p
Xixixiii... Dan di sisi lain, Claudia yg serakah dan oportunis itu,
berasa seolah-olah dia tega menjadikan Eduardo sbg alat untuk menjamin
kelangsungan kuasa dan kaya... Dasarrr... Tp ya baiklah... Spt halnya
karma, apa yg kau tanam, itulah yg kau tuai, Nyonya Gubernur...
Bersiaplah menghadapi suamimu yg menikmati mandatmu sbg 'umpan' untuk
sang mantan... Lalu Amor, sekuat hati ingin terlihat tegar sekaligus
dingin di hadapan Eduardo, tp yg sejujurnya dia pun tak kuasa untuk
menahan rindu dan harunya... Eduardo dan hny Eduardo... Katanya benci
itu hny sejengkal jaraknya dgn cinta dan mendamba... Semakin kau
membenci Eduardo, semakin dalam jg berarti kau merasa terluka krn masih
merindu serta mencintainya... Cinta yg takkan pernah dipahami oleh Mark
yg ternyata diam2 punya hati kpd Amor. Duh, Mark... Gak salah???
Sainganmu sungguh berat eeeuuyy, hahha... Knp tak menjatuhkan pilihan
pada Roma Christie yg pintar? Atau si Betty Mae yg bossy dan sok penting
itu...
:p
Btw, ganggu bgt deh Ny Betty Mae... Yyyeeeaayy... Nyonya rumahnya
siapa, yg sok sibuk dan ngatur2 siapa... Balik gih sono ke Nigeria!!! Ya
sudah... Sll menunggu cerita ttg Eduardo dan Amor yg selanjutnya dan
selanjutnya... Juga Angelo yg kian matang krn Yna dan masalah2 yg datang
kepadanya... Semangattt, Angelo... Berjuang, Eduardo... Salam cinta
untuk kalian berdua :*:*
23.00.00
Unknown
#AW_YangSedangMengenangDanTerkenangKenang_ReviewPangakoSayo_14
Hhmmm... Bea Bianca... Perempuan dari masa lalu Angelo yg bukan hanya
sekadar masa lalu. Dia salah satu bagian terpenting bagi Angelo, namun
bukan juga sbg pacar atau kekasih hati. Lebih dari seorang kekasih, Bea
mungkin bisa dikatakan sbg bagian dari 'utang' dan tanggung jawab
Angelo... Utang dan tanggung jawab krn sang kakak, Jasper terpaksa hrs
meregang nyawa di penjara krn ulah sembrono Angelo kala itu... Kematian
Jasper dan kepengecutan Angelo... Setelahnya dan sesudahnya, hingga
kini, cerita keluarga Jasper selepas kematiannya tak pernah mudah. Pun
adiknya yg cantik, Bea Bianca hrs berjuang demi bea siswa agar bisa
kuliah, sembari pontang-panting mencari peluang siapa tahu bisa mjd
artis. Mungkin cerita takkan sepahit ini jika Jasper yg senantiasa baik
dan pintar itu masih hidup... Cerita Angelo pasca kematian sang sahabat
pun tak lebih baik... Cerita kepengecutan Angelo, pelariannya ke
Amerika, seolah-olah spt hukuman yg akan sll menghantuinya... Meski
bermaksud baik, ktk akhirnya Angelo tak sengaja bertemu Bea Bianca,
namun ternyata Bea tetap tak bisa melupakan sebab kepergian kakaknya
dulu. Dan kini, seakan-akan bersiap semakin merumit krn Bea Bianca yg
sejatinya sangat mengidolakan Angelo, justru menjadi sahabat baru Yna...
Yna yg diam2 menjadi cinta Angelo, Yna yg makin hari semakin memberikan
semangat baru bagi Angelo untuk menjelang masa depan, dan Yna yg
sebentar lagi pasti akan sangat dekat dgn Bea Bianca... Hhuufftt...
Sepertinya akan ada pertarungan atas nama cinta sesungguhnya vs cinta
pura2 krn alasan tak enak hati... Satu yg jelas akan diingat Angelo, dia
mmg takkan bnr2 bisa bebas dari kenangan seorang Jasper... Setali tiga
uang dengan sang ayah... Kenangan akan Amor kembali terngiang-ngiang
seiring pertemuan malam itu... Niat hati murni ingin bicara bisnis, tp
apa daya mata Eduardo tak lepas memandang sosok perempuan yg sll
memiliki hatinya tsb... Amor... Telinga Eduardo tak cukup kuat untuk
mendengar apa yg kau katakan, krn baik mata, hati, dan pikirannya hny
fokus memandangmu, bukan mendengarmu... Hehhe... Eduardo Buenavista yg
lambat-laun kembali menjadi dirinya yg sebenarnya... Yg tampan, serius,
dan kembali fokus. Yg hny doyan air mineral dan menolak minuman
beralkohol... Eduardo, istrimu yg sedang spt cacing kepanasan itu
membuatmu serupa 'umpan' di hadapan Amor Powers. Hahha... Hayo ngaku,
"Tapi suka kan dgn jabatan sbg 'umpan'? Hahahaaa... Pikir Eduardo,
sebentar lagi umpannya akan dgn senang hati mendekati yg diingini..."
Umpan toh hny berupa kedok, yg penting kan di balik kedoknya:p
Xixixiii... Dan di sisi lain, Claudia yg serakah dan oportunis itu,
berasa seolah-olah dia tega menjadikan Eduardo sbg alat untuk menjamin
kelangsungan kuasa dan kaya... Dasarrr... Tp ya baiklah... Spt halnya
karma, apa yg kau tanam, itulah yg kau tuai, Nyonya Gubernur...
Bersiaplah menghadapi suamimu yg menikmati mandatmu sbg 'umpan' untuk
sang mantan... Lalu Amor, sekuat hati ingin terlihat tegar sekaligus
dingin di hadapan Eduardo, tp yg sejujurnya dia pun tak kuasa untuk
menahan rindu dan harunya... Eduardo dan hny Eduardo... Katanya benci
itu hny sejengkal jaraknya dgn cinta dan mendamba... Semakin kau
membenci Eduardo, semakin dalam jg berarti kau merasa terluka krn masih
merindu serta mencintainya... Cinta yg takkan pernah dipahami oleh Mark
yg ternyata diam2 punya hati kpd Amor. Duh, Mark... Gak salah???
Sainganmu sungguh berat eeeuuyy, hahha... Knp tak menjatuhkan pilihan
pada Roma Christie yg pintar? Atau si Betty Mae yg bossy dan sok penting
itu...
:p
Btw, ganggu bgt deh Ny Betty Mae... Yyyeeeaayy... Nyonya rumahnya
siapa, yg sok sibuk dan ngatur2 siapa... Balik gih sono ke Nigeria!!! Ya
sudah... Sll menunggu cerita ttg Eduardo dan Amor yg selanjutnya dan
selanjutnya... Juga Angelo yg kian matang krn Yna dan masalah2 yg datang
kepadanya... Semangattt, Angelo... Berjuang, Eduardo... Salam cinta
untuk kalian berdua :*:*
Selasa, 02 Agustus 2016
Gempa itu... Mempertemukan lagi untuk kesekian kalinya, yang selalu merasa dicampakkan... Meyakinkan lagi untuk satu hal, bahwa dia memang akan selalu datang dan pergi secara tak terduga untuk suatu tugas serta pengabdian... Mendamaikan untuk sementara waktu, antara kakak tingkat dengan adik tingkat semasa kuliah kedokteran, yang selalu bersaing dan bermusuhan... Memanusiakan para dokter di depan para pasien dan orang-orang yang ditolongnya... Bla..bla..bla... Tak ada musibah yang benar-benar akan jadi mimpi buruk untuk yang pandai memaknai... Di balik bencana dan musibah, selalu akan ada hikmah dan berkah yang dapat disyukuri.
*Tercampakkan Lagi
Ech masa iya, Kapten?!! Memangnya ada apa antara dirimu dengan Dokter Kang Mo Yeon? Sudah jadiankah atau bagaimana?? Wkwkwkwkkk... Merasa dicampakkan untuk suatu hubungan yang masih serba teka-teki, walaupun sebenarnya segala tanda-tanda alam pasti kompak mengiyakan, kl dua insan tersebut tengah saling jatuh cinta. Merasa dicampakkan untuk suatu hal yang merasa sama-sama dirugikan karena tiap kali alam berasa akan segera merestui mereka untuk lebih dekat, pasti ada saja hal-hal yang menggagalkan untuk keduanya menjadi semakin intim dan saling meyakinkan. Setelah insiden mobil di atas bukit yang terancam jatuh ke laut, setelah gurauan jaket serta baju yang menerawang dan basah kuyup, mati lampu, atau juga radio kontrol, Si jin dan Mo Yeon layaknya sudah saling hangat dan menikmati kebersamaan mereka, lebih santai dalam berinteraksi, dan mulai cair dan bisa saling menimpali satu sama lain.
Namun seperti biasa ketika mereka sudah sampai titik yang ditunggu, akhirnya malah lagi-lagi harus balik ke titik nol lagi alias buyar dan bubar jalan. Balik lagi ke acara klise, saling memendam perasaan, cemburu-cemburuan yang tak tahu kemana arah, dan sebagainya..dan sebagainya. Hhhuufftt... Harusnya setelah segala kenyamanan dan kehangatan itu didapat, tinggal eksekusi keseriusan yang ditunggu... Tapi ya itu tadi... Kali ini Si Jin juga yang harus memulai kegagalan dan mengakhirinya kemudian dengan menggantung (lagi)... Berpamitan kepada Mo Yeon untuk kembali ke Korea yang sekaligus memperingati hari pensiun sang ayah.
Dan Mo Yeon hanya bisa tertegun bingung ketika akhirnya Si Jin mengakhiri pamitannya dengan memberi ‘hormat’ kepada sang dokter yang sedang kecewa dan sakit hati.
*Liburan ‘Garing’
Seolah-olah seperti menggambarkan suasana hati Mo Yeon yang tidak merestui kepulangan Si Jin ke Korea, saat sudah berada di Seoul pun Si Jin berasa hampa, kesepian, serta tak menikmati seperti biasanya. Kebersamaannya bersama Dae Young pun malah berubah jadi semacam ‘kecelakaan olahraga’ gara-gara yunior yang ingin balas dendam kepada sang senior, wkwkwkwkkk... Maraton eeeuuyyy sepanjang malam, hahahaaa... Dua orang laki-laki yang sebenarnya hatinya masih tertinggal jauh di Urk ini, berasa seperti terus-terusan terjebak melakukan kekonyolan satu sama lain. Belum lagi ketika insiden ‘t-shirt kembar’, wkwkwkwkkk... Berasa jadi anak panti asuhan yang telat dan ketuaan, hahha..
Rasa ingin tahu tentang kabar seseorang yang di Urk pun harus ditempuh dengan berbagai cara. Gayanya saja sok cuek, tapi padahal saling merindu dan penasaran masing-masing. Gak Si Jin, tak jua Mo Yeon... Tak jua Dae Young... Gak juga Myung Joo... Pokoknya seribu akal demi untuk yang tercinta.
*Applause To Myung Joo
Myung Joo... Si cantik yang culas, tapi menggemaskan ini... Suka dengan sikapnya yang pantang menyerah mengejar cintanya. Tak peduli dengan hadangan sang ayah, Sersan Seo Dae Young tetaplah yang paling jawara di hati. Berulang kali disikapi dingin oleh sang pujaan hati, tak jua membuat sikap perempuan ini mundur atau malu. Bahkan segala cara ditempuh demi bisa terus memantau Dae Young. Dan akhirnya, keteguhannya mendapatkan sedikit jawabannya. Teleponnya kepada Dae young, untuk kali ini diangkat oleh yang dimaksud. Tak peduli dengan Dae Young mau menanggapinya atau tidak, yang penting Myung Joo bisa mencurahkan segala cinta dan kerinduan di hati, sementara yang di seberang hanya mendengar, tanpa sepatah kata pun untuk meresponnya, bagi Myung Joo rasanya sudah sangat bahagia dan melegakan. Semangatttt, Myung Joo!!! Kau yang paling tahu hatimu dan keinginanmu.
Bahkan untuk permusuhannya dengan Mo Yeon yang makin hari justru semakin terlihat terlalu kekanak-kanakan serta konyol, karena sikon yang serba darurat dan mengerikan, saya melihat justru Myung Joo yang lebih dewasa untuk lebih dahulu mencairkan suasana. Apapunlah ya, terserah nanti usai bencana mau bermusuhan lagi, tapi di saat-saat genting dan butuh saling kerjasama yang solid, menjelmalah menjadi seorang profesional sejati. Apalagi dokter yang bekerja atas nama kemanusiaan, menyelamatkan nyawa orang banyak, janganlah kebodohan harus terjadi, hanya gara-gara kekonyolan yang tak penting dan tak jelas ujung pangkalnya.

*Gagal Pulang Dan Datang Kembali
Ketika gempa besar melanda Urk, bahkan panggilan jiwa menjadi seorang dokter mampu untuk menekan hasrat rindu pulang ke tempat asal. Andai gempa tidak terjadi, mungkin Mo Yeon dan Si Jin sudah beranjak untuk menyusun rencana kencan untuk yang kesekian, wkwkwkwkkk... Tapi apalah itu kencan dan kegagalan, karena yang di depan mata sekarang adalah sebuah bencana yang mengenaskan. Korban berjatuhan di mana-mana, butuh konsentrasi dan kerja keras yang tiada henti untuk menyelamatkan para korban. Kehilangan sosok Si Jin bukan tak mungkin saat itu tidak menjadi yang paling menyakitkan lagi bagi Mo Yeon, melainkan justru perasaan kacau-balau dan kepanikan, karena yang sedang dihadapi adalah sebuah tugas sejati.
Cukup dengan sebuah scene Mo Yeon mematahkan hak sepatu high heelsnya, seolah-olah seperti sudah menggambarkan bahwa segala ego harus ditekan demi paripurnanya sebuah tugas dan pengabdian kepada pekerjaan. Apalagi hanya untuk urusan cinta... Untuk sementara, kesampingkan dulu segala kesakitan di hati. Toh Tuhan pasti akan mengerjakan juga apa yang sudah jadi wewenangnya.
Di saat kau tidak berharap banyak, jusru pada saat itulah berkah dari Tuhan seperti dianugrahkan, Siapa yang berpikir kl Si Jin akan kembali ke Urk untuk sebuah tugas mendadak... Dan Mo Yeon lah yang paling merasakannya... Di saat kesakitan karena berulang kali gagal meyakinkan perasaan dan hatinya dengan sang kapten, kini Tuhan berasa seperti melambungkan kembali asanya. Atas nama tugas, tapi tetap saja gempa itulah yang kembali membuka harapan untuk Si Jin dan Mo Yeon... Bahkan ketika pertama kali melihat Si Jin ada di antara pasukan yang datang untuk memberi bantuan, terbaca dari mata Mo Yeon bahwa sesungguhnya dia sedang sangat bersyukur dan bahagia. Semoga gempa di Urk ini jadi pertanda untuk mereka berdua agar tak kenal lelah memperjuangkan cinta di hati mereka. Seperti juga mereka yang tak kenal lelah dalam pengabdian dan dedikasi pekerjaan. See you...
*Tercampakkan Lagi
Ech masa iya, Kapten?!! Memangnya ada apa antara dirimu dengan Dokter Kang Mo Yeon? Sudah jadiankah atau bagaimana?? Wkwkwkwkkk... Merasa dicampakkan untuk suatu hubungan yang masih serba teka-teki, walaupun sebenarnya segala tanda-tanda alam pasti kompak mengiyakan, kl dua insan tersebut tengah saling jatuh cinta. Merasa dicampakkan untuk suatu hal yang merasa sama-sama dirugikan karena tiap kali alam berasa akan segera merestui mereka untuk lebih dekat, pasti ada saja hal-hal yang menggagalkan untuk keduanya menjadi semakin intim dan saling meyakinkan. Setelah insiden mobil di atas bukit yang terancam jatuh ke laut, setelah gurauan jaket serta baju yang menerawang dan basah kuyup, mati lampu, atau juga radio kontrol, Si jin dan Mo Yeon layaknya sudah saling hangat dan menikmati kebersamaan mereka, lebih santai dalam berinteraksi, dan mulai cair dan bisa saling menimpali satu sama lain.
Namun seperti biasa ketika mereka sudah sampai titik yang ditunggu, akhirnya malah lagi-lagi harus balik ke titik nol lagi alias buyar dan bubar jalan. Balik lagi ke acara klise, saling memendam perasaan, cemburu-cemburuan yang tak tahu kemana arah, dan sebagainya..dan sebagainya. Hhhuufftt... Harusnya setelah segala kenyamanan dan kehangatan itu didapat, tinggal eksekusi keseriusan yang ditunggu... Tapi ya itu tadi... Kali ini Si Jin juga yang harus memulai kegagalan dan mengakhirinya kemudian dengan menggantung (lagi)... Berpamitan kepada Mo Yeon untuk kembali ke Korea yang sekaligus memperingati hari pensiun sang ayah.
Dan Mo Yeon hanya bisa tertegun bingung ketika akhirnya Si Jin mengakhiri pamitannya dengan memberi ‘hormat’ kepada sang dokter yang sedang kecewa dan sakit hati.
*Liburan ‘Garing’
Seolah-olah seperti menggambarkan suasana hati Mo Yeon yang tidak merestui kepulangan Si Jin ke Korea, saat sudah berada di Seoul pun Si Jin berasa hampa, kesepian, serta tak menikmati seperti biasanya. Kebersamaannya bersama Dae Young pun malah berubah jadi semacam ‘kecelakaan olahraga’ gara-gara yunior yang ingin balas dendam kepada sang senior, wkwkwkwkkk... Maraton eeeuuyyy sepanjang malam, hahahaaa... Dua orang laki-laki yang sebenarnya hatinya masih tertinggal jauh di Urk ini, berasa seperti terus-terusan terjebak melakukan kekonyolan satu sama lain. Belum lagi ketika insiden ‘t-shirt kembar’, wkwkwkwkkk... Berasa jadi anak panti asuhan yang telat dan ketuaan, hahha..
Rasa ingin tahu tentang kabar seseorang yang di Urk pun harus ditempuh dengan berbagai cara. Gayanya saja sok cuek, tapi padahal saling merindu dan penasaran masing-masing. Gak Si Jin, tak jua Mo Yeon... Tak jua Dae Young... Gak juga Myung Joo... Pokoknya seribu akal demi untuk yang tercinta.
*Applause To Myung Joo
Myung Joo... Si cantik yang culas, tapi menggemaskan ini... Suka dengan sikapnya yang pantang menyerah mengejar cintanya. Tak peduli dengan hadangan sang ayah, Sersan Seo Dae Young tetaplah yang paling jawara di hati. Berulang kali disikapi dingin oleh sang pujaan hati, tak jua membuat sikap perempuan ini mundur atau malu. Bahkan segala cara ditempuh demi bisa terus memantau Dae Young. Dan akhirnya, keteguhannya mendapatkan sedikit jawabannya. Teleponnya kepada Dae young, untuk kali ini diangkat oleh yang dimaksud. Tak peduli dengan Dae Young mau menanggapinya atau tidak, yang penting Myung Joo bisa mencurahkan segala cinta dan kerinduan di hati, sementara yang di seberang hanya mendengar, tanpa sepatah kata pun untuk meresponnya, bagi Myung Joo rasanya sudah sangat bahagia dan melegakan. Semangatttt, Myung Joo!!! Kau yang paling tahu hatimu dan keinginanmu.
Bahkan untuk permusuhannya dengan Mo Yeon yang makin hari justru semakin terlihat terlalu kekanak-kanakan serta konyol, karena sikon yang serba darurat dan mengerikan, saya melihat justru Myung Joo yang lebih dewasa untuk lebih dahulu mencairkan suasana. Apapunlah ya, terserah nanti usai bencana mau bermusuhan lagi, tapi di saat-saat genting dan butuh saling kerjasama yang solid, menjelmalah menjadi seorang profesional sejati. Apalagi dokter yang bekerja atas nama kemanusiaan, menyelamatkan nyawa orang banyak, janganlah kebodohan harus terjadi, hanya gara-gara kekonyolan yang tak penting dan tak jelas ujung pangkalnya.

*Gagal Pulang Dan Datang Kembali
Ketika gempa besar melanda Urk, bahkan panggilan jiwa menjadi seorang dokter mampu untuk menekan hasrat rindu pulang ke tempat asal. Andai gempa tidak terjadi, mungkin Mo Yeon dan Si Jin sudah beranjak untuk menyusun rencana kencan untuk yang kesekian, wkwkwkwkkk... Tapi apalah itu kencan dan kegagalan, karena yang di depan mata sekarang adalah sebuah bencana yang mengenaskan. Korban berjatuhan di mana-mana, butuh konsentrasi dan kerja keras yang tiada henti untuk menyelamatkan para korban. Kehilangan sosok Si Jin bukan tak mungkin saat itu tidak menjadi yang paling menyakitkan lagi bagi Mo Yeon, melainkan justru perasaan kacau-balau dan kepanikan, karena yang sedang dihadapi adalah sebuah tugas sejati.
Cukup dengan sebuah scene Mo Yeon mematahkan hak sepatu high heelsnya, seolah-olah seperti sudah menggambarkan bahwa segala ego harus ditekan demi paripurnanya sebuah tugas dan pengabdian kepada pekerjaan. Apalagi hanya untuk urusan cinta... Untuk sementara, kesampingkan dulu segala kesakitan di hati. Toh Tuhan pasti akan mengerjakan juga apa yang sudah jadi wewenangnya.
Di saat kau tidak berharap banyak, jusru pada saat itulah berkah dari Tuhan seperti dianugrahkan, Siapa yang berpikir kl Si Jin akan kembali ke Urk untuk sebuah tugas mendadak... Dan Mo Yeon lah yang paling merasakannya... Di saat kesakitan karena berulang kali gagal meyakinkan perasaan dan hatinya dengan sang kapten, kini Tuhan berasa seperti melambungkan kembali asanya. Atas nama tugas, tapi tetap saja gempa itulah yang kembali membuka harapan untuk Si Jin dan Mo Yeon... Bahkan ketika pertama kali melihat Si Jin ada di antara pasukan yang datang untuk memberi bantuan, terbaca dari mata Mo Yeon bahwa sesungguhnya dia sedang sangat bersyukur dan bahagia. Semoga gempa di Urk ini jadi pertanda untuk mereka berdua agar tak kenal lelah memperjuangkan cinta di hati mereka. Seperti juga mereka yang tak kenal lelah dalam pengabdian dan dedikasi pekerjaan. See you...
21.56.00
Unknown
Gempa itu... Mempertemukan lagi untuk kesekian kalinya, yang selalu merasa dicampakkan... Meyakinkan lagi untuk satu hal, bahwa dia memang akan selalu datang dan pergi secara tak terduga untuk suatu tugas serta pengabdian... Mendamaikan untuk sementara waktu, antara kakak tingkat dengan adik tingkat semasa kuliah kedokteran, yang selalu bersaing dan bermusuhan... Memanusiakan para dokter di depan para pasien dan orang-orang yang ditolongnya... Bla..bla..bla... Tak ada musibah yang benar-benar akan jadi mimpi buruk untuk yang pandai memaknai... Di balik bencana dan musibah, selalu akan ada hikmah dan berkah yang dapat disyukuri.
*Tercampakkan Lagi
Ech masa iya, Kapten?!! Memangnya ada apa antara dirimu dengan Dokter Kang Mo Yeon? Sudah jadiankah atau bagaimana?? Wkwkwkwkkk... Merasa dicampakkan untuk suatu hubungan yang masih serba teka-teki, walaupun sebenarnya segala tanda-tanda alam pasti kompak mengiyakan, kl dua insan tersebut tengah saling jatuh cinta. Merasa dicampakkan untuk suatu hal yang merasa sama-sama dirugikan karena tiap kali alam berasa akan segera merestui mereka untuk lebih dekat, pasti ada saja hal-hal yang menggagalkan untuk keduanya menjadi semakin intim dan saling meyakinkan. Setelah insiden mobil di atas bukit yang terancam jatuh ke laut, setelah gurauan jaket serta baju yang menerawang dan basah kuyup, mati lampu, atau juga radio kontrol, Si jin dan Mo Yeon layaknya sudah saling hangat dan menikmati kebersamaan mereka, lebih santai dalam berinteraksi, dan mulai cair dan bisa saling menimpali satu sama lain.
Namun seperti biasa ketika mereka sudah sampai titik yang ditunggu, akhirnya malah lagi-lagi harus balik ke titik nol lagi alias buyar dan bubar jalan. Balik lagi ke acara klise, saling memendam perasaan, cemburu-cemburuan yang tak tahu kemana arah, dan sebagainya..dan sebagainya. Hhhuufftt... Harusnya setelah segala kenyamanan dan kehangatan itu didapat, tinggal eksekusi keseriusan yang ditunggu... Tapi ya itu tadi... Kali ini Si Jin juga yang harus memulai kegagalan dan mengakhirinya kemudian dengan menggantung (lagi)... Berpamitan kepada Mo Yeon untuk kembali ke Korea yang sekaligus memperingati hari pensiun sang ayah.
Dan Mo Yeon hanya bisa tertegun bingung ketika akhirnya Si Jin mengakhiri pamitannya dengan memberi ‘hormat’ kepada sang dokter yang sedang kecewa dan sakit hati.
*Liburan ‘Garing’
Seolah-olah seperti menggambarkan suasana hati Mo Yeon yang tidak merestui kepulangan Si Jin ke Korea, saat sudah berada di Seoul pun Si Jin berasa hampa, kesepian, serta tak menikmati seperti biasanya. Kebersamaannya bersama Dae Young pun malah berubah jadi semacam ‘kecelakaan olahraga’ gara-gara yunior yang ingin balas dendam kepada sang senior, wkwkwkwkkk... Maraton eeeuuyyy sepanjang malam, hahahaaa... Dua orang laki-laki yang sebenarnya hatinya masih tertinggal jauh di Urk ini, berasa seperti terus-terusan terjebak melakukan kekonyolan satu sama lain. Belum lagi ketika insiden ‘t-shirt kembar’, wkwkwkwkkk... Berasa jadi anak panti asuhan yang telat dan ketuaan, hahha..
Rasa ingin tahu tentang kabar seseorang yang di Urk pun harus ditempuh dengan berbagai cara. Gayanya saja sok cuek, tapi padahal saling merindu dan penasaran masing-masing. Gak Si Jin, tak jua Mo Yeon... Tak jua Dae Young... Gak juga Myung Joo... Pokoknya seribu akal demi untuk yang tercinta.
*Applause To Myung Joo
Myung Joo... Si cantik yang culas, tapi menggemaskan ini... Suka dengan sikapnya yang pantang menyerah mengejar cintanya. Tak peduli dengan hadangan sang ayah, Sersan Seo Dae Young tetaplah yang paling jawara di hati. Berulang kali disikapi dingin oleh sang pujaan hati, tak jua membuat sikap perempuan ini mundur atau malu. Bahkan segala cara ditempuh demi bisa terus memantau Dae Young. Dan akhirnya, keteguhannya mendapatkan sedikit jawabannya. Teleponnya kepada Dae young, untuk kali ini diangkat oleh yang dimaksud. Tak peduli dengan Dae Young mau menanggapinya atau tidak, yang penting Myung Joo bisa mencurahkan segala cinta dan kerinduan di hati, sementara yang di seberang hanya mendengar, tanpa sepatah kata pun untuk meresponnya, bagi Myung Joo rasanya sudah sangat bahagia dan melegakan. Semangatttt, Myung Joo!!! Kau yang paling tahu hatimu dan keinginanmu.
Bahkan untuk permusuhannya dengan Mo Yeon yang makin hari justru semakin terlihat terlalu kekanak-kanakan serta konyol, karena sikon yang serba darurat dan mengerikan, saya melihat justru Myung Joo yang lebih dewasa untuk lebih dahulu mencairkan suasana. Apapunlah ya, terserah nanti usai bencana mau bermusuhan lagi, tapi di saat-saat genting dan butuh saling kerjasama yang solid, menjelmalah menjadi seorang profesional sejati. Apalagi dokter yang bekerja atas nama kemanusiaan, menyelamatkan nyawa orang banyak, janganlah kebodohan harus terjadi, hanya gara-gara kekonyolan yang tak penting dan tak jelas ujung pangkalnya.

*Gagal Pulang Dan Datang Kembali
Ketika gempa besar melanda Urk, bahkan panggilan jiwa menjadi seorang dokter mampu untuk menekan hasrat rindu pulang ke tempat asal. Andai gempa tidak terjadi, mungkin Mo Yeon dan Si Jin sudah beranjak untuk menyusun rencana kencan untuk yang kesekian, wkwkwkwkkk... Tapi apalah itu kencan dan kegagalan, karena yang di depan mata sekarang adalah sebuah bencana yang mengenaskan. Korban berjatuhan di mana-mana, butuh konsentrasi dan kerja keras yang tiada henti untuk menyelamatkan para korban. Kehilangan sosok Si Jin bukan tak mungkin saat itu tidak menjadi yang paling menyakitkan lagi bagi Mo Yeon, melainkan justru perasaan kacau-balau dan kepanikan, karena yang sedang dihadapi adalah sebuah tugas sejati.
Cukup dengan sebuah scene Mo Yeon mematahkan hak sepatu high heelsnya, seolah-olah seperti sudah menggambarkan bahwa segala ego harus ditekan demi paripurnanya sebuah tugas dan pengabdian kepada pekerjaan. Apalagi hanya untuk urusan cinta... Untuk sementara, kesampingkan dulu segala kesakitan di hati. Toh Tuhan pasti akan mengerjakan juga apa yang sudah jadi wewenangnya.
Di saat kau tidak berharap banyak, jusru pada saat itulah berkah dari Tuhan seperti dianugrahkan, Siapa yang berpikir kl Si Jin akan kembali ke Urk untuk sebuah tugas mendadak... Dan Mo Yeon lah yang paling merasakannya... Di saat kesakitan karena berulang kali gagal meyakinkan perasaan dan hatinya dengan sang kapten, kini Tuhan berasa seperti melambungkan kembali asanya. Atas nama tugas, tapi tetap saja gempa itulah yang kembali membuka harapan untuk Si Jin dan Mo Yeon... Bahkan ketika pertama kali melihat Si Jin ada di antara pasukan yang datang untuk memberi bantuan, terbaca dari mata Mo Yeon bahwa sesungguhnya dia sedang sangat bersyukur dan bahagia. Semoga gempa di Urk ini jadi pertanda untuk mereka berdua agar tak kenal lelah memperjuangkan cinta di hati mereka. Seperti juga mereka yang tak kenal lelah dalam pengabdian dan dedikasi pekerjaan. See you...
*Tercampakkan Lagi
Ech masa iya, Kapten?!! Memangnya ada apa antara dirimu dengan Dokter Kang Mo Yeon? Sudah jadiankah atau bagaimana?? Wkwkwkwkkk... Merasa dicampakkan untuk suatu hubungan yang masih serba teka-teki, walaupun sebenarnya segala tanda-tanda alam pasti kompak mengiyakan, kl dua insan tersebut tengah saling jatuh cinta. Merasa dicampakkan untuk suatu hal yang merasa sama-sama dirugikan karena tiap kali alam berasa akan segera merestui mereka untuk lebih dekat, pasti ada saja hal-hal yang menggagalkan untuk keduanya menjadi semakin intim dan saling meyakinkan. Setelah insiden mobil di atas bukit yang terancam jatuh ke laut, setelah gurauan jaket serta baju yang menerawang dan basah kuyup, mati lampu, atau juga radio kontrol, Si jin dan Mo Yeon layaknya sudah saling hangat dan menikmati kebersamaan mereka, lebih santai dalam berinteraksi, dan mulai cair dan bisa saling menimpali satu sama lain.
Namun seperti biasa ketika mereka sudah sampai titik yang ditunggu, akhirnya malah lagi-lagi harus balik ke titik nol lagi alias buyar dan bubar jalan. Balik lagi ke acara klise, saling memendam perasaan, cemburu-cemburuan yang tak tahu kemana arah, dan sebagainya..dan sebagainya. Hhhuufftt... Harusnya setelah segala kenyamanan dan kehangatan itu didapat, tinggal eksekusi keseriusan yang ditunggu... Tapi ya itu tadi... Kali ini Si Jin juga yang harus memulai kegagalan dan mengakhirinya kemudian dengan menggantung (lagi)... Berpamitan kepada Mo Yeon untuk kembali ke Korea yang sekaligus memperingati hari pensiun sang ayah.
Dan Mo Yeon hanya bisa tertegun bingung ketika akhirnya Si Jin mengakhiri pamitannya dengan memberi ‘hormat’ kepada sang dokter yang sedang kecewa dan sakit hati.
*Liburan ‘Garing’
Seolah-olah seperti menggambarkan suasana hati Mo Yeon yang tidak merestui kepulangan Si Jin ke Korea, saat sudah berada di Seoul pun Si Jin berasa hampa, kesepian, serta tak menikmati seperti biasanya. Kebersamaannya bersama Dae Young pun malah berubah jadi semacam ‘kecelakaan olahraga’ gara-gara yunior yang ingin balas dendam kepada sang senior, wkwkwkwkkk... Maraton eeeuuyyy sepanjang malam, hahahaaa... Dua orang laki-laki yang sebenarnya hatinya masih tertinggal jauh di Urk ini, berasa seperti terus-terusan terjebak melakukan kekonyolan satu sama lain. Belum lagi ketika insiden ‘t-shirt kembar’, wkwkwkwkkk... Berasa jadi anak panti asuhan yang telat dan ketuaan, hahha..
Rasa ingin tahu tentang kabar seseorang yang di Urk pun harus ditempuh dengan berbagai cara. Gayanya saja sok cuek, tapi padahal saling merindu dan penasaran masing-masing. Gak Si Jin, tak jua Mo Yeon... Tak jua Dae Young... Gak juga Myung Joo... Pokoknya seribu akal demi untuk yang tercinta.
*Applause To Myung Joo
Myung Joo... Si cantik yang culas, tapi menggemaskan ini... Suka dengan sikapnya yang pantang menyerah mengejar cintanya. Tak peduli dengan hadangan sang ayah, Sersan Seo Dae Young tetaplah yang paling jawara di hati. Berulang kali disikapi dingin oleh sang pujaan hati, tak jua membuat sikap perempuan ini mundur atau malu. Bahkan segala cara ditempuh demi bisa terus memantau Dae Young. Dan akhirnya, keteguhannya mendapatkan sedikit jawabannya. Teleponnya kepada Dae young, untuk kali ini diangkat oleh yang dimaksud. Tak peduli dengan Dae Young mau menanggapinya atau tidak, yang penting Myung Joo bisa mencurahkan segala cinta dan kerinduan di hati, sementara yang di seberang hanya mendengar, tanpa sepatah kata pun untuk meresponnya, bagi Myung Joo rasanya sudah sangat bahagia dan melegakan. Semangatttt, Myung Joo!!! Kau yang paling tahu hatimu dan keinginanmu.
Bahkan untuk permusuhannya dengan Mo Yeon yang makin hari justru semakin terlihat terlalu kekanak-kanakan serta konyol, karena sikon yang serba darurat dan mengerikan, saya melihat justru Myung Joo yang lebih dewasa untuk lebih dahulu mencairkan suasana. Apapunlah ya, terserah nanti usai bencana mau bermusuhan lagi, tapi di saat-saat genting dan butuh saling kerjasama yang solid, menjelmalah menjadi seorang profesional sejati. Apalagi dokter yang bekerja atas nama kemanusiaan, menyelamatkan nyawa orang banyak, janganlah kebodohan harus terjadi, hanya gara-gara kekonyolan yang tak penting dan tak jelas ujung pangkalnya.

*Gagal Pulang Dan Datang Kembali
Ketika gempa besar melanda Urk, bahkan panggilan jiwa menjadi seorang dokter mampu untuk menekan hasrat rindu pulang ke tempat asal. Andai gempa tidak terjadi, mungkin Mo Yeon dan Si Jin sudah beranjak untuk menyusun rencana kencan untuk yang kesekian, wkwkwkwkkk... Tapi apalah itu kencan dan kegagalan, karena yang di depan mata sekarang adalah sebuah bencana yang mengenaskan. Korban berjatuhan di mana-mana, butuh konsentrasi dan kerja keras yang tiada henti untuk menyelamatkan para korban. Kehilangan sosok Si Jin bukan tak mungkin saat itu tidak menjadi yang paling menyakitkan lagi bagi Mo Yeon, melainkan justru perasaan kacau-balau dan kepanikan, karena yang sedang dihadapi adalah sebuah tugas sejati.
Cukup dengan sebuah scene Mo Yeon mematahkan hak sepatu high heelsnya, seolah-olah seperti sudah menggambarkan bahwa segala ego harus ditekan demi paripurnanya sebuah tugas dan pengabdian kepada pekerjaan. Apalagi hanya untuk urusan cinta... Untuk sementara, kesampingkan dulu segala kesakitan di hati. Toh Tuhan pasti akan mengerjakan juga apa yang sudah jadi wewenangnya.
Di saat kau tidak berharap banyak, jusru pada saat itulah berkah dari Tuhan seperti dianugrahkan, Siapa yang berpikir kl Si Jin akan kembali ke Urk untuk sebuah tugas mendadak... Dan Mo Yeon lah yang paling merasakannya... Di saat kesakitan karena berulang kali gagal meyakinkan perasaan dan hatinya dengan sang kapten, kini Tuhan berasa seperti melambungkan kembali asanya. Atas nama tugas, tapi tetap saja gempa itulah yang kembali membuka harapan untuk Si Jin dan Mo Yeon... Bahkan ketika pertama kali melihat Si Jin ada di antara pasukan yang datang untuk memberi bantuan, terbaca dari mata Mo Yeon bahwa sesungguhnya dia sedang sangat bersyukur dan bahagia. Semoga gempa di Urk ini jadi pertanda untuk mereka berdua agar tak kenal lelah memperjuangkan cinta di hati mereka. Seperti juga mereka yang tak kenal lelah dalam pengabdian dan dedikasi pekerjaan. See you...
Senin, 01 Agustus 2016
“... Cukup, cukup untuk apa? Untuk mengerti atau untuk menjauhinya?...” Ahh, Mo Yeon... Kau yang mulai mengerti bahwa yang sedang membuatmu bingung adalah seorang anggota pasukan elit dari angkatan bersenjata Korea Selatan... Kau yang mulai beradaptasi dengan gaya-gaya gurauan sang kapten yang selalu jahil dan berhasil membuatmu sewot bersemu-semu malu dan rindu... Heyyyyy, Captain!!! Kira-kira kau sendiri pilih yang mana untuk ‘wine kiss’ ituuuuu?! Eeeehhhmm, ingin minta maaf atau ingin mengaku cinta saja?!! Ahh...
*Bingung, Malu Atau Takut?
Gara-gara sebotol anggur, semuanya jadi terhanyut suasana, wkwkwkwkkk... Gak Mo Yeon, gak juga dengan sang kapten, atau malah penontonnya, hahahaaa... Semuanya jadi terbawa dan akhirnya terhanyut suasana. Sebotol anggur yang diminum Mo Yeon dengan gaya tenggakan yang cukup seksi, cukup sukses untuk membuat Si Jin buru-buru menumpahkan segalanya yang selama ini tertahan di hati, hahha.. Urusan nanti atau besok Mo Yeon akan marah dan sewot, sudah biasa. Wkwkwkwkkk... Toh keesokan harinya daripada terlihat marah dan sewot, Mo Yeon lebih memilih untuk memalingkan muka, menghindarkan tatapan dengan Si Jin karena alasan malu, hehhe... Malu yang kemudian diterjemahkan oleh sang dokter menjadi bingung, ketika akhirnya Si Jin menanyakan tentang sambaran ciuman semalam.
Cieeeeee... Mo Yeon, bingung nie yeee... Bingung yang bagaimana nie ya?! Bingung itu linglung kan ya bukan malu yang lebih ke tersipu-sipu, berasa takut ketahuan perasaannya akan terbaca oleh sang kapten, wkwkwkwkkk... Atau bingung justru karena sudah yakin kl ada perasaan cinta, akan tetapi masih tanda tanya tentang apa sebenarnya pekerjaan Si jin di dunia militer yang sekarang ia jalani... Pekerjaan yang punya pengaruh besar untuk selalu menggagalkan kencan-kencan mereka berdua, pekerjaan yang dipilih Si Jin di atas Mo Yeon yang tak henti untuk selalu didekati dan digodanya... Bukankan cinta itu segala-galanya?? Hhmmm...
Hingga akhirnya tak tahan juga untuk Mo Yeon memastikan segala kebingungannya kepada Daniel yang dianggap sudah cukup lama mengenal siapa sebenarnya Si Jin. Maka ketika akhirnya jawaban yang diperlukan oleh Mo Yeon didapatkan, justru Daniel lah yang kemudian balik untuk bertanya kepada sang dokter bedah yang cantik itu. “... Cukup untuk mengerti dan mermahami atau malah menjauhi?? Pertanyaan Daniel kiranya dapat juga diartikan, siapkah untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang yang ‘spesial’ macam Si Jin itu... Hanya Tuhan yang tahu...
*Bertemu Kawan Lama
Kebingungan kali ini bukan saja milik Mo Yeon. Di lain pihak, Si Jin juga sedang kebingungan ketika dia terpaksa bertemu kawan seperjuangan, dalam sikon yang benar-benar jauh dari yang diharapkan. Bertemu kawan lama seharusnya menjadi salah satu momen yang paling manis, tapi tidak untuk Si Jin ketika harus bertemu Kapten Argus, justru di saat salah satunya sekarang sudah jauh berbeda prinsip ‘perjuangan’. Hahha, wwweew... Kapten yang dulu sangat dihormati Si Jin, diselamatkan mati-matian olehnya dan juga rekan-rekan yang lainnya dalam sebuah tugas, sekarang telah beralih tugas menjadi kepala gangster yang terlibat perdagangan senjata ilegal, hhhuuffttt...
Kekecewaan jelas terbaca dari mata Si Jin ketika mengetahui sang rekan kini berubah menjadi seorang yang brengsek dan bajingan. Menyelamatkan Argus akhirnya jadi salah satu penyesalan terbesar bagi Si Jin, ketika tahu akhirnya malah menjadi seperti sekarang. Predikat legenda tak pernah semenarik gelimangan uang dan berlian, Si Jin... Bahkan dengan uang dan berlian, Argus dapat menyuap polisi dan membodohi semuanya...
Berbeda dengan dirimu yang jiwa dan raga seutuhnya kau persembahkan untuk bangsa dan negaramu, maka tak salah jika angkatan bersenjata Korea Selatan mempercayakanmu menjadi salah satu pasukan elit. Jangankan berpikir rakus tentang uang dan kekayaan, bahkan urusan cinta dan perasaan saja berasa harus selalu dikorbankan. Ahh, Si Jin... Biarkan Argus seorang yang menjadi pecundang dan pesakitan.
*Mengalah Yang Sangat Terhormat
Predikat terhormat yang akhirnya untuk saat ini ingin saya sematkan kepada sang sersan yang penuh kharisma, Seo Dae Yeong. Dae Yeong yang masih saja dipandang sebelah mata oleh ayah Myung Joo dan Dae Yeong yang masih saja profesional dan kompeten menjalankan tugas-tugas dan fungsinya. Tak peduli sang atasan sedang mengawasi sekaligus memandangnya sebelah mata karena pangkatnya yang hanya seorang sersan, atasan tetaplah atasan, perintahnya pantang untuk tak dituruti atau disepelekan.
Tak jua berusaha untuk membela diri dan memertahankan hatinya yang sebenarnya cinta mati kepada Myung Joo, Dae Young memilih menyerahkan segala asumsi dan keputusan yang telah dibuat oleh sang atasan. Yupz, Dae Young memilih untuk kalah sekaligus mengalah, alih-alih menjadi seorang pejuang cinta yang terlihat seperti macan ompong. Tak ada gunanya berperang melawan gajah, sementara sikon sekarang bak seekor macan ompong. Daripada mati sia-sia tanpa perlawanan, lebih baik mundur untuk sementara waktu, memperkuat diri sembari terus berusaha untuk menumbuhkan taring dan gigi, agar suatu saat nanti apabila berkenan untuk dipertemukan dan bertarung kembali, semuanya akan berjalan seimbang dan dapat dibanggakan.
*Hangat Yang Terancam Lagi
Kebanggaan sebagai seorang prajurit menjadi tulang-punggung untuk kedaulatan dan kedamaian sebuah bangsa, seolah-olah menjadi sebuah kebanggaan yang rasanya ada dalam sebuah ruang kehormatan tersendiri. Ruang kehormatan yang lagi-lagi tak akan tersentuh oleh mulusnya sebuah hubungan percintaan. Perintah tugas yang sewaktu-waktu harus dituruti, inilah kesabaran dan pengertian bagi orang-orang di sekitarnya. Mo Yeon yang sedang kebingungan dan Mo Yeon yang mulai cemburu dan rindu dengan candaan-candaan Si Jin yang jahil dan juga narsis, berasa harus menghadapi Si Jin dengan dua kepribadian yang berbeda. Aaiihhh... Siapa yang tak sewot sekaligus GeeR dengan ulah Si Jin yang tiba-tiba memakaikan seragamnya kepada Mo Yeon yang sedang basah kuyup dan kedinginan... Bukan masalah memakaikannya, tapi jahil pernyataan yang menyebutkan bahwa Si Jin sudah melihat semua yang ‘sedang dipakai Mo Yeon’, sedangkan orang lain tidak boleh melihatnya, hahahaaa... Iih..iih... Belum lagi gurauan di saat mati lampu, wkwkwkwkkk... Mo Yeon pun akhirnya tak bisa menahan untuk tertawa geli. Benar kata Mo Yeon, Si Jin... Perempuan cantik selalu tertarik dengan laki-laki yang humoris... Yang macam dirimu itu lhoooh, hehhe...
Big Boss and Beautiful Girl... Beautiful Girl nya boleh saja masih jual-jual mahah gimana gitu, tapi teteup, hahha.. Di balik kedatangan Myung Joo, tak pelak membuat Mo Yeon cemburu keki juga. Segitunya ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Si Jin berduaan dengan Myung Joo, wkwkwkwkkk... Sayangnya, belum terjawab keingintahuan yang satu itu, malah yang terdengar kemudian kabar kl Si Jin akan segera kembali ke Korea. Hati yang mulai beranjak mencair dan berbunga-bunga, terancam trauma kegagalan lagi untuk kesekian kalinya. Kl dulu ngotot katanya ke Urk hanya untuk memenuhi tugas hukuman, kini, di saat sudah mulai menikmati asyiknya bertugas di daerah nun jauh berada sembari (ternyata) dapat bertemu lagi dengan yang sedang di hati, malah berasa jadi mimpi buruk lagi.
Ketakutan dan kebingungan tak terhindarkan lagi. Belum lagi Mo Yeon harus menghadapi pertanyaan Si Jin di malam terakhir sebelum esok ia harus kembali ke Korea. Mo Yeon yang sedang campur aduk perasaannya, sekali lagi harus menjawab pertanyaan Si jin tentang ciuman bibir itu. Haruskah Si Jin meminta maaf untuk kelancangannya tersebut atau Si Jin mengakui saja perasaannya? Hhmmm... Jika Mo Yeon masih juga menggantungmu untuk jawabannya, saya bantu saja untuk menjawabnya ya, Kapten... See you...
*Bingung, Malu Atau Takut?
Gara-gara sebotol anggur, semuanya jadi terhanyut suasana, wkwkwkwkkk... Gak Mo Yeon, gak juga dengan sang kapten, atau malah penontonnya, hahahaaa... Semuanya jadi terbawa dan akhirnya terhanyut suasana. Sebotol anggur yang diminum Mo Yeon dengan gaya tenggakan yang cukup seksi, cukup sukses untuk membuat Si Jin buru-buru menumpahkan segalanya yang selama ini tertahan di hati, hahha.. Urusan nanti atau besok Mo Yeon akan marah dan sewot, sudah biasa. Wkwkwkwkkk... Toh keesokan harinya daripada terlihat marah dan sewot, Mo Yeon lebih memilih untuk memalingkan muka, menghindarkan tatapan dengan Si Jin karena alasan malu, hehhe... Malu yang kemudian diterjemahkan oleh sang dokter menjadi bingung, ketika akhirnya Si Jin menanyakan tentang sambaran ciuman semalam.
Cieeeeee... Mo Yeon, bingung nie yeee... Bingung yang bagaimana nie ya?! Bingung itu linglung kan ya bukan malu yang lebih ke tersipu-sipu, berasa takut ketahuan perasaannya akan terbaca oleh sang kapten, wkwkwkwkkk... Atau bingung justru karena sudah yakin kl ada perasaan cinta, akan tetapi masih tanda tanya tentang apa sebenarnya pekerjaan Si jin di dunia militer yang sekarang ia jalani... Pekerjaan yang punya pengaruh besar untuk selalu menggagalkan kencan-kencan mereka berdua, pekerjaan yang dipilih Si Jin di atas Mo Yeon yang tak henti untuk selalu didekati dan digodanya... Bukankan cinta itu segala-galanya?? Hhmmm...
Hingga akhirnya tak tahan juga untuk Mo Yeon memastikan segala kebingungannya kepada Daniel yang dianggap sudah cukup lama mengenal siapa sebenarnya Si Jin. Maka ketika akhirnya jawaban yang diperlukan oleh Mo Yeon didapatkan, justru Daniel lah yang kemudian balik untuk bertanya kepada sang dokter bedah yang cantik itu. “... Cukup untuk mengerti dan mermahami atau malah menjauhi?? Pertanyaan Daniel kiranya dapat juga diartikan, siapkah untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang yang ‘spesial’ macam Si Jin itu... Hanya Tuhan yang tahu...
*Bertemu Kawan Lama
Kebingungan kali ini bukan saja milik Mo Yeon. Di lain pihak, Si Jin juga sedang kebingungan ketika dia terpaksa bertemu kawan seperjuangan, dalam sikon yang benar-benar jauh dari yang diharapkan. Bertemu kawan lama seharusnya menjadi salah satu momen yang paling manis, tapi tidak untuk Si Jin ketika harus bertemu Kapten Argus, justru di saat salah satunya sekarang sudah jauh berbeda prinsip ‘perjuangan’. Hahha, wwweew... Kapten yang dulu sangat dihormati Si Jin, diselamatkan mati-matian olehnya dan juga rekan-rekan yang lainnya dalam sebuah tugas, sekarang telah beralih tugas menjadi kepala gangster yang terlibat perdagangan senjata ilegal, hhhuuffttt...
Kekecewaan jelas terbaca dari mata Si Jin ketika mengetahui sang rekan kini berubah menjadi seorang yang brengsek dan bajingan. Menyelamatkan Argus akhirnya jadi salah satu penyesalan terbesar bagi Si Jin, ketika tahu akhirnya malah menjadi seperti sekarang. Predikat legenda tak pernah semenarik gelimangan uang dan berlian, Si Jin... Bahkan dengan uang dan berlian, Argus dapat menyuap polisi dan membodohi semuanya...
Berbeda dengan dirimu yang jiwa dan raga seutuhnya kau persembahkan untuk bangsa dan negaramu, maka tak salah jika angkatan bersenjata Korea Selatan mempercayakanmu menjadi salah satu pasukan elit. Jangankan berpikir rakus tentang uang dan kekayaan, bahkan urusan cinta dan perasaan saja berasa harus selalu dikorbankan. Ahh, Si Jin... Biarkan Argus seorang yang menjadi pecundang dan pesakitan.
*Mengalah Yang Sangat Terhormat
Predikat terhormat yang akhirnya untuk saat ini ingin saya sematkan kepada sang sersan yang penuh kharisma, Seo Dae Yeong. Dae Yeong yang masih saja dipandang sebelah mata oleh ayah Myung Joo dan Dae Yeong yang masih saja profesional dan kompeten menjalankan tugas-tugas dan fungsinya. Tak peduli sang atasan sedang mengawasi sekaligus memandangnya sebelah mata karena pangkatnya yang hanya seorang sersan, atasan tetaplah atasan, perintahnya pantang untuk tak dituruti atau disepelekan.
Tak jua berusaha untuk membela diri dan memertahankan hatinya yang sebenarnya cinta mati kepada Myung Joo, Dae Young memilih menyerahkan segala asumsi dan keputusan yang telah dibuat oleh sang atasan. Yupz, Dae Young memilih untuk kalah sekaligus mengalah, alih-alih menjadi seorang pejuang cinta yang terlihat seperti macan ompong. Tak ada gunanya berperang melawan gajah, sementara sikon sekarang bak seekor macan ompong. Daripada mati sia-sia tanpa perlawanan, lebih baik mundur untuk sementara waktu, memperkuat diri sembari terus berusaha untuk menumbuhkan taring dan gigi, agar suatu saat nanti apabila berkenan untuk dipertemukan dan bertarung kembali, semuanya akan berjalan seimbang dan dapat dibanggakan.
*Hangat Yang Terancam Lagi
Kebanggaan sebagai seorang prajurit menjadi tulang-punggung untuk kedaulatan dan kedamaian sebuah bangsa, seolah-olah menjadi sebuah kebanggaan yang rasanya ada dalam sebuah ruang kehormatan tersendiri. Ruang kehormatan yang lagi-lagi tak akan tersentuh oleh mulusnya sebuah hubungan percintaan. Perintah tugas yang sewaktu-waktu harus dituruti, inilah kesabaran dan pengertian bagi orang-orang di sekitarnya. Mo Yeon yang sedang kebingungan dan Mo Yeon yang mulai cemburu dan rindu dengan candaan-candaan Si Jin yang jahil dan juga narsis, berasa harus menghadapi Si Jin dengan dua kepribadian yang berbeda. Aaiihhh... Siapa yang tak sewot sekaligus GeeR dengan ulah Si Jin yang tiba-tiba memakaikan seragamnya kepada Mo Yeon yang sedang basah kuyup dan kedinginan... Bukan masalah memakaikannya, tapi jahil pernyataan yang menyebutkan bahwa Si Jin sudah melihat semua yang ‘sedang dipakai Mo Yeon’, sedangkan orang lain tidak boleh melihatnya, hahahaaa... Iih..iih... Belum lagi gurauan di saat mati lampu, wkwkwkwkkk... Mo Yeon pun akhirnya tak bisa menahan untuk tertawa geli. Benar kata Mo Yeon, Si Jin... Perempuan cantik selalu tertarik dengan laki-laki yang humoris... Yang macam dirimu itu lhoooh, hehhe...
Big Boss and Beautiful Girl... Beautiful Girl nya boleh saja masih jual-jual mahah gimana gitu, tapi teteup, hahha.. Di balik kedatangan Myung Joo, tak pelak membuat Mo Yeon cemburu keki juga. Segitunya ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Si Jin berduaan dengan Myung Joo, wkwkwkwkkk... Sayangnya, belum terjawab keingintahuan yang satu itu, malah yang terdengar kemudian kabar kl Si Jin akan segera kembali ke Korea. Hati yang mulai beranjak mencair dan berbunga-bunga, terancam trauma kegagalan lagi untuk kesekian kalinya. Kl dulu ngotot katanya ke Urk hanya untuk memenuhi tugas hukuman, kini, di saat sudah mulai menikmati asyiknya bertugas di daerah nun jauh berada sembari (ternyata) dapat bertemu lagi dengan yang sedang di hati, malah berasa jadi mimpi buruk lagi.
Ketakutan dan kebingungan tak terhindarkan lagi. Belum lagi Mo Yeon harus menghadapi pertanyaan Si Jin di malam terakhir sebelum esok ia harus kembali ke Korea. Mo Yeon yang sedang campur aduk perasaannya, sekali lagi harus menjawab pertanyaan Si jin tentang ciuman bibir itu. Haruskah Si Jin meminta maaf untuk kelancangannya tersebut atau Si Jin mengakui saja perasaannya? Hhmmm... Jika Mo Yeon masih juga menggantungmu untuk jawabannya, saya bantu saja untuk menjawabnya ya, Kapten... See you...
19.01.00
Unknown
“... Cukup, cukup untuk apa? Untuk mengerti atau untuk menjauhinya?...” Ahh, Mo Yeon... Kau yang mulai mengerti bahwa yang sedang membuatmu bingung adalah seorang anggota pasukan elit dari angkatan bersenjata Korea Selatan... Kau yang mulai beradaptasi dengan gaya-gaya gurauan sang kapten yang selalu jahil dan berhasil membuatmu sewot bersemu-semu malu dan rindu... Heyyyyy, Captain!!! Kira-kira kau sendiri pilih yang mana untuk ‘wine kiss’ ituuuuu?! Eeeehhhmm, ingin minta maaf atau ingin mengaku cinta saja?!! Ahh...
*Bingung, Malu Atau Takut?
Gara-gara sebotol anggur, semuanya jadi terhanyut suasana, wkwkwkwkkk... Gak Mo Yeon, gak juga dengan sang kapten, atau malah penontonnya, hahahaaa... Semuanya jadi terbawa dan akhirnya terhanyut suasana. Sebotol anggur yang diminum Mo Yeon dengan gaya tenggakan yang cukup seksi, cukup sukses untuk membuat Si Jin buru-buru menumpahkan segalanya yang selama ini tertahan di hati, hahha.. Urusan nanti atau besok Mo Yeon akan marah dan sewot, sudah biasa. Wkwkwkwkkk... Toh keesokan harinya daripada terlihat marah dan sewot, Mo Yeon lebih memilih untuk memalingkan muka, menghindarkan tatapan dengan Si Jin karena alasan malu, hehhe... Malu yang kemudian diterjemahkan oleh sang dokter menjadi bingung, ketika akhirnya Si Jin menanyakan tentang sambaran ciuman semalam.
Cieeeeee... Mo Yeon, bingung nie yeee... Bingung yang bagaimana nie ya?! Bingung itu linglung kan ya bukan malu yang lebih ke tersipu-sipu, berasa takut ketahuan perasaannya akan terbaca oleh sang kapten, wkwkwkwkkk... Atau bingung justru karena sudah yakin kl ada perasaan cinta, akan tetapi masih tanda tanya tentang apa sebenarnya pekerjaan Si jin di dunia militer yang sekarang ia jalani... Pekerjaan yang punya pengaruh besar untuk selalu menggagalkan kencan-kencan mereka berdua, pekerjaan yang dipilih Si Jin di atas Mo Yeon yang tak henti untuk selalu didekati dan digodanya... Bukankan cinta itu segala-galanya?? Hhmmm...
Hingga akhirnya tak tahan juga untuk Mo Yeon memastikan segala kebingungannya kepada Daniel yang dianggap sudah cukup lama mengenal siapa sebenarnya Si Jin. Maka ketika akhirnya jawaban yang diperlukan oleh Mo Yeon didapatkan, justru Daniel lah yang kemudian balik untuk bertanya kepada sang dokter bedah yang cantik itu. “... Cukup untuk mengerti dan mermahami atau malah menjauhi?? Pertanyaan Daniel kiranya dapat juga diartikan, siapkah untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang yang ‘spesial’ macam Si Jin itu... Hanya Tuhan yang tahu...
*Bertemu Kawan Lama
Kebingungan kali ini bukan saja milik Mo Yeon. Di lain pihak, Si Jin juga sedang kebingungan ketika dia terpaksa bertemu kawan seperjuangan, dalam sikon yang benar-benar jauh dari yang diharapkan. Bertemu kawan lama seharusnya menjadi salah satu momen yang paling manis, tapi tidak untuk Si Jin ketika harus bertemu Kapten Argus, justru di saat salah satunya sekarang sudah jauh berbeda prinsip ‘perjuangan’. Hahha, wwweew... Kapten yang dulu sangat dihormati Si Jin, diselamatkan mati-matian olehnya dan juga rekan-rekan yang lainnya dalam sebuah tugas, sekarang telah beralih tugas menjadi kepala gangster yang terlibat perdagangan senjata ilegal, hhhuuffttt...
Kekecewaan jelas terbaca dari mata Si Jin ketika mengetahui sang rekan kini berubah menjadi seorang yang brengsek dan bajingan. Menyelamatkan Argus akhirnya jadi salah satu penyesalan terbesar bagi Si Jin, ketika tahu akhirnya malah menjadi seperti sekarang. Predikat legenda tak pernah semenarik gelimangan uang dan berlian, Si Jin... Bahkan dengan uang dan berlian, Argus dapat menyuap polisi dan membodohi semuanya...
Berbeda dengan dirimu yang jiwa dan raga seutuhnya kau persembahkan untuk bangsa dan negaramu, maka tak salah jika angkatan bersenjata Korea Selatan mempercayakanmu menjadi salah satu pasukan elit. Jangankan berpikir rakus tentang uang dan kekayaan, bahkan urusan cinta dan perasaan saja berasa harus selalu dikorbankan. Ahh, Si Jin... Biarkan Argus seorang yang menjadi pecundang dan pesakitan.
*Mengalah Yang Sangat Terhormat
Predikat terhormat yang akhirnya untuk saat ini ingin saya sematkan kepada sang sersan yang penuh kharisma, Seo Dae Yeong. Dae Yeong yang masih saja dipandang sebelah mata oleh ayah Myung Joo dan Dae Yeong yang masih saja profesional dan kompeten menjalankan tugas-tugas dan fungsinya. Tak peduli sang atasan sedang mengawasi sekaligus memandangnya sebelah mata karena pangkatnya yang hanya seorang sersan, atasan tetaplah atasan, perintahnya pantang untuk tak dituruti atau disepelekan.
Tak jua berusaha untuk membela diri dan memertahankan hatinya yang sebenarnya cinta mati kepada Myung Joo, Dae Young memilih menyerahkan segala asumsi dan keputusan yang telah dibuat oleh sang atasan. Yupz, Dae Young memilih untuk kalah sekaligus mengalah, alih-alih menjadi seorang pejuang cinta yang terlihat seperti macan ompong. Tak ada gunanya berperang melawan gajah, sementara sikon sekarang bak seekor macan ompong. Daripada mati sia-sia tanpa perlawanan, lebih baik mundur untuk sementara waktu, memperkuat diri sembari terus berusaha untuk menumbuhkan taring dan gigi, agar suatu saat nanti apabila berkenan untuk dipertemukan dan bertarung kembali, semuanya akan berjalan seimbang dan dapat dibanggakan.
*Hangat Yang Terancam Lagi
Kebanggaan sebagai seorang prajurit menjadi tulang-punggung untuk kedaulatan dan kedamaian sebuah bangsa, seolah-olah menjadi sebuah kebanggaan yang rasanya ada dalam sebuah ruang kehormatan tersendiri. Ruang kehormatan yang lagi-lagi tak akan tersentuh oleh mulusnya sebuah hubungan percintaan. Perintah tugas yang sewaktu-waktu harus dituruti, inilah kesabaran dan pengertian bagi orang-orang di sekitarnya. Mo Yeon yang sedang kebingungan dan Mo Yeon yang mulai cemburu dan rindu dengan candaan-candaan Si Jin yang jahil dan juga narsis, berasa harus menghadapi Si Jin dengan dua kepribadian yang berbeda. Aaiihhh... Siapa yang tak sewot sekaligus GeeR dengan ulah Si Jin yang tiba-tiba memakaikan seragamnya kepada Mo Yeon yang sedang basah kuyup dan kedinginan... Bukan masalah memakaikannya, tapi jahil pernyataan yang menyebutkan bahwa Si Jin sudah melihat semua yang ‘sedang dipakai Mo Yeon’, sedangkan orang lain tidak boleh melihatnya, hahahaaa... Iih..iih... Belum lagi gurauan di saat mati lampu, wkwkwkwkkk... Mo Yeon pun akhirnya tak bisa menahan untuk tertawa geli. Benar kata Mo Yeon, Si Jin... Perempuan cantik selalu tertarik dengan laki-laki yang humoris... Yang macam dirimu itu lhoooh, hehhe...
Big Boss and Beautiful Girl... Beautiful Girl nya boleh saja masih jual-jual mahah gimana gitu, tapi teteup, hahha.. Di balik kedatangan Myung Joo, tak pelak membuat Mo Yeon cemburu keki juga. Segitunya ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Si Jin berduaan dengan Myung Joo, wkwkwkwkkk... Sayangnya, belum terjawab keingintahuan yang satu itu, malah yang terdengar kemudian kabar kl Si Jin akan segera kembali ke Korea. Hati yang mulai beranjak mencair dan berbunga-bunga, terancam trauma kegagalan lagi untuk kesekian kalinya. Kl dulu ngotot katanya ke Urk hanya untuk memenuhi tugas hukuman, kini, di saat sudah mulai menikmati asyiknya bertugas di daerah nun jauh berada sembari (ternyata) dapat bertemu lagi dengan yang sedang di hati, malah berasa jadi mimpi buruk lagi.
Ketakutan dan kebingungan tak terhindarkan lagi. Belum lagi Mo Yeon harus menghadapi pertanyaan Si Jin di malam terakhir sebelum esok ia harus kembali ke Korea. Mo Yeon yang sedang campur aduk perasaannya, sekali lagi harus menjawab pertanyaan Si jin tentang ciuman bibir itu. Haruskah Si Jin meminta maaf untuk kelancangannya tersebut atau Si Jin mengakui saja perasaannya? Hhmmm... Jika Mo Yeon masih juga menggantungmu untuk jawabannya, saya bantu saja untuk menjawabnya ya, Kapten... See you...
*Bingung, Malu Atau Takut?
Gara-gara sebotol anggur, semuanya jadi terhanyut suasana, wkwkwkwkkk... Gak Mo Yeon, gak juga dengan sang kapten, atau malah penontonnya, hahahaaa... Semuanya jadi terbawa dan akhirnya terhanyut suasana. Sebotol anggur yang diminum Mo Yeon dengan gaya tenggakan yang cukup seksi, cukup sukses untuk membuat Si Jin buru-buru menumpahkan segalanya yang selama ini tertahan di hati, hahha.. Urusan nanti atau besok Mo Yeon akan marah dan sewot, sudah biasa. Wkwkwkwkkk... Toh keesokan harinya daripada terlihat marah dan sewot, Mo Yeon lebih memilih untuk memalingkan muka, menghindarkan tatapan dengan Si Jin karena alasan malu, hehhe... Malu yang kemudian diterjemahkan oleh sang dokter menjadi bingung, ketika akhirnya Si Jin menanyakan tentang sambaran ciuman semalam.
Cieeeeee... Mo Yeon, bingung nie yeee... Bingung yang bagaimana nie ya?! Bingung itu linglung kan ya bukan malu yang lebih ke tersipu-sipu, berasa takut ketahuan perasaannya akan terbaca oleh sang kapten, wkwkwkwkkk... Atau bingung justru karena sudah yakin kl ada perasaan cinta, akan tetapi masih tanda tanya tentang apa sebenarnya pekerjaan Si jin di dunia militer yang sekarang ia jalani... Pekerjaan yang punya pengaruh besar untuk selalu menggagalkan kencan-kencan mereka berdua, pekerjaan yang dipilih Si Jin di atas Mo Yeon yang tak henti untuk selalu didekati dan digodanya... Bukankan cinta itu segala-galanya?? Hhmmm...
Hingga akhirnya tak tahan juga untuk Mo Yeon memastikan segala kebingungannya kepada Daniel yang dianggap sudah cukup lama mengenal siapa sebenarnya Si Jin. Maka ketika akhirnya jawaban yang diperlukan oleh Mo Yeon didapatkan, justru Daniel lah yang kemudian balik untuk bertanya kepada sang dokter bedah yang cantik itu. “... Cukup untuk mengerti dan mermahami atau malah menjauhi?? Pertanyaan Daniel kiranya dapat juga diartikan, siapkah untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang yang ‘spesial’ macam Si Jin itu... Hanya Tuhan yang tahu...
*Bertemu Kawan Lama
Kebingungan kali ini bukan saja milik Mo Yeon. Di lain pihak, Si Jin juga sedang kebingungan ketika dia terpaksa bertemu kawan seperjuangan, dalam sikon yang benar-benar jauh dari yang diharapkan. Bertemu kawan lama seharusnya menjadi salah satu momen yang paling manis, tapi tidak untuk Si Jin ketika harus bertemu Kapten Argus, justru di saat salah satunya sekarang sudah jauh berbeda prinsip ‘perjuangan’. Hahha, wwweew... Kapten yang dulu sangat dihormati Si Jin, diselamatkan mati-matian olehnya dan juga rekan-rekan yang lainnya dalam sebuah tugas, sekarang telah beralih tugas menjadi kepala gangster yang terlibat perdagangan senjata ilegal, hhhuuffttt...
Kekecewaan jelas terbaca dari mata Si Jin ketika mengetahui sang rekan kini berubah menjadi seorang yang brengsek dan bajingan. Menyelamatkan Argus akhirnya jadi salah satu penyesalan terbesar bagi Si Jin, ketika tahu akhirnya malah menjadi seperti sekarang. Predikat legenda tak pernah semenarik gelimangan uang dan berlian, Si Jin... Bahkan dengan uang dan berlian, Argus dapat menyuap polisi dan membodohi semuanya...
Berbeda dengan dirimu yang jiwa dan raga seutuhnya kau persembahkan untuk bangsa dan negaramu, maka tak salah jika angkatan bersenjata Korea Selatan mempercayakanmu menjadi salah satu pasukan elit. Jangankan berpikir rakus tentang uang dan kekayaan, bahkan urusan cinta dan perasaan saja berasa harus selalu dikorbankan. Ahh, Si Jin... Biarkan Argus seorang yang menjadi pecundang dan pesakitan.
*Mengalah Yang Sangat Terhormat
Predikat terhormat yang akhirnya untuk saat ini ingin saya sematkan kepada sang sersan yang penuh kharisma, Seo Dae Yeong. Dae Yeong yang masih saja dipandang sebelah mata oleh ayah Myung Joo dan Dae Yeong yang masih saja profesional dan kompeten menjalankan tugas-tugas dan fungsinya. Tak peduli sang atasan sedang mengawasi sekaligus memandangnya sebelah mata karena pangkatnya yang hanya seorang sersan, atasan tetaplah atasan, perintahnya pantang untuk tak dituruti atau disepelekan.
Tak jua berusaha untuk membela diri dan memertahankan hatinya yang sebenarnya cinta mati kepada Myung Joo, Dae Young memilih menyerahkan segala asumsi dan keputusan yang telah dibuat oleh sang atasan. Yupz, Dae Young memilih untuk kalah sekaligus mengalah, alih-alih menjadi seorang pejuang cinta yang terlihat seperti macan ompong. Tak ada gunanya berperang melawan gajah, sementara sikon sekarang bak seekor macan ompong. Daripada mati sia-sia tanpa perlawanan, lebih baik mundur untuk sementara waktu, memperkuat diri sembari terus berusaha untuk menumbuhkan taring dan gigi, agar suatu saat nanti apabila berkenan untuk dipertemukan dan bertarung kembali, semuanya akan berjalan seimbang dan dapat dibanggakan.
*Hangat Yang Terancam Lagi
Kebanggaan sebagai seorang prajurit menjadi tulang-punggung untuk kedaulatan dan kedamaian sebuah bangsa, seolah-olah menjadi sebuah kebanggaan yang rasanya ada dalam sebuah ruang kehormatan tersendiri. Ruang kehormatan yang lagi-lagi tak akan tersentuh oleh mulusnya sebuah hubungan percintaan. Perintah tugas yang sewaktu-waktu harus dituruti, inilah kesabaran dan pengertian bagi orang-orang di sekitarnya. Mo Yeon yang sedang kebingungan dan Mo Yeon yang mulai cemburu dan rindu dengan candaan-candaan Si Jin yang jahil dan juga narsis, berasa harus menghadapi Si Jin dengan dua kepribadian yang berbeda. Aaiihhh... Siapa yang tak sewot sekaligus GeeR dengan ulah Si Jin yang tiba-tiba memakaikan seragamnya kepada Mo Yeon yang sedang basah kuyup dan kedinginan... Bukan masalah memakaikannya, tapi jahil pernyataan yang menyebutkan bahwa Si Jin sudah melihat semua yang ‘sedang dipakai Mo Yeon’, sedangkan orang lain tidak boleh melihatnya, hahahaaa... Iih..iih... Belum lagi gurauan di saat mati lampu, wkwkwkwkkk... Mo Yeon pun akhirnya tak bisa menahan untuk tertawa geli. Benar kata Mo Yeon, Si Jin... Perempuan cantik selalu tertarik dengan laki-laki yang humoris... Yang macam dirimu itu lhoooh, hehhe...
Big Boss and Beautiful Girl... Beautiful Girl nya boleh saja masih jual-jual mahah gimana gitu, tapi teteup, hahha.. Di balik kedatangan Myung Joo, tak pelak membuat Mo Yeon cemburu keki juga. Segitunya ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Si Jin berduaan dengan Myung Joo, wkwkwkwkkk... Sayangnya, belum terjawab keingintahuan yang satu itu, malah yang terdengar kemudian kabar kl Si Jin akan segera kembali ke Korea. Hati yang mulai beranjak mencair dan berbunga-bunga, terancam trauma kegagalan lagi untuk kesekian kalinya. Kl dulu ngotot katanya ke Urk hanya untuk memenuhi tugas hukuman, kini, di saat sudah mulai menikmati asyiknya bertugas di daerah nun jauh berada sembari (ternyata) dapat bertemu lagi dengan yang sedang di hati, malah berasa jadi mimpi buruk lagi.
Ketakutan dan kebingungan tak terhindarkan lagi. Belum lagi Mo Yeon harus menghadapi pertanyaan Si Jin di malam terakhir sebelum esok ia harus kembali ke Korea. Mo Yeon yang sedang campur aduk perasaannya, sekali lagi harus menjawab pertanyaan Si jin tentang ciuman bibir itu. Haruskah Si Jin meminta maaf untuk kelancangannya tersebut atau Si Jin mengakui saja perasaannya? Hhmmm... Jika Mo Yeon masih juga menggantungmu untuk jawabannya, saya bantu saja untuk menjawabnya ya, Kapten... See you...
Jumat, 29 Juli 2016
“... Ada satu pernyataanmu yang benar... “ “Kau memang benar-benar terlihat seksi ketika melakukan operasi...” Inilah sebentuk candaan Si Jin untuk Mo Yeon ketika mereka saling bicara terpisah atap, saat Si Jin mulai menjalani masa hukumannya, dikurung dalam ruang penyimpanan barang. Hhmmm... Entahlah karena satu hal konyol ini atau memang karena urusan kemanusiaan yang membuat Si Jin malam itu menjadi sedemikian nekad melanggar perintah atasan demi untuk memberi kesempatan Mo Yeon melakukan operasi kepada Presiden Mubarak. Tapi seperti gurauan Si Jin lagi, perempuan cantik, anak-anak, dan orang tua harus dilindungi. Dan dua di antaranya, malam ini sedang ada di hadapanku dan membutuhkan pertolonganku. Ahh, Si Jin aah...
*Antara Cinta dan Kemanusiaan
Andai memang betul hanya karena ‘penasaran seksi’ yang menjadi alasan utama Si Jin akhirnya memberikan kesempatan Mo Yeon untuk melakukan operasi kepada pemimpin Liga Arab tersebut, haddeh... Benar-benar akan jadi sesuatu yang konyol untuk pertaruhan karier Si Jin, wkwkwkwkkk... Tapi itulah Si Jin, yang selalu romantis, sensitif, sekaligus pintar merayu di balik candaan bergaya ‘slenge’an’ kepada Mo Yeon. Tak peduli dia sendiri sedang terancam sanksi indispliner yang mengancam laju kenaikan pangkat dan jabatannya di kemiliteran, tapi untuk urusan perempuan yang sedang di hati, Si Jin tahu betul bagaimana dia harus bersikap dan memposisikan diri.
Faktanya, malam itu memang harus ada yang berani mengambil keputusan, atau seluruh Arab akan kehilangan sosok pemimpinnya karena situasi dan kondisi yang sebenarnya dapat diambil jalan tengahnya. Meskipun ada jaminan militer tidak akan disalahkan apabila sang pemimpin Liga Arab itu meninggal, tapi sisi kemanusiaan jugalah yang akhirnya meluluhkan segala kekakuan protokoler militer dan kenegaraan. Sisi kemanusiaan yang didukung dengan fakta bahwa ada tim dokter yang sanggup untuk memberikan pertolongan maksimal kepada sang pemimpin malam itu, meski akhirnya harus ada yang dilanggar dan menyalahi ‘SOP’, tapi ya sudahlah resiko pasti ada untuk setiap keputusan dan pilihan yang diambil.
Dari sisi Si Jin sendiri selain karena sisi kemanusiaan, ini lebih kepada usahanya untuk berusaha memberikan keleluasaan kepada Mo Yeon untuk melaksanakan apa yang menjadi keahlian dan kebangaannya. Bukan lagi urusan siapa yang paling berpengaruh, tapi inilah secara tidak langsung bentuk kepercayaan dan pengakuan Si Jin kepada Mo Yeon. Untuk selanjutnya justru Mo Yeon yang merasa bersalah, lagi-lagi inilah bagian dari suatu kewajaran. Siapa yang tidak merasa bersalah kl berada dalam posisi Mo Yeon saat itu? Di sisi lain mungkin Mo Yeon lega dan bangga karena operasinya bersama tim dokter yang lain, berjalan sukses. Akan tetapi, di ujung sana ada Si Jin yang sedang terkurung sendirian dalam gudang penyimpanan barang yang lembab dan banyak nyamuk sebagai bagian dari hukuman karena melanggar perintah mengizinkan operasi, siapa yang tidak terusik di hati?? Cinta jika sudah bicara, ohh...
*Antara Myung Joo dan Dae Yeong
Ada Si Jin yang sedang terancam sangsi kemiliteran, ada juga Dae Yeong yang sudah dipastikan akan ‘terusir’ dari Urk, untuk segera kembali ke Korea karena urusan hati. Hati yang bernama Letnan Yoon Myung Joo. Dokter cantik yang sepintas terlihat culas, tapi sebenarnya dia sosok yang cerdas dan penuh percaya diri. Sosok anak perempuan yang mandiri dan kuat dari seorang jenderal. Pantas jika ayahnya bermaksud untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang hebat dan sepadan untuknya, yaitu Kapten Yoo Si Jin. Tapi tenyata yang hebat dan sepadan menurut Myung Joo bukanlah Si Jin, yang katanya di depan Dae Yeong justru Si Jin itu terlihat terlalu ‘cantik’, wkwkwkkwkkk... Yupz, pada akhirnya sang jenderal mesti harus menghadapi kenyataan, kl sang putri yang dibanggakannya tersebut ternyata justru memilih berpaling dan cinta mati kepada seorang prajuit berpangkat sersan, bernama Seo Dae Yeong.
Tak menyerah begitu saja kepada kemauan sang putri, berbagai siasat terpaksa diatur untuk berusaha menjauhkan sang putri dari sersan pujaannya. Dan Dae Yeong bisa apa, dia hanya seorang prajurit bawahan yang mau tidak mau harus tunduk kepada perintah atasan, terlebih hanya untuk urusan cinta yang kedengarannya hanya seperti bentuk debu beterbangan bila dibandingkan dengan urusan kedaulatan bangsa dan negara.
Berawal dari sebuah keisengan yang dilancarkan oleh Myung Joo untuk menghindari perjodohan ayahnya dengan sang calon jenderal pilihan, akhirnya Dae Yeong benar-benar menjatuhkan pilihannya kepada Myung Joo. Tapi nasib cinta yang harus dialami Dae Yeong, hhhuufftt... Lepas dari masalah ditinggal menikah duluan oleh pacar yang sebelumnya, kini ketika menjalin cinta dengan Myung Joo, berasa lawan yang harus dihadapi sekokoh dan seangkuh Tembok Besar Cina. Tapi bukan Myung Joo namanya jika dia hanya diam dan berpasrah pada ketidaksetujuan sang ayah. Dae Yeong boleh saja pasrah dengan nasib hubungannya dengan Myung Joo, tapi sepertinya Myung Joo masih tetap berjuang untuk memertahankan hubungannya dengan Dae Young. Bahkan ketika niat menyusul sang kekasih di tempat tugas berbuah kekecewaan, tetap saja cinta yang besar di antara keduanya justru semakin terlihat karena rasa`sakit yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh keduanya. Semakin cinta menusuk ke hatimu, akan semakin dalam luka yang digoreskan, hehhe...
*Antara Kencan dan Telepon Panggilan
Sementara sang jenderal sibuk menjodohkan putrinya dengan Si Jin, justru Si Jin sendiri sedang ribet dengan urusan hatinya sendiri. Urusan hati dengan dokter bedah yang paling cantik di Urk atau juga Korea Selatan saat ini, hahahaaa.. Dokter Kang yang untuk selanjutnya justru membawa Si Jin menjadi tamu kehormatan bagi Presiden Mubarak. Karena kenekadan dari Si Jin dan juga kehebatan Mo Yeon, akhirnya sang pemimpin Liga Arab tersebut memberikan apresiasi serta rasa terima kasihnya kepada Si Jin dan Mo Yeon atas upaya untuk menyelamatkannya dari sikon darurat sebelumnya. Apresiasi serta rasa terima kasih yang di antaranya diwujudkan dengan sebuah hadiah berupa kartu akses untuk melakukan apa saja di wilayah negara-negara Arab bagi Si Jin dan Mo Yeon. Hiyaaaaa... Kl Mo Yeon sudah membayangkan untuk melakukan hal-hal yang idealis berkenaan dengan privilige tersebut, lain lagi dengan yang dilakukan Si Jin... Lagi-lagi, gentleman satu ini... Sederhana saja, tapi romantis banget!!! Dua jam waktu ekstra, kartu tersebut dipakai Si Jin untuk menyewa mobil keprisidenan dan mengajak Mo Yeon jalan-jalan serta berkencan. Yihaaaaaa... Pokoknya quality time sekaleee!!!
Sekiranya kencan siang itu akan berjalan lancar, tapi yang namanya berhadapan dengan seorang prajurit pilihan, bersiaplah dengan panggilan tugas sewaktu-waktu. Dan memang siang itu ketika berdua sedang saling memuji dan merayu (ceileeee..., yang katanya Si Jin, senyumnya Mo Yeon makin hari terlihat makin manis, wkwkwkwkwkwkk), bunyi dering smartphone kembali membuyarkan segalanya. Kencan yang kata Mo Yeon harus berakhir lagi di tengah jalan. Tapi kali ini Mo Yeon mencoba untuk menahan diri sekaligus belajar beradaptasi, sembari memohon di hadapan Si Jin, kl boleh sekarang jangan lagi berrahasia di depannya. Si Jin kali ini menurutinya dan membawa Mo Yeon ke dalam sebuah acara penghormatan terakhir untuk rekan prajurit Si Jin yang gugur ketika menunaikan tugas di bawah bendera PBB. Banyak cerita yang pilu dan penuh bahaya, mungkin itulah salah satu alasan Si jin tidak pernah dapat sepenuhnya berbagi dengan Mo Yeon tentang dunianya dan pekerjaannya. Tapi jika cinta dan pengertian sudah mulai berpadu, hhmmm...
*Antara Kehormatan, Harga Diri, dan Sebotol Anggur
Cerita tentang ancaman sanksi yang harus diterima oleh Si Jin seperti tinggal tunggu waktunya saja. Dipikir Mo Yeon semua urusan selesai karena faktanya Presiden Mubarak sukses menjalani operasi dan tak kurang suatu apa, tapi dalam dunia kemiliteran melanggar tugas beda urusan dengan sisi kemanusiaan. Intinya untuk setiap pelanggaran perintah atasan, prajurit harus bersiap dan menerima segala konsekuensinya. Demikian halnya dengan Si Jin. Sanksi pemotongan gaji selama tiga bulan juga pembatalan promosi kenaikan pangkat dan jabatan, diterima Si Jin dengan lapang dada dan sikap ksatria. Ksatria yang tahu pasti bagaimana dia menempatkan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang prajurit. Bukan seperti halnya pecundang dan pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari tanggung jawab dan tidak mampu membuat keputusan yang bijak. Toh di balik sangsi yang sudah dijatuhkan, masih tersimpan kepuasan batin bahwa di balik pelanggaran aturannya dia berhasil menyelamatkan salah satu nyawa pemimpin dunia.
Berbeda sudut pandang dalam hal pertanggungjawaban ini juga yang membuat seorang dokter sekelas Mo Yeon tidak terima jika Si Jin menjadi satu-satunya yang dipersalahkan dan menerima sanksi yang tidak bisa dikatakan enteng. Mo Yeon berkeras di hadapan atasan Si Jin bahwa tidak adil jika Si Jin yang dipersalahkan. Mo Yeon yang malang... Tak seorangpun yang menyangsikan pembelaannya kepada Si Jin saat itu, tapi bagi Si Jin bisa jadi ini sebuah hal yang akan mengurangi reputasi kehormatan dan harga dirinya.
Tanpa bermaksud untuk sekali lagi menyudutkan Mo Yeon, tapi memang bagi Si Jin apa yang dilakukan oleh Mo Yeon di depan atasannya tersebut tidak semestinya dilakukan dengan sebegitu frontalnya. Selain memang tidak akan mengubah keadaan, apa yang dilakukan oleh Mo Yeon justru malah seolah-olah mencederai citra ksatria Si Jin. Gampangnya, berani berbuat, berani juga bertanggung jawab!!! Itu saja... Apalagi dalam dunia militer yang anti ‘abu-abu’. Faktanya memang Si Jin melanggar aturan dan harus mendapatkan hukuman.
Untuk kelanjutannya, Mo Yeon harus seperti apa dan bagaimana di hadapan Si Jin, saya yakin cinta akan membantu segalanya menjadi lebih mudah dan saling memahami satu sama lain. Di balik segala kesalahpahaman dan kemarahan, ada cinta yang tetap terpancar. Ada kehadiran yang sesungguhnya akan selalu dirindukan daripada sendiri di antara problematika yang sedang dihadapi. Toh sebotol anggur yang diberikan Si Jin kepada Mo Yeon ketika mereka berdua secara tidak sengaja berjumpa lagi di dapur, berhasil menghangatkan kembali suasana. Ada cerita dan candaan lagi di antar mereka. Terlebih untuk Si Jin... Melihat Mo Yeon dengan cueknya menenggak anggur langsung dari botolnya, alih-alih menunggu gelas dari uluran tangannya, terasa begitu ‘seksi’ dan ‘berbeda’. Hehhe... Dokter Kang Mo Yeon... Tanpa sadar, dia semakin membuat laki-laki yang sedang di hadapannya itu jatuh hati, dengan ulah cueknya yang seolah-olah malah menggoda... Menggoda yang elegan, hahahahh... Lalu sambaran ciuman ituuuuuuu... Semoga akan semakin berpadu nanti-nantinya. See you...
*Quote of the day: Si Jin: “Prajurit selalu hidup dengan kain kafan. Jika kau gugur di sebuah tanah antah-berantah demi kepentingan bangsa dan negaramu, tanah tempat kau gugur akan menjadi kuburanmu dan seragammu akan menjadi kain kafanmu. Itulah prinsip yang harus kau pegang di manapun kau berada dengan seragammu itu. Jika kamu telah menjadikan itu sebagai prinsipmu, jadilah terhormat setiap saat. Tidak ada alasan untuk jatuh dan menjadi rendah.
*Antara Cinta dan Kemanusiaan
Andai memang betul hanya karena ‘penasaran seksi’ yang menjadi alasan utama Si Jin akhirnya memberikan kesempatan Mo Yeon untuk melakukan operasi kepada pemimpin Liga Arab tersebut, haddeh... Benar-benar akan jadi sesuatu yang konyol untuk pertaruhan karier Si Jin, wkwkwkwkkk... Tapi itulah Si Jin, yang selalu romantis, sensitif, sekaligus pintar merayu di balik candaan bergaya ‘slenge’an’ kepada Mo Yeon. Tak peduli dia sendiri sedang terancam sanksi indispliner yang mengancam laju kenaikan pangkat dan jabatannya di kemiliteran, tapi untuk urusan perempuan yang sedang di hati, Si Jin tahu betul bagaimana dia harus bersikap dan memposisikan diri.
Dari sisi Si Jin sendiri selain karena sisi kemanusiaan, ini lebih kepada usahanya untuk berusaha memberikan keleluasaan kepada Mo Yeon untuk melaksanakan apa yang menjadi keahlian dan kebangaannya. Bukan lagi urusan siapa yang paling berpengaruh, tapi inilah secara tidak langsung bentuk kepercayaan dan pengakuan Si Jin kepada Mo Yeon. Untuk selanjutnya justru Mo Yeon yang merasa bersalah, lagi-lagi inilah bagian dari suatu kewajaran. Siapa yang tidak merasa bersalah kl berada dalam posisi Mo Yeon saat itu? Di sisi lain mungkin Mo Yeon lega dan bangga karena operasinya bersama tim dokter yang lain, berjalan sukses. Akan tetapi, di ujung sana ada Si Jin yang sedang terkurung sendirian dalam gudang penyimpanan barang yang lembab dan banyak nyamuk sebagai bagian dari hukuman karena melanggar perintah mengizinkan operasi, siapa yang tidak terusik di hati?? Cinta jika sudah bicara, ohh...
*Antara Myung Joo dan Dae Yeong
Ada Si Jin yang sedang terancam sangsi kemiliteran, ada juga Dae Yeong yang sudah dipastikan akan ‘terusir’ dari Urk, untuk segera kembali ke Korea karena urusan hati. Hati yang bernama Letnan Yoon Myung Joo. Dokter cantik yang sepintas terlihat culas, tapi sebenarnya dia sosok yang cerdas dan penuh percaya diri. Sosok anak perempuan yang mandiri dan kuat dari seorang jenderal. Pantas jika ayahnya bermaksud untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang hebat dan sepadan untuknya, yaitu Kapten Yoo Si Jin. Tapi tenyata yang hebat dan sepadan menurut Myung Joo bukanlah Si Jin, yang katanya di depan Dae Yeong justru Si Jin itu terlihat terlalu ‘cantik’, wkwkwkkwkkk... Yupz, pada akhirnya sang jenderal mesti harus menghadapi kenyataan, kl sang putri yang dibanggakannya tersebut ternyata justru memilih berpaling dan cinta mati kepada seorang prajuit berpangkat sersan, bernama Seo Dae Yeong.
Tak menyerah begitu saja kepada kemauan sang putri, berbagai siasat terpaksa diatur untuk berusaha menjauhkan sang putri dari sersan pujaannya. Dan Dae Yeong bisa apa, dia hanya seorang prajurit bawahan yang mau tidak mau harus tunduk kepada perintah atasan, terlebih hanya untuk urusan cinta yang kedengarannya hanya seperti bentuk debu beterbangan bila dibandingkan dengan urusan kedaulatan bangsa dan negara.
Berawal dari sebuah keisengan yang dilancarkan oleh Myung Joo untuk menghindari perjodohan ayahnya dengan sang calon jenderal pilihan, akhirnya Dae Yeong benar-benar menjatuhkan pilihannya kepada Myung Joo. Tapi nasib cinta yang harus dialami Dae Yeong, hhhuufftt... Lepas dari masalah ditinggal menikah duluan oleh pacar yang sebelumnya, kini ketika menjalin cinta dengan Myung Joo, berasa lawan yang harus dihadapi sekokoh dan seangkuh Tembok Besar Cina. Tapi bukan Myung Joo namanya jika dia hanya diam dan berpasrah pada ketidaksetujuan sang ayah. Dae Yeong boleh saja pasrah dengan nasib hubungannya dengan Myung Joo, tapi sepertinya Myung Joo masih tetap berjuang untuk memertahankan hubungannya dengan Dae Young. Bahkan ketika niat menyusul sang kekasih di tempat tugas berbuah kekecewaan, tetap saja cinta yang besar di antara keduanya justru semakin terlihat karena rasa`sakit yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh keduanya. Semakin cinta menusuk ke hatimu, akan semakin dalam luka yang digoreskan, hehhe...
*Antara Kencan dan Telepon Panggilan
Sementara sang jenderal sibuk menjodohkan putrinya dengan Si Jin, justru Si Jin sendiri sedang ribet dengan urusan hatinya sendiri. Urusan hati dengan dokter bedah yang paling cantik di Urk atau juga Korea Selatan saat ini, hahahaaa.. Dokter Kang yang untuk selanjutnya justru membawa Si Jin menjadi tamu kehormatan bagi Presiden Mubarak. Karena kenekadan dari Si Jin dan juga kehebatan Mo Yeon, akhirnya sang pemimpin Liga Arab tersebut memberikan apresiasi serta rasa terima kasihnya kepada Si Jin dan Mo Yeon atas upaya untuk menyelamatkannya dari sikon darurat sebelumnya. Apresiasi serta rasa terima kasih yang di antaranya diwujudkan dengan sebuah hadiah berupa kartu akses untuk melakukan apa saja di wilayah negara-negara Arab bagi Si Jin dan Mo Yeon. Hiyaaaaa... Kl Mo Yeon sudah membayangkan untuk melakukan hal-hal yang idealis berkenaan dengan privilige tersebut, lain lagi dengan yang dilakukan Si Jin... Lagi-lagi, gentleman satu ini... Sederhana saja, tapi romantis banget!!! Dua jam waktu ekstra, kartu tersebut dipakai Si Jin untuk menyewa mobil keprisidenan dan mengajak Mo Yeon jalan-jalan serta berkencan. Yihaaaaaa... Pokoknya quality time sekaleee!!!
Sekiranya kencan siang itu akan berjalan lancar, tapi yang namanya berhadapan dengan seorang prajurit pilihan, bersiaplah dengan panggilan tugas sewaktu-waktu. Dan memang siang itu ketika berdua sedang saling memuji dan merayu (ceileeee..., yang katanya Si Jin, senyumnya Mo Yeon makin hari terlihat makin manis, wkwkwkwkwkwkk), bunyi dering smartphone kembali membuyarkan segalanya. Kencan yang kata Mo Yeon harus berakhir lagi di tengah jalan. Tapi kali ini Mo Yeon mencoba untuk menahan diri sekaligus belajar beradaptasi, sembari memohon di hadapan Si Jin, kl boleh sekarang jangan lagi berrahasia di depannya. Si Jin kali ini menurutinya dan membawa Mo Yeon ke dalam sebuah acara penghormatan terakhir untuk rekan prajurit Si Jin yang gugur ketika menunaikan tugas di bawah bendera PBB. Banyak cerita yang pilu dan penuh bahaya, mungkin itulah salah satu alasan Si jin tidak pernah dapat sepenuhnya berbagi dengan Mo Yeon tentang dunianya dan pekerjaannya. Tapi jika cinta dan pengertian sudah mulai berpadu, hhmmm...
*Antara Kehormatan, Harga Diri, dan Sebotol Anggur
Cerita tentang ancaman sanksi yang harus diterima oleh Si Jin seperti tinggal tunggu waktunya saja. Dipikir Mo Yeon semua urusan selesai karena faktanya Presiden Mubarak sukses menjalani operasi dan tak kurang suatu apa, tapi dalam dunia kemiliteran melanggar tugas beda urusan dengan sisi kemanusiaan. Intinya untuk setiap pelanggaran perintah atasan, prajurit harus bersiap dan menerima segala konsekuensinya. Demikian halnya dengan Si Jin. Sanksi pemotongan gaji selama tiga bulan juga pembatalan promosi kenaikan pangkat dan jabatan, diterima Si Jin dengan lapang dada dan sikap ksatria. Ksatria yang tahu pasti bagaimana dia menempatkan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang prajurit. Bukan seperti halnya pecundang dan pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari tanggung jawab dan tidak mampu membuat keputusan yang bijak. Toh di balik sangsi yang sudah dijatuhkan, masih tersimpan kepuasan batin bahwa di balik pelanggaran aturannya dia berhasil menyelamatkan salah satu nyawa pemimpin dunia.
Berbeda sudut pandang dalam hal pertanggungjawaban ini juga yang membuat seorang dokter sekelas Mo Yeon tidak terima jika Si Jin menjadi satu-satunya yang dipersalahkan dan menerima sanksi yang tidak bisa dikatakan enteng. Mo Yeon berkeras di hadapan atasan Si Jin bahwa tidak adil jika Si Jin yang dipersalahkan. Mo Yeon yang malang... Tak seorangpun yang menyangsikan pembelaannya kepada Si Jin saat itu, tapi bagi Si Jin bisa jadi ini sebuah hal yang akan mengurangi reputasi kehormatan dan harga dirinya.
Tanpa bermaksud untuk sekali lagi menyudutkan Mo Yeon, tapi memang bagi Si Jin apa yang dilakukan oleh Mo Yeon di depan atasannya tersebut tidak semestinya dilakukan dengan sebegitu frontalnya. Selain memang tidak akan mengubah keadaan, apa yang dilakukan oleh Mo Yeon justru malah seolah-olah mencederai citra ksatria Si Jin. Gampangnya, berani berbuat, berani juga bertanggung jawab!!! Itu saja... Apalagi dalam dunia militer yang anti ‘abu-abu’. Faktanya memang Si Jin melanggar aturan dan harus mendapatkan hukuman.
Untuk kelanjutannya, Mo Yeon harus seperti apa dan bagaimana di hadapan Si Jin, saya yakin cinta akan membantu segalanya menjadi lebih mudah dan saling memahami satu sama lain. Di balik segala kesalahpahaman dan kemarahan, ada cinta yang tetap terpancar. Ada kehadiran yang sesungguhnya akan selalu dirindukan daripada sendiri di antara problematika yang sedang dihadapi. Toh sebotol anggur yang diberikan Si Jin kepada Mo Yeon ketika mereka berdua secara tidak sengaja berjumpa lagi di dapur, berhasil menghangatkan kembali suasana. Ada cerita dan candaan lagi di antar mereka. Terlebih untuk Si Jin... Melihat Mo Yeon dengan cueknya menenggak anggur langsung dari botolnya, alih-alih menunggu gelas dari uluran tangannya, terasa begitu ‘seksi’ dan ‘berbeda’. Hehhe... Dokter Kang Mo Yeon... Tanpa sadar, dia semakin membuat laki-laki yang sedang di hadapannya itu jatuh hati, dengan ulah cueknya yang seolah-olah malah menggoda... Menggoda yang elegan, hahahahh... Lalu sambaran ciuman ituuuuuuu... Semoga akan semakin berpadu nanti-nantinya. See you...
*Quote of the day: Si Jin: “Prajurit selalu hidup dengan kain kafan. Jika kau gugur di sebuah tanah antah-berantah demi kepentingan bangsa dan negaramu, tanah tempat kau gugur akan menjadi kuburanmu dan seragammu akan menjadi kain kafanmu. Itulah prinsip yang harus kau pegang di manapun kau berada dengan seragammu itu. Jika kamu telah menjadikan itu sebagai prinsipmu, jadilah terhormat setiap saat. Tidak ada alasan untuk jatuh dan menjadi rendah.
18.43.00
Unknown
“... Ada satu pernyataanmu yang benar... “ “Kau memang benar-benar terlihat seksi ketika melakukan operasi...” Inilah sebentuk candaan Si Jin untuk Mo Yeon ketika mereka saling bicara terpisah atap, saat Si Jin mulai menjalani masa hukumannya, dikurung dalam ruang penyimpanan barang. Hhmmm... Entahlah karena satu hal konyol ini atau memang karena urusan kemanusiaan yang membuat Si Jin malam itu menjadi sedemikian nekad melanggar perintah atasan demi untuk memberi kesempatan Mo Yeon melakukan operasi kepada Presiden Mubarak. Tapi seperti gurauan Si Jin lagi, perempuan cantik, anak-anak, dan orang tua harus dilindungi. Dan dua di antaranya, malam ini sedang ada di hadapanku dan membutuhkan pertolonganku. Ahh, Si Jin aah...
*Antara Cinta dan Kemanusiaan
Andai memang betul hanya karena ‘penasaran seksi’ yang menjadi alasan utama Si Jin akhirnya memberikan kesempatan Mo Yeon untuk melakukan operasi kepada pemimpin Liga Arab tersebut, haddeh... Benar-benar akan jadi sesuatu yang konyol untuk pertaruhan karier Si Jin, wkwkwkwkkk... Tapi itulah Si Jin, yang selalu romantis, sensitif, sekaligus pintar merayu di balik candaan bergaya ‘slenge’an’ kepada Mo Yeon. Tak peduli dia sendiri sedang terancam sanksi indispliner yang mengancam laju kenaikan pangkat dan jabatannya di kemiliteran, tapi untuk urusan perempuan yang sedang di hati, Si Jin tahu betul bagaimana dia harus bersikap dan memposisikan diri.
Faktanya, malam itu memang harus ada yang berani mengambil keputusan, atau seluruh Arab akan kehilangan sosok pemimpinnya karena situasi dan kondisi yang sebenarnya dapat diambil jalan tengahnya. Meskipun ada jaminan militer tidak akan disalahkan apabila sang pemimpin Liga Arab itu meninggal, tapi sisi kemanusiaan jugalah yang akhirnya meluluhkan segala kekakuan protokoler militer dan kenegaraan. Sisi kemanusiaan yang didukung dengan fakta bahwa ada tim dokter yang sanggup untuk memberikan pertolongan maksimal kepada sang pemimpin malam itu, meski akhirnya harus ada yang dilanggar dan menyalahi ‘SOP’, tapi ya sudahlah resiko pasti ada untuk setiap keputusan dan pilihan yang diambil.
Dari sisi Si Jin sendiri selain karena sisi kemanusiaan, ini lebih kepada usahanya untuk berusaha memberikan keleluasaan kepada Mo Yeon untuk melaksanakan apa yang menjadi keahlian dan kebangaannya. Bukan lagi urusan siapa yang paling berpengaruh, tapi inilah secara tidak langsung bentuk kepercayaan dan pengakuan Si Jin kepada Mo Yeon. Untuk selanjutnya justru Mo Yeon yang merasa bersalah, lagi-lagi inilah bagian dari suatu kewajaran. Siapa yang tidak merasa bersalah kl berada dalam posisi Mo Yeon saat itu? Di sisi lain mungkin Mo Yeon lega dan bangga karena operasinya bersama tim dokter yang lain, berjalan sukses. Akan tetapi, di ujung sana ada Si Jin yang sedang terkurung sendirian dalam gudang penyimpanan barang yang lembab dan banyak nyamuk sebagai bagian dari hukuman karena melanggar perintah mengizinkan operasi, siapa yang tidak terusik di hati?? Cinta jika sudah bicara, ohh...
*Antara Myung Joo dan Dae Yeong
Ada Si Jin yang sedang terancam sangsi kemiliteran, ada juga Dae Yeong yang sudah dipastikan akan ‘terusir’ dari Urk, untuk segera kembali ke Korea karena urusan hati. Hati yang bernama Letnan Yoon Myung Joo. Dokter cantik yang sepintas terlihat culas, tapi sebenarnya dia sosok yang cerdas dan penuh percaya diri. Sosok anak perempuan yang mandiri dan kuat dari seorang jenderal. Pantas jika ayahnya bermaksud untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang hebat dan sepadan untuknya, yaitu Kapten Yoo Si Jin. Tapi tenyata yang hebat dan sepadan menurut Myung Joo bukanlah Si Jin, yang katanya di depan Dae Yeong justru Si Jin itu terlihat terlalu ‘cantik’, wkwkwkkwkkk... Yupz, pada akhirnya sang jenderal mesti harus menghadapi kenyataan, kl sang putri yang dibanggakannya tersebut ternyata justru memilih berpaling dan cinta mati kepada seorang prajuit berpangkat sersan, bernama Seo Dae Yeong.
Tak menyerah begitu saja kepada kemauan sang putri, berbagai siasat terpaksa diatur untuk berusaha menjauhkan sang putri dari sersan pujaannya. Dan Dae Yeong bisa apa, dia hanya seorang prajurit bawahan yang mau tidak mau harus tunduk kepada perintah atasan, terlebih hanya untuk urusan cinta yang kedengarannya hanya seperti bentuk debu beterbangan bila dibandingkan dengan urusan kedaulatan bangsa dan negara.
Berawal dari sebuah keisengan yang dilancarkan oleh Myung Joo untuk menghindari perjodohan ayahnya dengan sang calon jenderal pilihan, akhirnya Dae Yeong benar-benar menjatuhkan pilihannya kepada Myung Joo. Tapi nasib cinta yang harus dialami Dae Yeong, hhhuufftt... Lepas dari masalah ditinggal menikah duluan oleh pacar yang sebelumnya, kini ketika menjalin cinta dengan Myung Joo, berasa lawan yang harus dihadapi sekokoh dan seangkuh Tembok Besar Cina. Tapi bukan Myung Joo namanya jika dia hanya diam dan berpasrah pada ketidaksetujuan sang ayah. Dae Yeong boleh saja pasrah dengan nasib hubungannya dengan Myung Joo, tapi sepertinya Myung Joo masih tetap berjuang untuk memertahankan hubungannya dengan Dae Young. Bahkan ketika niat menyusul sang kekasih di tempat tugas berbuah kekecewaan, tetap saja cinta yang besar di antara keduanya justru semakin terlihat karena rasa`sakit yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh keduanya. Semakin cinta menusuk ke hatimu, akan semakin dalam luka yang digoreskan, hehhe...
*Antara Kencan dan Telepon Panggilan
Sementara sang jenderal sibuk menjodohkan putrinya dengan Si Jin, justru Si Jin sendiri sedang ribet dengan urusan hatinya sendiri. Urusan hati dengan dokter bedah yang paling cantik di Urk atau juga Korea Selatan saat ini, hahahaaa.. Dokter Kang yang untuk selanjutnya justru membawa Si Jin menjadi tamu kehormatan bagi Presiden Mubarak. Karena kenekadan dari Si Jin dan juga kehebatan Mo Yeon, akhirnya sang pemimpin Liga Arab tersebut memberikan apresiasi serta rasa terima kasihnya kepada Si Jin dan Mo Yeon atas upaya untuk menyelamatkannya dari sikon darurat sebelumnya. Apresiasi serta rasa terima kasih yang di antaranya diwujudkan dengan sebuah hadiah berupa kartu akses untuk melakukan apa saja di wilayah negara-negara Arab bagi Si Jin dan Mo Yeon. Hiyaaaaa... Kl Mo Yeon sudah membayangkan untuk melakukan hal-hal yang idealis berkenaan dengan privilige tersebut, lain lagi dengan yang dilakukan Si Jin... Lagi-lagi, gentleman satu ini... Sederhana saja, tapi romantis banget!!! Dua jam waktu ekstra, kartu tersebut dipakai Si Jin untuk menyewa mobil keprisidenan dan mengajak Mo Yeon jalan-jalan serta berkencan. Yihaaaaaa... Pokoknya quality time sekaleee!!!
Sekiranya kencan siang itu akan berjalan lancar, tapi yang namanya berhadapan dengan seorang prajurit pilihan, bersiaplah dengan panggilan tugas sewaktu-waktu. Dan memang siang itu ketika berdua sedang saling memuji dan merayu (ceileeee..., yang katanya Si Jin, senyumnya Mo Yeon makin hari terlihat makin manis, wkwkwkwkwkwkk), bunyi dering smartphone kembali membuyarkan segalanya. Kencan yang kata Mo Yeon harus berakhir lagi di tengah jalan. Tapi kali ini Mo Yeon mencoba untuk menahan diri sekaligus belajar beradaptasi, sembari memohon di hadapan Si Jin, kl boleh sekarang jangan lagi berrahasia di depannya. Si Jin kali ini menurutinya dan membawa Mo Yeon ke dalam sebuah acara penghormatan terakhir untuk rekan prajurit Si Jin yang gugur ketika menunaikan tugas di bawah bendera PBB. Banyak cerita yang pilu dan penuh bahaya, mungkin itulah salah satu alasan Si jin tidak pernah dapat sepenuhnya berbagi dengan Mo Yeon tentang dunianya dan pekerjaannya. Tapi jika cinta dan pengertian sudah mulai berpadu, hhmmm...
*Antara Kehormatan, Harga Diri, dan Sebotol Anggur
Cerita tentang ancaman sanksi yang harus diterima oleh Si Jin seperti tinggal tunggu waktunya saja. Dipikir Mo Yeon semua urusan selesai karena faktanya Presiden Mubarak sukses menjalani operasi dan tak kurang suatu apa, tapi dalam dunia kemiliteran melanggar tugas beda urusan dengan sisi kemanusiaan. Intinya untuk setiap pelanggaran perintah atasan, prajurit harus bersiap dan menerima segala konsekuensinya. Demikian halnya dengan Si Jin. Sanksi pemotongan gaji selama tiga bulan juga pembatalan promosi kenaikan pangkat dan jabatan, diterima Si Jin dengan lapang dada dan sikap ksatria. Ksatria yang tahu pasti bagaimana dia menempatkan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang prajurit. Bukan seperti halnya pecundang dan pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari tanggung jawab dan tidak mampu membuat keputusan yang bijak. Toh di balik sangsi yang sudah dijatuhkan, masih tersimpan kepuasan batin bahwa di balik pelanggaran aturannya dia berhasil menyelamatkan salah satu nyawa pemimpin dunia.
Berbeda sudut pandang dalam hal pertanggungjawaban ini juga yang membuat seorang dokter sekelas Mo Yeon tidak terima jika Si Jin menjadi satu-satunya yang dipersalahkan dan menerima sanksi yang tidak bisa dikatakan enteng. Mo Yeon berkeras di hadapan atasan Si Jin bahwa tidak adil jika Si Jin yang dipersalahkan. Mo Yeon yang malang... Tak seorangpun yang menyangsikan pembelaannya kepada Si Jin saat itu, tapi bagi Si Jin bisa jadi ini sebuah hal yang akan mengurangi reputasi kehormatan dan harga dirinya.
Tanpa bermaksud untuk sekali lagi menyudutkan Mo Yeon, tapi memang bagi Si Jin apa yang dilakukan oleh Mo Yeon di depan atasannya tersebut tidak semestinya dilakukan dengan sebegitu frontalnya. Selain memang tidak akan mengubah keadaan, apa yang dilakukan oleh Mo Yeon justru malah seolah-olah mencederai citra ksatria Si Jin. Gampangnya, berani berbuat, berani juga bertanggung jawab!!! Itu saja... Apalagi dalam dunia militer yang anti ‘abu-abu’. Faktanya memang Si Jin melanggar aturan dan harus mendapatkan hukuman.
Untuk kelanjutannya, Mo Yeon harus seperti apa dan bagaimana di hadapan Si Jin, saya yakin cinta akan membantu segalanya menjadi lebih mudah dan saling memahami satu sama lain. Di balik segala kesalahpahaman dan kemarahan, ada cinta yang tetap terpancar. Ada kehadiran yang sesungguhnya akan selalu dirindukan daripada sendiri di antara problematika yang sedang dihadapi. Toh sebotol anggur yang diberikan Si Jin kepada Mo Yeon ketika mereka berdua secara tidak sengaja berjumpa lagi di dapur, berhasil menghangatkan kembali suasana. Ada cerita dan candaan lagi di antar mereka. Terlebih untuk Si Jin... Melihat Mo Yeon dengan cueknya menenggak anggur langsung dari botolnya, alih-alih menunggu gelas dari uluran tangannya, terasa begitu ‘seksi’ dan ‘berbeda’. Hehhe... Dokter Kang Mo Yeon... Tanpa sadar, dia semakin membuat laki-laki yang sedang di hadapannya itu jatuh hati, dengan ulah cueknya yang seolah-olah malah menggoda... Menggoda yang elegan, hahahahh... Lalu sambaran ciuman ituuuuuuu... Semoga akan semakin berpadu nanti-nantinya. See you...
*Quote of the day: Si Jin: “Prajurit selalu hidup dengan kain kafan. Jika kau gugur di sebuah tanah antah-berantah demi kepentingan bangsa dan negaramu, tanah tempat kau gugur akan menjadi kuburanmu dan seragammu akan menjadi kain kafanmu. Itulah prinsip yang harus kau pegang di manapun kau berada dengan seragammu itu. Jika kamu telah menjadikan itu sebagai prinsipmu, jadilah terhormat setiap saat. Tidak ada alasan untuk jatuh dan menjadi rendah.
*Antara Cinta dan Kemanusiaan
Andai memang betul hanya karena ‘penasaran seksi’ yang menjadi alasan utama Si Jin akhirnya memberikan kesempatan Mo Yeon untuk melakukan operasi kepada pemimpin Liga Arab tersebut, haddeh... Benar-benar akan jadi sesuatu yang konyol untuk pertaruhan karier Si Jin, wkwkwkwkkk... Tapi itulah Si Jin, yang selalu romantis, sensitif, sekaligus pintar merayu di balik candaan bergaya ‘slenge’an’ kepada Mo Yeon. Tak peduli dia sendiri sedang terancam sanksi indispliner yang mengancam laju kenaikan pangkat dan jabatannya di kemiliteran, tapi untuk urusan perempuan yang sedang di hati, Si Jin tahu betul bagaimana dia harus bersikap dan memposisikan diri.
Dari sisi Si Jin sendiri selain karena sisi kemanusiaan, ini lebih kepada usahanya untuk berusaha memberikan keleluasaan kepada Mo Yeon untuk melaksanakan apa yang menjadi keahlian dan kebangaannya. Bukan lagi urusan siapa yang paling berpengaruh, tapi inilah secara tidak langsung bentuk kepercayaan dan pengakuan Si Jin kepada Mo Yeon. Untuk selanjutnya justru Mo Yeon yang merasa bersalah, lagi-lagi inilah bagian dari suatu kewajaran. Siapa yang tidak merasa bersalah kl berada dalam posisi Mo Yeon saat itu? Di sisi lain mungkin Mo Yeon lega dan bangga karena operasinya bersama tim dokter yang lain, berjalan sukses. Akan tetapi, di ujung sana ada Si Jin yang sedang terkurung sendirian dalam gudang penyimpanan barang yang lembab dan banyak nyamuk sebagai bagian dari hukuman karena melanggar perintah mengizinkan operasi, siapa yang tidak terusik di hati?? Cinta jika sudah bicara, ohh...
*Antara Myung Joo dan Dae Yeong
Ada Si Jin yang sedang terancam sangsi kemiliteran, ada juga Dae Yeong yang sudah dipastikan akan ‘terusir’ dari Urk, untuk segera kembali ke Korea karena urusan hati. Hati yang bernama Letnan Yoon Myung Joo. Dokter cantik yang sepintas terlihat culas, tapi sebenarnya dia sosok yang cerdas dan penuh percaya diri. Sosok anak perempuan yang mandiri dan kuat dari seorang jenderal. Pantas jika ayahnya bermaksud untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang hebat dan sepadan untuknya, yaitu Kapten Yoo Si Jin. Tapi tenyata yang hebat dan sepadan menurut Myung Joo bukanlah Si Jin, yang katanya di depan Dae Yeong justru Si Jin itu terlihat terlalu ‘cantik’, wkwkwkkwkkk... Yupz, pada akhirnya sang jenderal mesti harus menghadapi kenyataan, kl sang putri yang dibanggakannya tersebut ternyata justru memilih berpaling dan cinta mati kepada seorang prajuit berpangkat sersan, bernama Seo Dae Yeong.
Tak menyerah begitu saja kepada kemauan sang putri, berbagai siasat terpaksa diatur untuk berusaha menjauhkan sang putri dari sersan pujaannya. Dan Dae Yeong bisa apa, dia hanya seorang prajurit bawahan yang mau tidak mau harus tunduk kepada perintah atasan, terlebih hanya untuk urusan cinta yang kedengarannya hanya seperti bentuk debu beterbangan bila dibandingkan dengan urusan kedaulatan bangsa dan negara.
Berawal dari sebuah keisengan yang dilancarkan oleh Myung Joo untuk menghindari perjodohan ayahnya dengan sang calon jenderal pilihan, akhirnya Dae Yeong benar-benar menjatuhkan pilihannya kepada Myung Joo. Tapi nasib cinta yang harus dialami Dae Yeong, hhhuufftt... Lepas dari masalah ditinggal menikah duluan oleh pacar yang sebelumnya, kini ketika menjalin cinta dengan Myung Joo, berasa lawan yang harus dihadapi sekokoh dan seangkuh Tembok Besar Cina. Tapi bukan Myung Joo namanya jika dia hanya diam dan berpasrah pada ketidaksetujuan sang ayah. Dae Yeong boleh saja pasrah dengan nasib hubungannya dengan Myung Joo, tapi sepertinya Myung Joo masih tetap berjuang untuk memertahankan hubungannya dengan Dae Young. Bahkan ketika niat menyusul sang kekasih di tempat tugas berbuah kekecewaan, tetap saja cinta yang besar di antara keduanya justru semakin terlihat karena rasa`sakit yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh keduanya. Semakin cinta menusuk ke hatimu, akan semakin dalam luka yang digoreskan, hehhe...
*Antara Kencan dan Telepon Panggilan
Sementara sang jenderal sibuk menjodohkan putrinya dengan Si Jin, justru Si Jin sendiri sedang ribet dengan urusan hatinya sendiri. Urusan hati dengan dokter bedah yang paling cantik di Urk atau juga Korea Selatan saat ini, hahahaaa.. Dokter Kang yang untuk selanjutnya justru membawa Si Jin menjadi tamu kehormatan bagi Presiden Mubarak. Karena kenekadan dari Si Jin dan juga kehebatan Mo Yeon, akhirnya sang pemimpin Liga Arab tersebut memberikan apresiasi serta rasa terima kasihnya kepada Si Jin dan Mo Yeon atas upaya untuk menyelamatkannya dari sikon darurat sebelumnya. Apresiasi serta rasa terima kasih yang di antaranya diwujudkan dengan sebuah hadiah berupa kartu akses untuk melakukan apa saja di wilayah negara-negara Arab bagi Si Jin dan Mo Yeon. Hiyaaaaa... Kl Mo Yeon sudah membayangkan untuk melakukan hal-hal yang idealis berkenaan dengan privilige tersebut, lain lagi dengan yang dilakukan Si Jin... Lagi-lagi, gentleman satu ini... Sederhana saja, tapi romantis banget!!! Dua jam waktu ekstra, kartu tersebut dipakai Si Jin untuk menyewa mobil keprisidenan dan mengajak Mo Yeon jalan-jalan serta berkencan. Yihaaaaaa... Pokoknya quality time sekaleee!!!
Sekiranya kencan siang itu akan berjalan lancar, tapi yang namanya berhadapan dengan seorang prajurit pilihan, bersiaplah dengan panggilan tugas sewaktu-waktu. Dan memang siang itu ketika berdua sedang saling memuji dan merayu (ceileeee..., yang katanya Si Jin, senyumnya Mo Yeon makin hari terlihat makin manis, wkwkwkwkwkwkk), bunyi dering smartphone kembali membuyarkan segalanya. Kencan yang kata Mo Yeon harus berakhir lagi di tengah jalan. Tapi kali ini Mo Yeon mencoba untuk menahan diri sekaligus belajar beradaptasi, sembari memohon di hadapan Si Jin, kl boleh sekarang jangan lagi berrahasia di depannya. Si Jin kali ini menurutinya dan membawa Mo Yeon ke dalam sebuah acara penghormatan terakhir untuk rekan prajurit Si Jin yang gugur ketika menunaikan tugas di bawah bendera PBB. Banyak cerita yang pilu dan penuh bahaya, mungkin itulah salah satu alasan Si jin tidak pernah dapat sepenuhnya berbagi dengan Mo Yeon tentang dunianya dan pekerjaannya. Tapi jika cinta dan pengertian sudah mulai berpadu, hhmmm...
*Antara Kehormatan, Harga Diri, dan Sebotol Anggur
Cerita tentang ancaman sanksi yang harus diterima oleh Si Jin seperti tinggal tunggu waktunya saja. Dipikir Mo Yeon semua urusan selesai karena faktanya Presiden Mubarak sukses menjalani operasi dan tak kurang suatu apa, tapi dalam dunia kemiliteran melanggar tugas beda urusan dengan sisi kemanusiaan. Intinya untuk setiap pelanggaran perintah atasan, prajurit harus bersiap dan menerima segala konsekuensinya. Demikian halnya dengan Si Jin. Sanksi pemotongan gaji selama tiga bulan juga pembatalan promosi kenaikan pangkat dan jabatan, diterima Si Jin dengan lapang dada dan sikap ksatria. Ksatria yang tahu pasti bagaimana dia menempatkan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang prajurit. Bukan seperti halnya pecundang dan pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari tanggung jawab dan tidak mampu membuat keputusan yang bijak. Toh di balik sangsi yang sudah dijatuhkan, masih tersimpan kepuasan batin bahwa di balik pelanggaran aturannya dia berhasil menyelamatkan salah satu nyawa pemimpin dunia.
Berbeda sudut pandang dalam hal pertanggungjawaban ini juga yang membuat seorang dokter sekelas Mo Yeon tidak terima jika Si Jin menjadi satu-satunya yang dipersalahkan dan menerima sanksi yang tidak bisa dikatakan enteng. Mo Yeon berkeras di hadapan atasan Si Jin bahwa tidak adil jika Si Jin yang dipersalahkan. Mo Yeon yang malang... Tak seorangpun yang menyangsikan pembelaannya kepada Si Jin saat itu, tapi bagi Si Jin bisa jadi ini sebuah hal yang akan mengurangi reputasi kehormatan dan harga dirinya.
Tanpa bermaksud untuk sekali lagi menyudutkan Mo Yeon, tapi memang bagi Si Jin apa yang dilakukan oleh Mo Yeon di depan atasannya tersebut tidak semestinya dilakukan dengan sebegitu frontalnya. Selain memang tidak akan mengubah keadaan, apa yang dilakukan oleh Mo Yeon justru malah seolah-olah mencederai citra ksatria Si Jin. Gampangnya, berani berbuat, berani juga bertanggung jawab!!! Itu saja... Apalagi dalam dunia militer yang anti ‘abu-abu’. Faktanya memang Si Jin melanggar aturan dan harus mendapatkan hukuman.
Untuk kelanjutannya, Mo Yeon harus seperti apa dan bagaimana di hadapan Si Jin, saya yakin cinta akan membantu segalanya menjadi lebih mudah dan saling memahami satu sama lain. Di balik segala kesalahpahaman dan kemarahan, ada cinta yang tetap terpancar. Ada kehadiran yang sesungguhnya akan selalu dirindukan daripada sendiri di antara problematika yang sedang dihadapi. Toh sebotol anggur yang diberikan Si Jin kepada Mo Yeon ketika mereka berdua secara tidak sengaja berjumpa lagi di dapur, berhasil menghangatkan kembali suasana. Ada cerita dan candaan lagi di antar mereka. Terlebih untuk Si Jin... Melihat Mo Yeon dengan cueknya menenggak anggur langsung dari botolnya, alih-alih menunggu gelas dari uluran tangannya, terasa begitu ‘seksi’ dan ‘berbeda’. Hehhe... Dokter Kang Mo Yeon... Tanpa sadar, dia semakin membuat laki-laki yang sedang di hadapannya itu jatuh hati, dengan ulah cueknya yang seolah-olah malah menggoda... Menggoda yang elegan, hahahahh... Lalu sambaran ciuman ituuuuuuu... Semoga akan semakin berpadu nanti-nantinya. See you...
*Quote of the day: Si Jin: “Prajurit selalu hidup dengan kain kafan. Jika kau gugur di sebuah tanah antah-berantah demi kepentingan bangsa dan negaramu, tanah tempat kau gugur akan menjadi kuburanmu dan seragammu akan menjadi kain kafanmu. Itulah prinsip yang harus kau pegang di manapun kau berada dengan seragammu itu. Jika kamu telah menjadikan itu sebagai prinsipmu, jadilah terhormat setiap saat. Tidak ada alasan untuk jatuh dan menjadi rendah.
Kamis, 28 Juli 2016
“Apakah kau baik-baik saja?” “Masihkah kau tetap seksi ketika berada di ruang operasi?”... Itulah sebagian pertanyaan bernada rindu yang keluar dari mulut Si Jin ketika berkesempatan lagi untuk berduaan dengan Mo Yeon. Terdengar cukup ‘seksi’ juga untuk sebuah pertanyaan dan sapaan, setelah sekian lama tidak saling bertemu. Tidak peduli pada akhirnya pertanyaan tersebut dijawab Mo Yeon dengan sinis dan penuh sindiran, dengan dilatari pemandangan birunya air serta putihnya pasir di bibir pantai, sinisnya seolah-olah menguap begitu saja. Hanya tinggal cinta saja yang kembali kentara.
*Gurau Ranjau
Setelah kembali bertemu dan memastikan kl yang di depan matanya itu benar-benar Si Jin, untuk kesekian kalinya Mo Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang laki-laki yang pernah hampir mengisi hatinya dulu. Sebenarnya juga bukan hampir, tapi memang sudah, hahha... Mo Yeon yang kesal dan Mo Yeon yang masih senantiasa penasaran dengan Si Jin... Eeeeyyyyaaa... Berkebalikan dengan Si Jin... Merasa di pertemuan terakhirnya dulu, Si Jin dicampakkan oleh sang dokter bedah cantik, maka Si Jin lebih memilih untuk menahan diri alias agak ‘jual mahal’ dulu, xixixiii... Alhasil, lagi-lagi Mo Yeon yang terancam ‘gejala keki’ terlebih dahulu. Ranjau sang pemecah kebuntuan atau tepatnya tipuan tentang ranjau yang akhirnya berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh Si Jin untuk mengerjai Mo Yeon, wkwkwkwkwkkk...
Doh, Mo Yeon... Masih ingat saja cerita tentang McGyver. Sampai-sampai berharap Si Jin juga dapat sesaat menjelma menjadi ‘New McGyver’ demi menyelamatkannya dari bahaya ranjau yang tak sengaja terinjak oleh kakinya. Mo Yeon bahkan tak sampai punya pikiran kl dia hanya sedang dikerjai oleh Si Jin, sampai kemudian Si Jin mendekatinya dan ikut menginjak tanah yang katanya beranjau tersebut. Melihat wajah Mo Yeon yang sudah sangat panik dan ketakutan, Si Jin malah dengan santainya mengatakan, bahwa lebih baik dia saja yang menjadi korban ranjau tersebut, alih-alih Mo Yeon. Cieeeeeee... Mepet dan semakin mepet eeeuuyy... Sampai kemudian keduanya jatuh bertumpukan, Si Jin yang mengetahui usaha akal bulusnya masih belum terendus oleh Mo Yeon, justru semakin menikmati ketika badannya ditimpa makhluk cantik di atasnya tersebut. Baru tersadar kemudian, Mo Yeon sejurus kemudian merasa sangat kesal. Hingga akhirnya kemudian tampak Si Jin kebingungan mengejar Mo Yeon yang sedang menangis... Doh, Si Jin... Akhirnya tak tahan juga ketika melihat Mo Yeon berlalu meninggalkannya dengan terisak-isak...
Yang terjadi kemudian justru menghasilkan salah satu best moment yang bakalan selalu diingat oleh para pecinta drama Descendanst Of The Sun sejagad. Hormat bendera ituuu!!! Inilah seolah-olah gambaran untuk seorang prajurit yang hampir tidak punya sisi di hati untuk menyimpan cinta barang secuil, kecuali cinta yang segala-galanya kepada tanah airnya. Mendengar lagu kebangsaan tengah diputar, tak peduli sedang dalam sikon apapun, hormat harus senantiasa dilakukan. Pun yang terjadi dengan Si Jin, ketika dirinya masih direpotkan mengejar permintaan maaf dari Mo Yeon, justru di tengah-tengahnya kembali terputus oleh acara hormat. Seketika itu juga, bukan lagi Mo Yeon yang menjadi fokusnya dan kembali urusan negara menjadi satu-satunya kepentingan utama. Mo Yeon yang kemudian ikut terkesima, akhirnya juga diarahkan oleh Si Jin untuk menghadap bendera yang tengah dikibarkan, diiringi dengan lagu kebangsaan. Si Jin yang sensitif dan romantis, justru menambah indah momen dengan sebuah pernyatan lirih yang ia sampaikan kepada Mo Yeon, di sela-sela momen penuh kekhidmatan tersebut, “... Senang bertemu denganmu lagi...” Duh...
*Cemburu Cinta Segitiga
Sesungguhnya perasaan gundah dan tak menentu bukan melulu milik Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. Sang Sersan, Seo Dae Yeong juga tak beda jauh dengan sang kolega. Perempuan yang mencintainya tengah dalam perjalanan untuk kembali menemuinya, bermaksud untuk kembali melanjutkan hubungan. Akan tetapi apa daya, sang perempuan ternyata bukan dari golongan yang sembarangan untuk dicintai oleh seseorang yang hanya berpangkat sersan. Yoon Myung Joo yang cantik, seorang dokter militer, dan anak seorang jenderal berbintang tiga, inilah kisah cinta rumit yang lain, selain kisah cinta yang belum tuntas lainnya atas nama Kapten Yoo Si Jin dan juga dokter bedah jelita, Kang Mo Yeon. Mo Yeon jelas tak asing lagi dengan rekan dokternya yang berdinas di militer tersebut. Hahha... Inilah saingan cantik yang selalu sukses bikin Mo Yeon keki, xixixiii... Saingan cantik yang akhirnya kembali membuat jantung Mo Yeon sedikit berdesir, karena ternyata ayah Myung Joo punya riwayat ingin menjodohkan sang putri dengan Si Jin, si calon potensial untuk juga berpangkat jenderal. Seperti halnya jodoh, bahkan saingan pun sepertimya sudah digariskan, hahahaaa...
Dasar Si Jin, sekali lagi dia berhasil membuat Mo Yeon terjebak dalam perasaan cemburu. Meskipun sang dokter berdalih, tapi tetap saja yang namanya bertanya dan ingin tahu itu dasarnya lebih karena cemburu, cieeeeeee... Mo Yeon... Terus mendesak keterangan dari Si Jin tentang cinta yang terjadi antara Dae Yeong dan Myung Joo, yang juga melibatkan Si Jin, Mo Yeon justru akhirnya gantian terpojok dengan salah satu pernyataan dari Si Jin. Pernyataan yang di antaranya menyebutkan kata-kata, [mencampakkan]. Yupz, rupanya Si Jin merasa bahwa dia dulu memang dicampakkan oleh Mo Yeon. Dicampakkan dari sebuah hubungan yang baru menjelang hangat dan kini, yang sudah dingin beranjak ingin dihangatkan kembali. Kiranya akan tepat karena melihat Mo Yeon yang terus penasaran sambil cemburu tentang isu cinta segitiga. Wkwkwkwkwkkk...
*Berseteru Kewenangan
Sama-sama bertugas di wilayah yang sedang rawan dan berkonflik, seharusnya saling mengingatkan dan bertindak bijaksana yang harus menjadi pilihan. Namun, karena masing-masing terbilang handal di bidangnya, masalah ego pasti tak terhindarkan. Masing-masing saling meyakinkan, kl mereka pantas untuk diberi kebebasan dalam menangani dan memutuskan suatu kasus atau masalah. Mo Yeon tak suka melihat sikap Si Jin yang seolah-olah semua harus melapor kepadanya, tentang apa saja yang Mo Yeon dan tim dokter relawan lainnya lakukan. Tapi kembali lagi, yang lebih berkuasa di situ memang militer, mengingat sikon yang terkait.
Sesungguhnya, bukan maksud Si Jin juga untuk selalu mendikte Mo Yeon dan rekan-rekannya, toh Si Jin juga dibebani tugas untuk selalu melapor kepada atasannya, tentang segala yang terjadi di Urk saat itu. Tapi ya itu tadi, perseteruan tentang siapa yang paling berwenang dan kompeten, tak mungkin akan terhindarkan, apabila melibatkan beberapa orang penting yang kompeten di bidangnya. Hhmmm... Namun, bukan cerita drama jika semuanya berlaku kaku, hehhe... Drama tetaplah harus ada ‘drama’nya. Drama yang menunjukkan bahwa karena ada cinta, semua jadi mungkin-mungkin saja. Bukan lagi masalah berebut kewenangan, tapi lebih kepada memberi suatu bentuk kepercayaan kepada seseorang yang dicintai, hingga kemudian cerita untuk saling berkorban dan mengorbankan diri ikut jadi bahasan.
Hal tersebut setidak-setidaknya tercermin di scene terakhir episode tiga, DotS kemarin malam. Si Jin akhirnya lebih memilih untuk mematikan radio kontrolnya, bermaksud untuk memberikan kesempatan kepada Mo Yeon melakukan operasi darurat kepada Presiden Mubarak yang sudah hampir sekarat. Si Jin pastinya tahu segala konsekuensi atas apa yang dilakukannya itu, tapi ini lhooo ketika cinta sudah memainkan perannya. Berkorban demi sebuah eksistensi dari yang sedang dicintai. Scene ketika akhirnya tim keamanan keprisidenan dan militer di bawah komando Si Jin saling mengacungkan senjata dan berhadap-hadapan, berhasil jadi pungkasan yang sempurna untuk episode ketiga... Saya menggambarkan scene pungkasan tersebut sebagai sesuatu yang menegangkan, tapi ‘cantik’. Dramatisnya dapet banget!!! Hehhe... Secantik cerita pengorbanan dan cinta yang selanjutnya. See you...
*Gurau Ranjau
Setelah kembali bertemu dan memastikan kl yang di depan matanya itu benar-benar Si Jin, untuk kesekian kalinya Mo Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang laki-laki yang pernah hampir mengisi hatinya dulu. Sebenarnya juga bukan hampir, tapi memang sudah, hahha... Mo Yeon yang kesal dan Mo Yeon yang masih senantiasa penasaran dengan Si Jin... Eeeeyyyyaaa... Berkebalikan dengan Si Jin... Merasa di pertemuan terakhirnya dulu, Si Jin dicampakkan oleh sang dokter bedah cantik, maka Si Jin lebih memilih untuk menahan diri alias agak ‘jual mahal’ dulu, xixixiii... Alhasil, lagi-lagi Mo Yeon yang terancam ‘gejala keki’ terlebih dahulu. Ranjau sang pemecah kebuntuan atau tepatnya tipuan tentang ranjau yang akhirnya berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh Si Jin untuk mengerjai Mo Yeon, wkwkwkwkwkkk...
Doh, Mo Yeon... Masih ingat saja cerita tentang McGyver. Sampai-sampai berharap Si Jin juga dapat sesaat menjelma menjadi ‘New McGyver’ demi menyelamatkannya dari bahaya ranjau yang tak sengaja terinjak oleh kakinya. Mo Yeon bahkan tak sampai punya pikiran kl dia hanya sedang dikerjai oleh Si Jin, sampai kemudian Si Jin mendekatinya dan ikut menginjak tanah yang katanya beranjau tersebut. Melihat wajah Mo Yeon yang sudah sangat panik dan ketakutan, Si Jin malah dengan santainya mengatakan, bahwa lebih baik dia saja yang menjadi korban ranjau tersebut, alih-alih Mo Yeon. Cieeeeeee... Mepet dan semakin mepet eeeuuyy... Sampai kemudian keduanya jatuh bertumpukan, Si Jin yang mengetahui usaha akal bulusnya masih belum terendus oleh Mo Yeon, justru semakin menikmati ketika badannya ditimpa makhluk cantik di atasnya tersebut. Baru tersadar kemudian, Mo Yeon sejurus kemudian merasa sangat kesal. Hingga akhirnya kemudian tampak Si Jin kebingungan mengejar Mo Yeon yang sedang menangis... Doh, Si Jin... Akhirnya tak tahan juga ketika melihat Mo Yeon berlalu meninggalkannya dengan terisak-isak...
Yang terjadi kemudian justru menghasilkan salah satu best moment yang bakalan selalu diingat oleh para pecinta drama Descendanst Of The Sun sejagad. Hormat bendera ituuu!!! Inilah seolah-olah gambaran untuk seorang prajurit yang hampir tidak punya sisi di hati untuk menyimpan cinta barang secuil, kecuali cinta yang segala-galanya kepada tanah airnya. Mendengar lagu kebangsaan tengah diputar, tak peduli sedang dalam sikon apapun, hormat harus senantiasa dilakukan. Pun yang terjadi dengan Si Jin, ketika dirinya masih direpotkan mengejar permintaan maaf dari Mo Yeon, justru di tengah-tengahnya kembali terputus oleh acara hormat. Seketika itu juga, bukan lagi Mo Yeon yang menjadi fokusnya dan kembali urusan negara menjadi satu-satunya kepentingan utama. Mo Yeon yang kemudian ikut terkesima, akhirnya juga diarahkan oleh Si Jin untuk menghadap bendera yang tengah dikibarkan, diiringi dengan lagu kebangsaan. Si Jin yang sensitif dan romantis, justru menambah indah momen dengan sebuah pernyatan lirih yang ia sampaikan kepada Mo Yeon, di sela-sela momen penuh kekhidmatan tersebut, “... Senang bertemu denganmu lagi...” Duh...
*Cemburu Cinta Segitiga
Sesungguhnya perasaan gundah dan tak menentu bukan melulu milik Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. Sang Sersan, Seo Dae Yeong juga tak beda jauh dengan sang kolega. Perempuan yang mencintainya tengah dalam perjalanan untuk kembali menemuinya, bermaksud untuk kembali melanjutkan hubungan. Akan tetapi apa daya, sang perempuan ternyata bukan dari golongan yang sembarangan untuk dicintai oleh seseorang yang hanya berpangkat sersan. Yoon Myung Joo yang cantik, seorang dokter militer, dan anak seorang jenderal berbintang tiga, inilah kisah cinta rumit yang lain, selain kisah cinta yang belum tuntas lainnya atas nama Kapten Yoo Si Jin dan juga dokter bedah jelita, Kang Mo Yeon. Mo Yeon jelas tak asing lagi dengan rekan dokternya yang berdinas di militer tersebut. Hahha... Inilah saingan cantik yang selalu sukses bikin Mo Yeon keki, xixixiii... Saingan cantik yang akhirnya kembali membuat jantung Mo Yeon sedikit berdesir, karena ternyata ayah Myung Joo punya riwayat ingin menjodohkan sang putri dengan Si Jin, si calon potensial untuk juga berpangkat jenderal. Seperti halnya jodoh, bahkan saingan pun sepertimya sudah digariskan, hahahaaa...
Dasar Si Jin, sekali lagi dia berhasil membuat Mo Yeon terjebak dalam perasaan cemburu. Meskipun sang dokter berdalih, tapi tetap saja yang namanya bertanya dan ingin tahu itu dasarnya lebih karena cemburu, cieeeeeee... Mo Yeon... Terus mendesak keterangan dari Si Jin tentang cinta yang terjadi antara Dae Yeong dan Myung Joo, yang juga melibatkan Si Jin, Mo Yeon justru akhirnya gantian terpojok dengan salah satu pernyataan dari Si Jin. Pernyataan yang di antaranya menyebutkan kata-kata, [mencampakkan]. Yupz, rupanya Si Jin merasa bahwa dia dulu memang dicampakkan oleh Mo Yeon. Dicampakkan dari sebuah hubungan yang baru menjelang hangat dan kini, yang sudah dingin beranjak ingin dihangatkan kembali. Kiranya akan tepat karena melihat Mo Yeon yang terus penasaran sambil cemburu tentang isu cinta segitiga. Wkwkwkwkwkkk...
*Berseteru Kewenangan
Sama-sama bertugas di wilayah yang sedang rawan dan berkonflik, seharusnya saling mengingatkan dan bertindak bijaksana yang harus menjadi pilihan. Namun, karena masing-masing terbilang handal di bidangnya, masalah ego pasti tak terhindarkan. Masing-masing saling meyakinkan, kl mereka pantas untuk diberi kebebasan dalam menangani dan memutuskan suatu kasus atau masalah. Mo Yeon tak suka melihat sikap Si Jin yang seolah-olah semua harus melapor kepadanya, tentang apa saja yang Mo Yeon dan tim dokter relawan lainnya lakukan. Tapi kembali lagi, yang lebih berkuasa di situ memang militer, mengingat sikon yang terkait.
Sesungguhnya, bukan maksud Si Jin juga untuk selalu mendikte Mo Yeon dan rekan-rekannya, toh Si Jin juga dibebani tugas untuk selalu melapor kepada atasannya, tentang segala yang terjadi di Urk saat itu. Tapi ya itu tadi, perseteruan tentang siapa yang paling berwenang dan kompeten, tak mungkin akan terhindarkan, apabila melibatkan beberapa orang penting yang kompeten di bidangnya. Hhmmm... Namun, bukan cerita drama jika semuanya berlaku kaku, hehhe... Drama tetaplah harus ada ‘drama’nya. Drama yang menunjukkan bahwa karena ada cinta, semua jadi mungkin-mungkin saja. Bukan lagi masalah berebut kewenangan, tapi lebih kepada memberi suatu bentuk kepercayaan kepada seseorang yang dicintai, hingga kemudian cerita untuk saling berkorban dan mengorbankan diri ikut jadi bahasan.
Hal tersebut setidak-setidaknya tercermin di scene terakhir episode tiga, DotS kemarin malam. Si Jin akhirnya lebih memilih untuk mematikan radio kontrolnya, bermaksud untuk memberikan kesempatan kepada Mo Yeon melakukan operasi darurat kepada Presiden Mubarak yang sudah hampir sekarat. Si Jin pastinya tahu segala konsekuensi atas apa yang dilakukannya itu, tapi ini lhooo ketika cinta sudah memainkan perannya. Berkorban demi sebuah eksistensi dari yang sedang dicintai. Scene ketika akhirnya tim keamanan keprisidenan dan militer di bawah komando Si Jin saling mengacungkan senjata dan berhadap-hadapan, berhasil jadi pungkasan yang sempurna untuk episode ketiga... Saya menggambarkan scene pungkasan tersebut sebagai sesuatu yang menegangkan, tapi ‘cantik’. Dramatisnya dapet banget!!! Hehhe... Secantik cerita pengorbanan dan cinta yang selanjutnya. See you...
20.44.00
Unknown
“Apakah kau baik-baik saja?” “Masihkah kau tetap seksi ketika berada di ruang operasi?”... Itulah sebagian pertanyaan bernada rindu yang keluar dari mulut Si Jin ketika berkesempatan lagi untuk berduaan dengan Mo Yeon. Terdengar cukup ‘seksi’ juga untuk sebuah pertanyaan dan sapaan, setelah sekian lama tidak saling bertemu. Tidak peduli pada akhirnya pertanyaan tersebut dijawab Mo Yeon dengan sinis dan penuh sindiran, dengan dilatari pemandangan birunya air serta putihnya pasir di bibir pantai, sinisnya seolah-olah menguap begitu saja. Hanya tinggal cinta saja yang kembali kentara.
*Gurau Ranjau
Setelah kembali bertemu dan memastikan kl yang di depan matanya itu benar-benar Si Jin, untuk kesekian kalinya Mo Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang laki-laki yang pernah hampir mengisi hatinya dulu. Sebenarnya juga bukan hampir, tapi memang sudah, hahha... Mo Yeon yang kesal dan Mo Yeon yang masih senantiasa penasaran dengan Si Jin... Eeeeyyyyaaa... Berkebalikan dengan Si Jin... Merasa di pertemuan terakhirnya dulu, Si Jin dicampakkan oleh sang dokter bedah cantik, maka Si Jin lebih memilih untuk menahan diri alias agak ‘jual mahal’ dulu, xixixiii... Alhasil, lagi-lagi Mo Yeon yang terancam ‘gejala keki’ terlebih dahulu. Ranjau sang pemecah kebuntuan atau tepatnya tipuan tentang ranjau yang akhirnya berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh Si Jin untuk mengerjai Mo Yeon, wkwkwkwkwkkk...
Doh, Mo Yeon... Masih ingat saja cerita tentang McGyver. Sampai-sampai berharap Si Jin juga dapat sesaat menjelma menjadi ‘New McGyver’ demi menyelamatkannya dari bahaya ranjau yang tak sengaja terinjak oleh kakinya. Mo Yeon bahkan tak sampai punya pikiran kl dia hanya sedang dikerjai oleh Si Jin, sampai kemudian Si Jin mendekatinya dan ikut menginjak tanah yang katanya beranjau tersebut. Melihat wajah Mo Yeon yang sudah sangat panik dan ketakutan, Si Jin malah dengan santainya mengatakan, bahwa lebih baik dia saja yang menjadi korban ranjau tersebut, alih-alih Mo Yeon. Cieeeeeee... Mepet dan semakin mepet eeeuuyy... Sampai kemudian keduanya jatuh bertumpukan, Si Jin yang mengetahui usaha akal bulusnya masih belum terendus oleh Mo Yeon, justru semakin menikmati ketika badannya ditimpa makhluk cantik di atasnya tersebut. Baru tersadar kemudian, Mo Yeon sejurus kemudian merasa sangat kesal. Hingga akhirnya kemudian tampak Si Jin kebingungan mengejar Mo Yeon yang sedang menangis... Doh, Si Jin... Akhirnya tak tahan juga ketika melihat Mo Yeon berlalu meninggalkannya dengan terisak-isak...
Yang terjadi kemudian justru menghasilkan salah satu best moment yang bakalan selalu diingat oleh para pecinta drama Descendanst Of The Sun sejagad. Hormat bendera ituuu!!! Inilah seolah-olah gambaran untuk seorang prajurit yang hampir tidak punya sisi di hati untuk menyimpan cinta barang secuil, kecuali cinta yang segala-galanya kepada tanah airnya. Mendengar lagu kebangsaan tengah diputar, tak peduli sedang dalam sikon apapun, hormat harus senantiasa dilakukan. Pun yang terjadi dengan Si Jin, ketika dirinya masih direpotkan mengejar permintaan maaf dari Mo Yeon, justru di tengah-tengahnya kembali terputus oleh acara hormat. Seketika itu juga, bukan lagi Mo Yeon yang menjadi fokusnya dan kembali urusan negara menjadi satu-satunya kepentingan utama. Mo Yeon yang kemudian ikut terkesima, akhirnya juga diarahkan oleh Si Jin untuk menghadap bendera yang tengah dikibarkan, diiringi dengan lagu kebangsaan. Si Jin yang sensitif dan romantis, justru menambah indah momen dengan sebuah pernyatan lirih yang ia sampaikan kepada Mo Yeon, di sela-sela momen penuh kekhidmatan tersebut, “... Senang bertemu denganmu lagi...” Duh...
*Cemburu Cinta Segitiga
Sesungguhnya perasaan gundah dan tak menentu bukan melulu milik Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. Sang Sersan, Seo Dae Yeong juga tak beda jauh dengan sang kolega. Perempuan yang mencintainya tengah dalam perjalanan untuk kembali menemuinya, bermaksud untuk kembali melanjutkan hubungan. Akan tetapi apa daya, sang perempuan ternyata bukan dari golongan yang sembarangan untuk dicintai oleh seseorang yang hanya berpangkat sersan. Yoon Myung Joo yang cantik, seorang dokter militer, dan anak seorang jenderal berbintang tiga, inilah kisah cinta rumit yang lain, selain kisah cinta yang belum tuntas lainnya atas nama Kapten Yoo Si Jin dan juga dokter bedah jelita, Kang Mo Yeon. Mo Yeon jelas tak asing lagi dengan rekan dokternya yang berdinas di militer tersebut. Hahha... Inilah saingan cantik yang selalu sukses bikin Mo Yeon keki, xixixiii... Saingan cantik yang akhirnya kembali membuat jantung Mo Yeon sedikit berdesir, karena ternyata ayah Myung Joo punya riwayat ingin menjodohkan sang putri dengan Si Jin, si calon potensial untuk juga berpangkat jenderal. Seperti halnya jodoh, bahkan saingan pun sepertimya sudah digariskan, hahahaaa...
Dasar Si Jin, sekali lagi dia berhasil membuat Mo Yeon terjebak dalam perasaan cemburu. Meskipun sang dokter berdalih, tapi tetap saja yang namanya bertanya dan ingin tahu itu dasarnya lebih karena cemburu, cieeeeeee... Mo Yeon... Terus mendesak keterangan dari Si Jin tentang cinta yang terjadi antara Dae Yeong dan Myung Joo, yang juga melibatkan Si Jin, Mo Yeon justru akhirnya gantian terpojok dengan salah satu pernyataan dari Si Jin. Pernyataan yang di antaranya menyebutkan kata-kata, [mencampakkan]. Yupz, rupanya Si Jin merasa bahwa dia dulu memang dicampakkan oleh Mo Yeon. Dicampakkan dari sebuah hubungan yang baru menjelang hangat dan kini, yang sudah dingin beranjak ingin dihangatkan kembali. Kiranya akan tepat karena melihat Mo Yeon yang terus penasaran sambil cemburu tentang isu cinta segitiga. Wkwkwkwkwkkk...
*Berseteru Kewenangan
Sama-sama bertugas di wilayah yang sedang rawan dan berkonflik, seharusnya saling mengingatkan dan bertindak bijaksana yang harus menjadi pilihan. Namun, karena masing-masing terbilang handal di bidangnya, masalah ego pasti tak terhindarkan. Masing-masing saling meyakinkan, kl mereka pantas untuk diberi kebebasan dalam menangani dan memutuskan suatu kasus atau masalah. Mo Yeon tak suka melihat sikap Si Jin yang seolah-olah semua harus melapor kepadanya, tentang apa saja yang Mo Yeon dan tim dokter relawan lainnya lakukan. Tapi kembali lagi, yang lebih berkuasa di situ memang militer, mengingat sikon yang terkait.
Sesungguhnya, bukan maksud Si Jin juga untuk selalu mendikte Mo Yeon dan rekan-rekannya, toh Si Jin juga dibebani tugas untuk selalu melapor kepada atasannya, tentang segala yang terjadi di Urk saat itu. Tapi ya itu tadi, perseteruan tentang siapa yang paling berwenang dan kompeten, tak mungkin akan terhindarkan, apabila melibatkan beberapa orang penting yang kompeten di bidangnya. Hhmmm... Namun, bukan cerita drama jika semuanya berlaku kaku, hehhe... Drama tetaplah harus ada ‘drama’nya. Drama yang menunjukkan bahwa karena ada cinta, semua jadi mungkin-mungkin saja. Bukan lagi masalah berebut kewenangan, tapi lebih kepada memberi suatu bentuk kepercayaan kepada seseorang yang dicintai, hingga kemudian cerita untuk saling berkorban dan mengorbankan diri ikut jadi bahasan.
Hal tersebut setidak-setidaknya tercermin di scene terakhir episode tiga, DotS kemarin malam. Si Jin akhirnya lebih memilih untuk mematikan radio kontrolnya, bermaksud untuk memberikan kesempatan kepada Mo Yeon melakukan operasi darurat kepada Presiden Mubarak yang sudah hampir sekarat. Si Jin pastinya tahu segala konsekuensi atas apa yang dilakukannya itu, tapi ini lhooo ketika cinta sudah memainkan perannya. Berkorban demi sebuah eksistensi dari yang sedang dicintai. Scene ketika akhirnya tim keamanan keprisidenan dan militer di bawah komando Si Jin saling mengacungkan senjata dan berhadap-hadapan, berhasil jadi pungkasan yang sempurna untuk episode ketiga... Saya menggambarkan scene pungkasan tersebut sebagai sesuatu yang menegangkan, tapi ‘cantik’. Dramatisnya dapet banget!!! Hehhe... Secantik cerita pengorbanan dan cinta yang selanjutnya. See you...
*Gurau Ranjau
Setelah kembali bertemu dan memastikan kl yang di depan matanya itu benar-benar Si Jin, untuk kesekian kalinya Mo Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang laki-laki yang pernah hampir mengisi hatinya dulu. Sebenarnya juga bukan hampir, tapi memang sudah, hahha... Mo Yeon yang kesal dan Mo Yeon yang masih senantiasa penasaran dengan Si Jin... Eeeeyyyyaaa... Berkebalikan dengan Si Jin... Merasa di pertemuan terakhirnya dulu, Si Jin dicampakkan oleh sang dokter bedah cantik, maka Si Jin lebih memilih untuk menahan diri alias agak ‘jual mahal’ dulu, xixixiii... Alhasil, lagi-lagi Mo Yeon yang terancam ‘gejala keki’ terlebih dahulu. Ranjau sang pemecah kebuntuan atau tepatnya tipuan tentang ranjau yang akhirnya berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh Si Jin untuk mengerjai Mo Yeon, wkwkwkwkwkkk...
Doh, Mo Yeon... Masih ingat saja cerita tentang McGyver. Sampai-sampai berharap Si Jin juga dapat sesaat menjelma menjadi ‘New McGyver’ demi menyelamatkannya dari bahaya ranjau yang tak sengaja terinjak oleh kakinya. Mo Yeon bahkan tak sampai punya pikiran kl dia hanya sedang dikerjai oleh Si Jin, sampai kemudian Si Jin mendekatinya dan ikut menginjak tanah yang katanya beranjau tersebut. Melihat wajah Mo Yeon yang sudah sangat panik dan ketakutan, Si Jin malah dengan santainya mengatakan, bahwa lebih baik dia saja yang menjadi korban ranjau tersebut, alih-alih Mo Yeon. Cieeeeeee... Mepet dan semakin mepet eeeuuyy... Sampai kemudian keduanya jatuh bertumpukan, Si Jin yang mengetahui usaha akal bulusnya masih belum terendus oleh Mo Yeon, justru semakin menikmati ketika badannya ditimpa makhluk cantik di atasnya tersebut. Baru tersadar kemudian, Mo Yeon sejurus kemudian merasa sangat kesal. Hingga akhirnya kemudian tampak Si Jin kebingungan mengejar Mo Yeon yang sedang menangis... Doh, Si Jin... Akhirnya tak tahan juga ketika melihat Mo Yeon berlalu meninggalkannya dengan terisak-isak...
Yang terjadi kemudian justru menghasilkan salah satu best moment yang bakalan selalu diingat oleh para pecinta drama Descendanst Of The Sun sejagad. Hormat bendera ituuu!!! Inilah seolah-olah gambaran untuk seorang prajurit yang hampir tidak punya sisi di hati untuk menyimpan cinta barang secuil, kecuali cinta yang segala-galanya kepada tanah airnya. Mendengar lagu kebangsaan tengah diputar, tak peduli sedang dalam sikon apapun, hormat harus senantiasa dilakukan. Pun yang terjadi dengan Si Jin, ketika dirinya masih direpotkan mengejar permintaan maaf dari Mo Yeon, justru di tengah-tengahnya kembali terputus oleh acara hormat. Seketika itu juga, bukan lagi Mo Yeon yang menjadi fokusnya dan kembali urusan negara menjadi satu-satunya kepentingan utama. Mo Yeon yang kemudian ikut terkesima, akhirnya juga diarahkan oleh Si Jin untuk menghadap bendera yang tengah dikibarkan, diiringi dengan lagu kebangsaan. Si Jin yang sensitif dan romantis, justru menambah indah momen dengan sebuah pernyatan lirih yang ia sampaikan kepada Mo Yeon, di sela-sela momen penuh kekhidmatan tersebut, “... Senang bertemu denganmu lagi...” Duh...
*Cemburu Cinta Segitiga
Sesungguhnya perasaan gundah dan tak menentu bukan melulu milik Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. Sang Sersan, Seo Dae Yeong juga tak beda jauh dengan sang kolega. Perempuan yang mencintainya tengah dalam perjalanan untuk kembali menemuinya, bermaksud untuk kembali melanjutkan hubungan. Akan tetapi apa daya, sang perempuan ternyata bukan dari golongan yang sembarangan untuk dicintai oleh seseorang yang hanya berpangkat sersan. Yoon Myung Joo yang cantik, seorang dokter militer, dan anak seorang jenderal berbintang tiga, inilah kisah cinta rumit yang lain, selain kisah cinta yang belum tuntas lainnya atas nama Kapten Yoo Si Jin dan juga dokter bedah jelita, Kang Mo Yeon. Mo Yeon jelas tak asing lagi dengan rekan dokternya yang berdinas di militer tersebut. Hahha... Inilah saingan cantik yang selalu sukses bikin Mo Yeon keki, xixixiii... Saingan cantik yang akhirnya kembali membuat jantung Mo Yeon sedikit berdesir, karena ternyata ayah Myung Joo punya riwayat ingin menjodohkan sang putri dengan Si Jin, si calon potensial untuk juga berpangkat jenderal. Seperti halnya jodoh, bahkan saingan pun sepertimya sudah digariskan, hahahaaa...
Dasar Si Jin, sekali lagi dia berhasil membuat Mo Yeon terjebak dalam perasaan cemburu. Meskipun sang dokter berdalih, tapi tetap saja yang namanya bertanya dan ingin tahu itu dasarnya lebih karena cemburu, cieeeeeee... Mo Yeon... Terus mendesak keterangan dari Si Jin tentang cinta yang terjadi antara Dae Yeong dan Myung Joo, yang juga melibatkan Si Jin, Mo Yeon justru akhirnya gantian terpojok dengan salah satu pernyataan dari Si Jin. Pernyataan yang di antaranya menyebutkan kata-kata, [mencampakkan]. Yupz, rupanya Si Jin merasa bahwa dia dulu memang dicampakkan oleh Mo Yeon. Dicampakkan dari sebuah hubungan yang baru menjelang hangat dan kini, yang sudah dingin beranjak ingin dihangatkan kembali. Kiranya akan tepat karena melihat Mo Yeon yang terus penasaran sambil cemburu tentang isu cinta segitiga. Wkwkwkwkwkkk...
*Berseteru Kewenangan
Sama-sama bertugas di wilayah yang sedang rawan dan berkonflik, seharusnya saling mengingatkan dan bertindak bijaksana yang harus menjadi pilihan. Namun, karena masing-masing terbilang handal di bidangnya, masalah ego pasti tak terhindarkan. Masing-masing saling meyakinkan, kl mereka pantas untuk diberi kebebasan dalam menangani dan memutuskan suatu kasus atau masalah. Mo Yeon tak suka melihat sikap Si Jin yang seolah-olah semua harus melapor kepadanya, tentang apa saja yang Mo Yeon dan tim dokter relawan lainnya lakukan. Tapi kembali lagi, yang lebih berkuasa di situ memang militer, mengingat sikon yang terkait.
Sesungguhnya, bukan maksud Si Jin juga untuk selalu mendikte Mo Yeon dan rekan-rekannya, toh Si Jin juga dibebani tugas untuk selalu melapor kepada atasannya, tentang segala yang terjadi di Urk saat itu. Tapi ya itu tadi, perseteruan tentang siapa yang paling berwenang dan kompeten, tak mungkin akan terhindarkan, apabila melibatkan beberapa orang penting yang kompeten di bidangnya. Hhmmm... Namun, bukan cerita drama jika semuanya berlaku kaku, hehhe... Drama tetaplah harus ada ‘drama’nya. Drama yang menunjukkan bahwa karena ada cinta, semua jadi mungkin-mungkin saja. Bukan lagi masalah berebut kewenangan, tapi lebih kepada memberi suatu bentuk kepercayaan kepada seseorang yang dicintai, hingga kemudian cerita untuk saling berkorban dan mengorbankan diri ikut jadi bahasan.
Hal tersebut setidak-setidaknya tercermin di scene terakhir episode tiga, DotS kemarin malam. Si Jin akhirnya lebih memilih untuk mematikan radio kontrolnya, bermaksud untuk memberikan kesempatan kepada Mo Yeon melakukan operasi darurat kepada Presiden Mubarak yang sudah hampir sekarat. Si Jin pastinya tahu segala konsekuensi atas apa yang dilakukannya itu, tapi ini lhooo ketika cinta sudah memainkan perannya. Berkorban demi sebuah eksistensi dari yang sedang dicintai. Scene ketika akhirnya tim keamanan keprisidenan dan militer di bawah komando Si Jin saling mengacungkan senjata dan berhadap-hadapan, berhasil jadi pungkasan yang sempurna untuk episode ketiga... Saya menggambarkan scene pungkasan tersebut sebagai sesuatu yang menegangkan, tapi ‘cantik’. Dramatisnya dapet banget!!! Hehhe... Secantik cerita pengorbanan dan cinta yang selanjutnya. See you...
Rabu, 27 Juli 2016
Gagal lagi yang kesekian kalinya untuk menuntaskan kencan. Hhmmm... Dua kali sudah Yoo Si Jin mengajak Kang Mo Yeon untuk pergi berkencan, tapi dua kali juga ia membuat berantakan acara kencannya. Tidak sepenuhnya berantakan, tapi tetap saja menyisakan kekesalan. Tidak semua meninggalkan kesedihan, tapi gundah dan tanya selalu yang tersisa kemudian. Dua kali tak tuntas, tapi tidak untuk yang ketiga... Namun apa lacur kemudian, di kesempatan yang ketiga giliran Dokter Kang yang memutuskan mengakhiri, bahkan untuk sebuah permulaan yang belum dimulai oleh keduanya.
*Resiko Pekerjaan
Satunya seorang dokter bedah handal, satunya lagi adalah seorang tentara/prajurit dari kesatuan elit. Dua-duanya punya beban tugas yang sangat tidak bisa disepelekan. Ibarat kata, mereka berdua hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Satunya berurusan dengan nyawa manusia dan yang satunya lagi berhubungan dengan pertahanan dan kedaulatan negara. Sesekali mereka punya ‘me time’, tapi hanya sesekali saja. Sesekali yang tetap harus berjaga-jaga karena sewaktu-waktu dipanggil atas nama tugas yang tidak bisa untuk dielak. Meskipun dokter ada giliran tugas dan jaganya, tapi dalam prakteknya, semua serba mungkin untuk waktu yang sehari-semalam hanya 24 jam ini, mereka tak kenal lelah dengan tugas dan pengabdian.
Pun dengan yang dialami oleh seorang prajurit atau tentara. Sewaktu-waktu mereka dipanggil dan dibutuhkan dalam suatu tugas dan misi, seketika itu juga mereka harus pergi untuk menuruti perintah. Urusan pribadi jadi sesuatu yang langka untuk dieksekusi karena kepentingan negara harus di atas segalanya. Terlebih untuk anggota kesatuan elit seperti Kapten Yoo Si Jin. Makin dia handal dan tuntas dalam setiap misi, makin libur itu seolah-olah hanya menjadi sebuah angan-angan.
Di awalnya saja kelihatannya akan berjalan lancar, sesuai rencana, tapi di tengah perjalanan apa mau dikata... Niat hati ingin meminta maaf sekaligus mengganti waktu atas ajakan kencan pertama yang gagal, tapi Si Jin tak kuasa juga untuk menuntaskannya. Menerima ajakan Dokter Kang untuk pergi nonton di bioskop setelah sebelumnya sempat untuk beberapa saat saling berbicara dan bercanda, saling meledek dan menggoda, harusnya malam itu mereka bisa memanfaatkan kurang lebih dua jam lagi untuk mengobrol dan menonton film. Si Jin terpaksa menutup gurauannya dengan Dokter Kang bahwa duduk di sebelah wanita cantik dengan kondisi lampu dimatikan adalah sesuatu yang mengasyikkan, lewat sebuah panggilan telepon yang mengharuskan dia meninggalkan Dokter Kang sendirian di bioskop. Tugas adalah tugas dan meninggalkan tugas berarti mengingkari komitmen dan tanggung jawab itu sendiri. Dokter Kang hanya bisa mengatakan, “... Pergilah!!!” Dan aku akan tetap meneruskan menonton film itu sendiri... Hhhhuuufftt... Mulut boleh berkata apa saja, tapi mata adalah jendela hati untuk menggambarkan kekecewaan dan juga malu. Ya iyalah malu... Akhirnya ditinggal sendirian di tengah asyik-asyiknya berkencan... Talk to my hand, Captain!!!
Malu dan kecewa yang sekejap kemudian justru terobati karena Mo Yeon mendadak mendapat telepon dari rumah sakit yang mengharuskannya untuk datang. Siapa yang akan meninggalkan siapa coba kl seperti ini akhirnya cerita kencan yang gagal lagi malam itu??! Sekarang hanya tinggal masalah, siapa yang duluan mendapat tugas dan panggilan dan bersiap-siaplah untuk dua-duanya akan menerima resikonya. Resiko untuk ditinggalkan duluan dan meninggalkan segala apa yang sedang dilakukan serta dikerjakan. Tapi karena ini judulnya adalah kencan penjajakan, imej dan harga diri masihlah segala-galanya. Hahahaaa... Berpikirnya, di awalnya saja sudah seperti ini, lalu bagaimana untuk yang selanjutnya dan seterusnya?!
*Prinsip Berlawanan
Maka untuk yang ketiga kalinya, ketika Si Jin datang untuk kesekian kalinya mengejutkan Mo Yeon, sang dokter mencoba untuk mengambil suatu ketegasan. Obrolan di kafe malam itu tak selancar ledekan-ledekan serta gurauan-gurauan mereka berdua sebelumnya. Suasana pertemuan malam itu terlihat kaku, tegang, tapi juga pilu. Saat Mo Yeon mulai menyinggung tentang pekerjaan Si Jin sebagai tentara, seketika itu ego Mo Yeon seolah-olah berusaha untuk menegakkan harga dirinya di hadapan Si Jin. Dua kali kencan berada dalam posisi yang selalu yang ditinggalkan, Mo Yeon yang punya reputasi tidak sembarangan di profesinya, merasa bahwa ia harus dengan segala cara membuat dirinya tidak hanya dipandang sebelah mata.
Hingga akhirnya tema prinsip dalam profesi mereka jalani, yang seolah-olah dipakai Mo Yeon sebagai alat untuk mengultimatum Si Jin. “... Kau berjuang dengan cara membunuh atau terbunuh, sedangkan aku berjuang apapun caranya membuat orang tetap hidup...” Kurang lebih begitulah inti yang dikatakan Mo Yeon kepada Si Jin malam itu di kafe. Si Jin pun tak bisa mengelak dari apa yang sudah disimpulkan sendiri oleh Mo Yeon. Bahwa kemudian dia membela dirinya, tak cukup kiranya pembelaan tersebut untuk membuat Mo Yeon bertahan. Sebelum semuanya berjalan terlalu jauh, sebelum pengertian dan pemahaman akan muncul seiring cinta yang sudah tertanam, dan sebelum segala toleransi dan pengorbanan akan membawa keduanya dalam keselerasan, lebih baik saling undur diri dan mengucapkan salam perpisahan.
*Terjebak Kesibukan dan Kegemilangan
Seiring waktu berjalan, Mo Yeon dan Si Jin kembali dalam kesibukannya sendiri-sendiri. Dan percayalah, dua orang ini sebenarnya sosok yang hebat dalam pekerjaannya. Mungkin urusan hati sangat payah, tapi lain halnya denagn prestasi dan dedikasi pekerjaan, baik Mo Yeon atau Si Jin sama-sama sedang menapaki jalan kegemilangannya. Ahh, dokter cantik satu ini, boleh saja dia berulang kali gagal secara tidak fair dipromosikan menjadi seorang profesor, tapi praktek di lapangan, Kang Mo Yeon adalah bintangnya. Menangis dan meratap putus asa sendirian karena merasa dipecundangi oleh sesama rekan dokternya, tapi ketika akhirnya berhasil tampil di layar kaca, Mo Yeon berhasil membuktikannya, bahwa memang dia adalah pemenangnya. Sang rekan yang pecundang akhirnya terus-menerus merecokinya, namanya juga iri... Hahha... Lalu masihkan Mo Yeon teringat akan Si Jin? Hhmmm...
Mo Yeon bersinar di bidangnya, begitu pun dengan Kapten Yoo Si Jin. Kini dia sedang ditugaskan di Urk, sebuah tempat yang semakin menjauhkannya dengan Mo Yeon. Bahkan ketika Dae Yeong mengingatkan tentang Mo Yeon pun, Si Jin memilih untuk tak terlalu mengindahkannya. Apa yang mau diingat untuk sebuah akhir yang tak berawal, hehhe... Tapi rasa yang tersimpan sebenarnya belum rela untuk melepaskannya.
*Pertemuan Kembali
Berterima kasihlah kepada sang pimpinan Haesung Hospital, karena kekesalannya kepada penolakan Mo Yeon, maka akhirnya dia memilih untuk menghukum Mo Yeon dengan cara menyuruhnya pergi memimpin sebuah tugas kemanusiaan bersama dengan rekan-rekan dokter dan perawat terpilih, ke sebuah negara yang bahkan dari beberapa yang akan berangkat tidak tahu ada nama Urk sebagai sebuah wilayah atau negara, wkwkwkwkwkkk... Urk yang berkonflik dan rawan, siapa sangka di situlah justru rasa yang dulu belum sempat menuntaskan klimaksnya, memulai lagi petualangannya. Petualang baru, di tempat dan sikon yang benar-benar baru. Berharapnya sie akan ada semangat baru. Ech, si kapten... Tahu saja caranya untuk menyambut seseorang yang dulu lebih memilih mengakhiri daripada melanjutkan rasa yang sedang bergejolak di hati. Jika sebelumnya Mo Yeon yang ‘pasang harga diri’ serta pertahanannya di hadapan Si Jin, sekarang gilirannya Si Jin yang menegaskan harga dirinya di hadapan Mo Yeon. Dengan cara apa, saudara-saudara? Hahha... Tak usahlah banyak cakap dan mengadu prinsip, cukup dengan memakai kaca mata hitam saja!!! Hahahaaa...
Kaca mata hitam yang tak menghiraukan sebuah syal yang terbang tertiup angin dan pemiliknya yang ternyata tak luput untuk tertegun dan menatap. Adegan melintas yang cukup memorable rupanya untuk para pecinta serial drama ini kemudian. Semoga yang sedang melintas dan mengawas tersebut, bergegas mengurus rasa yang saling ada yaaa... Pertama mungkin kau kurelakan pergi, tapi untuk selanjutnya ternyata kita dipertemukan lagi, pasti karena ada urusan yang belum benar-benar terselesaikan di antara kita. Baiknya memang semuanya dituntaskan sampai ke titik akhirnya. See you...
*Quotes of the day: 1) Si Jin: “... Aku adalah seorang tentara. Tentara mengikuti perintah. Terkadang, apa yang aku yakini itu baik dan benar, tidak berarti demikian juga untuk yang lainnya...” “... Aku percaya, bahwa aku berjuang untuk kedamaian dan kebebasan bangsa dan negaraku.
*Resiko Pekerjaan
Satunya seorang dokter bedah handal, satunya lagi adalah seorang tentara/prajurit dari kesatuan elit. Dua-duanya punya beban tugas yang sangat tidak bisa disepelekan. Ibarat kata, mereka berdua hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Satunya berurusan dengan nyawa manusia dan yang satunya lagi berhubungan dengan pertahanan dan kedaulatan negara. Sesekali mereka punya ‘me time’, tapi hanya sesekali saja. Sesekali yang tetap harus berjaga-jaga karena sewaktu-waktu dipanggil atas nama tugas yang tidak bisa untuk dielak. Meskipun dokter ada giliran tugas dan jaganya, tapi dalam prakteknya, semua serba mungkin untuk waktu yang sehari-semalam hanya 24 jam ini, mereka tak kenal lelah dengan tugas dan pengabdian.
Pun dengan yang dialami oleh seorang prajurit atau tentara. Sewaktu-waktu mereka dipanggil dan dibutuhkan dalam suatu tugas dan misi, seketika itu juga mereka harus pergi untuk menuruti perintah. Urusan pribadi jadi sesuatu yang langka untuk dieksekusi karena kepentingan negara harus di atas segalanya. Terlebih untuk anggota kesatuan elit seperti Kapten Yoo Si Jin. Makin dia handal dan tuntas dalam setiap misi, makin libur itu seolah-olah hanya menjadi sebuah angan-angan.
Di awalnya saja kelihatannya akan berjalan lancar, sesuai rencana, tapi di tengah perjalanan apa mau dikata... Niat hati ingin meminta maaf sekaligus mengganti waktu atas ajakan kencan pertama yang gagal, tapi Si Jin tak kuasa juga untuk menuntaskannya. Menerima ajakan Dokter Kang untuk pergi nonton di bioskop setelah sebelumnya sempat untuk beberapa saat saling berbicara dan bercanda, saling meledek dan menggoda, harusnya malam itu mereka bisa memanfaatkan kurang lebih dua jam lagi untuk mengobrol dan menonton film. Si Jin terpaksa menutup gurauannya dengan Dokter Kang bahwa duduk di sebelah wanita cantik dengan kondisi lampu dimatikan adalah sesuatu yang mengasyikkan, lewat sebuah panggilan telepon yang mengharuskan dia meninggalkan Dokter Kang sendirian di bioskop. Tugas adalah tugas dan meninggalkan tugas berarti mengingkari komitmen dan tanggung jawab itu sendiri. Dokter Kang hanya bisa mengatakan, “... Pergilah!!!” Dan aku akan tetap meneruskan menonton film itu sendiri... Hhhhuuufftt... Mulut boleh berkata apa saja, tapi mata adalah jendela hati untuk menggambarkan kekecewaan dan juga malu. Ya iyalah malu... Akhirnya ditinggal sendirian di tengah asyik-asyiknya berkencan... Talk to my hand, Captain!!!
Malu dan kecewa yang sekejap kemudian justru terobati karena Mo Yeon mendadak mendapat telepon dari rumah sakit yang mengharuskannya untuk datang. Siapa yang akan meninggalkan siapa coba kl seperti ini akhirnya cerita kencan yang gagal lagi malam itu??! Sekarang hanya tinggal masalah, siapa yang duluan mendapat tugas dan panggilan dan bersiap-siaplah untuk dua-duanya akan menerima resikonya. Resiko untuk ditinggalkan duluan dan meninggalkan segala apa yang sedang dilakukan serta dikerjakan. Tapi karena ini judulnya adalah kencan penjajakan, imej dan harga diri masihlah segala-galanya. Hahahaaa... Berpikirnya, di awalnya saja sudah seperti ini, lalu bagaimana untuk yang selanjutnya dan seterusnya?!
*Prinsip Berlawanan
Maka untuk yang ketiga kalinya, ketika Si Jin datang untuk kesekian kalinya mengejutkan Mo Yeon, sang dokter mencoba untuk mengambil suatu ketegasan. Obrolan di kafe malam itu tak selancar ledekan-ledekan serta gurauan-gurauan mereka berdua sebelumnya. Suasana pertemuan malam itu terlihat kaku, tegang, tapi juga pilu. Saat Mo Yeon mulai menyinggung tentang pekerjaan Si Jin sebagai tentara, seketika itu ego Mo Yeon seolah-olah berusaha untuk menegakkan harga dirinya di hadapan Si Jin. Dua kali kencan berada dalam posisi yang selalu yang ditinggalkan, Mo Yeon yang punya reputasi tidak sembarangan di profesinya, merasa bahwa ia harus dengan segala cara membuat dirinya tidak hanya dipandang sebelah mata.
Hingga akhirnya tema prinsip dalam profesi mereka jalani, yang seolah-olah dipakai Mo Yeon sebagai alat untuk mengultimatum Si Jin. “... Kau berjuang dengan cara membunuh atau terbunuh, sedangkan aku berjuang apapun caranya membuat orang tetap hidup...” Kurang lebih begitulah inti yang dikatakan Mo Yeon kepada Si Jin malam itu di kafe. Si Jin pun tak bisa mengelak dari apa yang sudah disimpulkan sendiri oleh Mo Yeon. Bahwa kemudian dia membela dirinya, tak cukup kiranya pembelaan tersebut untuk membuat Mo Yeon bertahan. Sebelum semuanya berjalan terlalu jauh, sebelum pengertian dan pemahaman akan muncul seiring cinta yang sudah tertanam, dan sebelum segala toleransi dan pengorbanan akan membawa keduanya dalam keselerasan, lebih baik saling undur diri dan mengucapkan salam perpisahan.
*Terjebak Kesibukan dan Kegemilangan
Seiring waktu berjalan, Mo Yeon dan Si Jin kembali dalam kesibukannya sendiri-sendiri. Dan percayalah, dua orang ini sebenarnya sosok yang hebat dalam pekerjaannya. Mungkin urusan hati sangat payah, tapi lain halnya denagn prestasi dan dedikasi pekerjaan, baik Mo Yeon atau Si Jin sama-sama sedang menapaki jalan kegemilangannya. Ahh, dokter cantik satu ini, boleh saja dia berulang kali gagal secara tidak fair dipromosikan menjadi seorang profesor, tapi praktek di lapangan, Kang Mo Yeon adalah bintangnya. Menangis dan meratap putus asa sendirian karena merasa dipecundangi oleh sesama rekan dokternya, tapi ketika akhirnya berhasil tampil di layar kaca, Mo Yeon berhasil membuktikannya, bahwa memang dia adalah pemenangnya. Sang rekan yang pecundang akhirnya terus-menerus merecokinya, namanya juga iri... Hahha... Lalu masihkan Mo Yeon teringat akan Si Jin? Hhmmm...
Mo Yeon bersinar di bidangnya, begitu pun dengan Kapten Yoo Si Jin. Kini dia sedang ditugaskan di Urk, sebuah tempat yang semakin menjauhkannya dengan Mo Yeon. Bahkan ketika Dae Yeong mengingatkan tentang Mo Yeon pun, Si Jin memilih untuk tak terlalu mengindahkannya. Apa yang mau diingat untuk sebuah akhir yang tak berawal, hehhe... Tapi rasa yang tersimpan sebenarnya belum rela untuk melepaskannya.
*Pertemuan Kembali
Berterima kasihlah kepada sang pimpinan Haesung Hospital, karena kekesalannya kepada penolakan Mo Yeon, maka akhirnya dia memilih untuk menghukum Mo Yeon dengan cara menyuruhnya pergi memimpin sebuah tugas kemanusiaan bersama dengan rekan-rekan dokter dan perawat terpilih, ke sebuah negara yang bahkan dari beberapa yang akan berangkat tidak tahu ada nama Urk sebagai sebuah wilayah atau negara, wkwkwkwkwkkk... Urk yang berkonflik dan rawan, siapa sangka di situlah justru rasa yang dulu belum sempat menuntaskan klimaksnya, memulai lagi petualangannya. Petualang baru, di tempat dan sikon yang benar-benar baru. Berharapnya sie akan ada semangat baru. Ech, si kapten... Tahu saja caranya untuk menyambut seseorang yang dulu lebih memilih mengakhiri daripada melanjutkan rasa yang sedang bergejolak di hati. Jika sebelumnya Mo Yeon yang ‘pasang harga diri’ serta pertahanannya di hadapan Si Jin, sekarang gilirannya Si Jin yang menegaskan harga dirinya di hadapan Mo Yeon. Dengan cara apa, saudara-saudara? Hahha... Tak usahlah banyak cakap dan mengadu prinsip, cukup dengan memakai kaca mata hitam saja!!! Hahahaaa...
Kaca mata hitam yang tak menghiraukan sebuah syal yang terbang tertiup angin dan pemiliknya yang ternyata tak luput untuk tertegun dan menatap. Adegan melintas yang cukup memorable rupanya untuk para pecinta serial drama ini kemudian. Semoga yang sedang melintas dan mengawas tersebut, bergegas mengurus rasa yang saling ada yaaa... Pertama mungkin kau kurelakan pergi, tapi untuk selanjutnya ternyata kita dipertemukan lagi, pasti karena ada urusan yang belum benar-benar terselesaikan di antara kita. Baiknya memang semuanya dituntaskan sampai ke titik akhirnya. See you...
*Quotes of the day: 1) Si Jin: “... Aku adalah seorang tentara. Tentara mengikuti perintah. Terkadang, apa yang aku yakini itu baik dan benar, tidak berarti demikian juga untuk yang lainnya...” “... Aku percaya, bahwa aku berjuang untuk kedamaian dan kebebasan bangsa dan negaraku.
19.50.00
Unknown
Gagal lagi yang kesekian kalinya untuk menuntaskan kencan. Hhmmm... Dua kali sudah Yoo Si Jin mengajak Kang Mo Yeon untuk pergi berkencan, tapi dua kali juga ia membuat berantakan acara kencannya. Tidak sepenuhnya berantakan, tapi tetap saja menyisakan kekesalan. Tidak semua meninggalkan kesedihan, tapi gundah dan tanya selalu yang tersisa kemudian. Dua kali tak tuntas, tapi tidak untuk yang ketiga... Namun apa lacur kemudian, di kesempatan yang ketiga giliran Dokter Kang yang memutuskan mengakhiri, bahkan untuk sebuah permulaan yang belum dimulai oleh keduanya.
*Resiko Pekerjaan
Satunya seorang dokter bedah handal, satunya lagi adalah seorang tentara/prajurit dari kesatuan elit. Dua-duanya punya beban tugas yang sangat tidak bisa disepelekan. Ibarat kata, mereka berdua hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Satunya berurusan dengan nyawa manusia dan yang satunya lagi berhubungan dengan pertahanan dan kedaulatan negara. Sesekali mereka punya ‘me time’, tapi hanya sesekali saja. Sesekali yang tetap harus berjaga-jaga karena sewaktu-waktu dipanggil atas nama tugas yang tidak bisa untuk dielak. Meskipun dokter ada giliran tugas dan jaganya, tapi dalam prakteknya, semua serba mungkin untuk waktu yang sehari-semalam hanya 24 jam ini, mereka tak kenal lelah dengan tugas dan pengabdian.
Pun dengan yang dialami oleh seorang prajurit atau tentara. Sewaktu-waktu mereka dipanggil dan dibutuhkan dalam suatu tugas dan misi, seketika itu juga mereka harus pergi untuk menuruti perintah. Urusan pribadi jadi sesuatu yang langka untuk dieksekusi karena kepentingan negara harus di atas segalanya. Terlebih untuk anggota kesatuan elit seperti Kapten Yoo Si Jin. Makin dia handal dan tuntas dalam setiap misi, makin libur itu seolah-olah hanya menjadi sebuah angan-angan.
Di awalnya saja kelihatannya akan berjalan lancar, sesuai rencana, tapi di tengah perjalanan apa mau dikata... Niat hati ingin meminta maaf sekaligus mengganti waktu atas ajakan kencan pertama yang gagal, tapi Si Jin tak kuasa juga untuk menuntaskannya. Menerima ajakan Dokter Kang untuk pergi nonton di bioskop setelah sebelumnya sempat untuk beberapa saat saling berbicara dan bercanda, saling meledek dan menggoda, harusnya malam itu mereka bisa memanfaatkan kurang lebih dua jam lagi untuk mengobrol dan menonton film. Si Jin terpaksa menutup gurauannya dengan Dokter Kang bahwa duduk di sebelah wanita cantik dengan kondisi lampu dimatikan adalah sesuatu yang mengasyikkan, lewat sebuah panggilan telepon yang mengharuskan dia meninggalkan Dokter Kang sendirian di bioskop. Tugas adalah tugas dan meninggalkan tugas berarti mengingkari komitmen dan tanggung jawab itu sendiri. Dokter Kang hanya bisa mengatakan, “... Pergilah!!!” Dan aku akan tetap meneruskan menonton film itu sendiri... Hhhhuuufftt... Mulut boleh berkata apa saja, tapi mata adalah jendela hati untuk menggambarkan kekecewaan dan juga malu. Ya iyalah malu... Akhirnya ditinggal sendirian di tengah asyik-asyiknya berkencan... Talk to my hand, Captain!!!
Malu dan kecewa yang sekejap kemudian justru terobati karena Mo Yeon mendadak mendapat telepon dari rumah sakit yang mengharuskannya untuk datang. Siapa yang akan meninggalkan siapa coba kl seperti ini akhirnya cerita kencan yang gagal lagi malam itu??! Sekarang hanya tinggal masalah, siapa yang duluan mendapat tugas dan panggilan dan bersiap-siaplah untuk dua-duanya akan menerima resikonya. Resiko untuk ditinggalkan duluan dan meninggalkan segala apa yang sedang dilakukan serta dikerjakan. Tapi karena ini judulnya adalah kencan penjajakan, imej dan harga diri masihlah segala-galanya. Hahahaaa... Berpikirnya, di awalnya saja sudah seperti ini, lalu bagaimana untuk yang selanjutnya dan seterusnya?!
*Prinsip Berlawanan
Maka untuk yang ketiga kalinya, ketika Si Jin datang untuk kesekian kalinya mengejutkan Mo Yeon, sang dokter mencoba untuk mengambil suatu ketegasan. Obrolan di kafe malam itu tak selancar ledekan-ledekan serta gurauan-gurauan mereka berdua sebelumnya. Suasana pertemuan malam itu terlihat kaku, tegang, tapi juga pilu. Saat Mo Yeon mulai menyinggung tentang pekerjaan Si Jin sebagai tentara, seketika itu ego Mo Yeon seolah-olah berusaha untuk menegakkan harga dirinya di hadapan Si Jin. Dua kali kencan berada dalam posisi yang selalu yang ditinggalkan, Mo Yeon yang punya reputasi tidak sembarangan di profesinya, merasa bahwa ia harus dengan segala cara membuat dirinya tidak hanya dipandang sebelah mata.
Hingga akhirnya tema prinsip dalam profesi mereka jalani, yang seolah-olah dipakai Mo Yeon sebagai alat untuk mengultimatum Si Jin. “... Kau berjuang dengan cara membunuh atau terbunuh, sedangkan aku berjuang apapun caranya membuat orang tetap hidup...” Kurang lebih begitulah inti yang dikatakan Mo Yeon kepada Si Jin malam itu di kafe. Si Jin pun tak bisa mengelak dari apa yang sudah disimpulkan sendiri oleh Mo Yeon. Bahwa kemudian dia membela dirinya, tak cukup kiranya pembelaan tersebut untuk membuat Mo Yeon bertahan. Sebelum semuanya berjalan terlalu jauh, sebelum pengertian dan pemahaman akan muncul seiring cinta yang sudah tertanam, dan sebelum segala toleransi dan pengorbanan akan membawa keduanya dalam keselerasan, lebih baik saling undur diri dan mengucapkan salam perpisahan.
*Terjebak Kesibukan dan Kegemilangan
Seiring waktu berjalan, Mo Yeon dan Si Jin kembali dalam kesibukannya sendiri-sendiri. Dan percayalah, dua orang ini sebenarnya sosok yang hebat dalam pekerjaannya. Mungkin urusan hati sangat payah, tapi lain halnya denagn prestasi dan dedikasi pekerjaan, baik Mo Yeon atau Si Jin sama-sama sedang menapaki jalan kegemilangannya. Ahh, dokter cantik satu ini, boleh saja dia berulang kali gagal secara tidak fair dipromosikan menjadi seorang profesor, tapi praktek di lapangan, Kang Mo Yeon adalah bintangnya. Menangis dan meratap putus asa sendirian karena merasa dipecundangi oleh sesama rekan dokternya, tapi ketika akhirnya berhasil tampil di layar kaca, Mo Yeon berhasil membuktikannya, bahwa memang dia adalah pemenangnya. Sang rekan yang pecundang akhirnya terus-menerus merecokinya, namanya juga iri... Hahha... Lalu masihkan Mo Yeon teringat akan Si Jin? Hhmmm...
Mo Yeon bersinar di bidangnya, begitu pun dengan Kapten Yoo Si Jin. Kini dia sedang ditugaskan di Urk, sebuah tempat yang semakin menjauhkannya dengan Mo Yeon. Bahkan ketika Dae Yeong mengingatkan tentang Mo Yeon pun, Si Jin memilih untuk tak terlalu mengindahkannya. Apa yang mau diingat untuk sebuah akhir yang tak berawal, hehhe... Tapi rasa yang tersimpan sebenarnya belum rela untuk melepaskannya.
*Pertemuan Kembali
Berterima kasihlah kepada sang pimpinan Haesung Hospital, karena kekesalannya kepada penolakan Mo Yeon, maka akhirnya dia memilih untuk menghukum Mo Yeon dengan cara menyuruhnya pergi memimpin sebuah tugas kemanusiaan bersama dengan rekan-rekan dokter dan perawat terpilih, ke sebuah negara yang bahkan dari beberapa yang akan berangkat tidak tahu ada nama Urk sebagai sebuah wilayah atau negara, wkwkwkwkwkkk... Urk yang berkonflik dan rawan, siapa sangka di situlah justru rasa yang dulu belum sempat menuntaskan klimaksnya, memulai lagi petualangannya. Petualang baru, di tempat dan sikon yang benar-benar baru. Berharapnya sie akan ada semangat baru. Ech, si kapten... Tahu saja caranya untuk menyambut seseorang yang dulu lebih memilih mengakhiri daripada melanjutkan rasa yang sedang bergejolak di hati. Jika sebelumnya Mo Yeon yang ‘pasang harga diri’ serta pertahanannya di hadapan Si Jin, sekarang gilirannya Si Jin yang menegaskan harga dirinya di hadapan Mo Yeon. Dengan cara apa, saudara-saudara? Hahha... Tak usahlah banyak cakap dan mengadu prinsip, cukup dengan memakai kaca mata hitam saja!!! Hahahaaa...
Kaca mata hitam yang tak menghiraukan sebuah syal yang terbang tertiup angin dan pemiliknya yang ternyata tak luput untuk tertegun dan menatap. Adegan melintas yang cukup memorable rupanya untuk para pecinta serial drama ini kemudian. Semoga yang sedang melintas dan mengawas tersebut, bergegas mengurus rasa yang saling ada yaaa... Pertama mungkin kau kurelakan pergi, tapi untuk selanjutnya ternyata kita dipertemukan lagi, pasti karena ada urusan yang belum benar-benar terselesaikan di antara kita. Baiknya memang semuanya dituntaskan sampai ke titik akhirnya. See you...
*Quotes of the day: 1) Si Jin: “... Aku adalah seorang tentara. Tentara mengikuti perintah. Terkadang, apa yang aku yakini itu baik dan benar, tidak berarti demikian juga untuk yang lainnya...” “... Aku percaya, bahwa aku berjuang untuk kedamaian dan kebebasan bangsa dan negaraku.
*Resiko Pekerjaan
Satunya seorang dokter bedah handal, satunya lagi adalah seorang tentara/prajurit dari kesatuan elit. Dua-duanya punya beban tugas yang sangat tidak bisa disepelekan. Ibarat kata, mereka berdua hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Satunya berurusan dengan nyawa manusia dan yang satunya lagi berhubungan dengan pertahanan dan kedaulatan negara. Sesekali mereka punya ‘me time’, tapi hanya sesekali saja. Sesekali yang tetap harus berjaga-jaga karena sewaktu-waktu dipanggil atas nama tugas yang tidak bisa untuk dielak. Meskipun dokter ada giliran tugas dan jaganya, tapi dalam prakteknya, semua serba mungkin untuk waktu yang sehari-semalam hanya 24 jam ini, mereka tak kenal lelah dengan tugas dan pengabdian.
Pun dengan yang dialami oleh seorang prajurit atau tentara. Sewaktu-waktu mereka dipanggil dan dibutuhkan dalam suatu tugas dan misi, seketika itu juga mereka harus pergi untuk menuruti perintah. Urusan pribadi jadi sesuatu yang langka untuk dieksekusi karena kepentingan negara harus di atas segalanya. Terlebih untuk anggota kesatuan elit seperti Kapten Yoo Si Jin. Makin dia handal dan tuntas dalam setiap misi, makin libur itu seolah-olah hanya menjadi sebuah angan-angan.
Di awalnya saja kelihatannya akan berjalan lancar, sesuai rencana, tapi di tengah perjalanan apa mau dikata... Niat hati ingin meminta maaf sekaligus mengganti waktu atas ajakan kencan pertama yang gagal, tapi Si Jin tak kuasa juga untuk menuntaskannya. Menerima ajakan Dokter Kang untuk pergi nonton di bioskop setelah sebelumnya sempat untuk beberapa saat saling berbicara dan bercanda, saling meledek dan menggoda, harusnya malam itu mereka bisa memanfaatkan kurang lebih dua jam lagi untuk mengobrol dan menonton film. Si Jin terpaksa menutup gurauannya dengan Dokter Kang bahwa duduk di sebelah wanita cantik dengan kondisi lampu dimatikan adalah sesuatu yang mengasyikkan, lewat sebuah panggilan telepon yang mengharuskan dia meninggalkan Dokter Kang sendirian di bioskop. Tugas adalah tugas dan meninggalkan tugas berarti mengingkari komitmen dan tanggung jawab itu sendiri. Dokter Kang hanya bisa mengatakan, “... Pergilah!!!” Dan aku akan tetap meneruskan menonton film itu sendiri... Hhhhuuufftt... Mulut boleh berkata apa saja, tapi mata adalah jendela hati untuk menggambarkan kekecewaan dan juga malu. Ya iyalah malu... Akhirnya ditinggal sendirian di tengah asyik-asyiknya berkencan... Talk to my hand, Captain!!!
Malu dan kecewa yang sekejap kemudian justru terobati karena Mo Yeon mendadak mendapat telepon dari rumah sakit yang mengharuskannya untuk datang. Siapa yang akan meninggalkan siapa coba kl seperti ini akhirnya cerita kencan yang gagal lagi malam itu??! Sekarang hanya tinggal masalah, siapa yang duluan mendapat tugas dan panggilan dan bersiap-siaplah untuk dua-duanya akan menerima resikonya. Resiko untuk ditinggalkan duluan dan meninggalkan segala apa yang sedang dilakukan serta dikerjakan. Tapi karena ini judulnya adalah kencan penjajakan, imej dan harga diri masihlah segala-galanya. Hahahaaa... Berpikirnya, di awalnya saja sudah seperti ini, lalu bagaimana untuk yang selanjutnya dan seterusnya?!
*Prinsip Berlawanan
Maka untuk yang ketiga kalinya, ketika Si Jin datang untuk kesekian kalinya mengejutkan Mo Yeon, sang dokter mencoba untuk mengambil suatu ketegasan. Obrolan di kafe malam itu tak selancar ledekan-ledekan serta gurauan-gurauan mereka berdua sebelumnya. Suasana pertemuan malam itu terlihat kaku, tegang, tapi juga pilu. Saat Mo Yeon mulai menyinggung tentang pekerjaan Si Jin sebagai tentara, seketika itu ego Mo Yeon seolah-olah berusaha untuk menegakkan harga dirinya di hadapan Si Jin. Dua kali kencan berada dalam posisi yang selalu yang ditinggalkan, Mo Yeon yang punya reputasi tidak sembarangan di profesinya, merasa bahwa ia harus dengan segala cara membuat dirinya tidak hanya dipandang sebelah mata.
Hingga akhirnya tema prinsip dalam profesi mereka jalani, yang seolah-olah dipakai Mo Yeon sebagai alat untuk mengultimatum Si Jin. “... Kau berjuang dengan cara membunuh atau terbunuh, sedangkan aku berjuang apapun caranya membuat orang tetap hidup...” Kurang lebih begitulah inti yang dikatakan Mo Yeon kepada Si Jin malam itu di kafe. Si Jin pun tak bisa mengelak dari apa yang sudah disimpulkan sendiri oleh Mo Yeon. Bahwa kemudian dia membela dirinya, tak cukup kiranya pembelaan tersebut untuk membuat Mo Yeon bertahan. Sebelum semuanya berjalan terlalu jauh, sebelum pengertian dan pemahaman akan muncul seiring cinta yang sudah tertanam, dan sebelum segala toleransi dan pengorbanan akan membawa keduanya dalam keselerasan, lebih baik saling undur diri dan mengucapkan salam perpisahan.
*Terjebak Kesibukan dan Kegemilangan
Seiring waktu berjalan, Mo Yeon dan Si Jin kembali dalam kesibukannya sendiri-sendiri. Dan percayalah, dua orang ini sebenarnya sosok yang hebat dalam pekerjaannya. Mungkin urusan hati sangat payah, tapi lain halnya denagn prestasi dan dedikasi pekerjaan, baik Mo Yeon atau Si Jin sama-sama sedang menapaki jalan kegemilangannya. Ahh, dokter cantik satu ini, boleh saja dia berulang kali gagal secara tidak fair dipromosikan menjadi seorang profesor, tapi praktek di lapangan, Kang Mo Yeon adalah bintangnya. Menangis dan meratap putus asa sendirian karena merasa dipecundangi oleh sesama rekan dokternya, tapi ketika akhirnya berhasil tampil di layar kaca, Mo Yeon berhasil membuktikannya, bahwa memang dia adalah pemenangnya. Sang rekan yang pecundang akhirnya terus-menerus merecokinya, namanya juga iri... Hahha... Lalu masihkan Mo Yeon teringat akan Si Jin? Hhmmm...
Mo Yeon bersinar di bidangnya, begitu pun dengan Kapten Yoo Si Jin. Kini dia sedang ditugaskan di Urk, sebuah tempat yang semakin menjauhkannya dengan Mo Yeon. Bahkan ketika Dae Yeong mengingatkan tentang Mo Yeon pun, Si Jin memilih untuk tak terlalu mengindahkannya. Apa yang mau diingat untuk sebuah akhir yang tak berawal, hehhe... Tapi rasa yang tersimpan sebenarnya belum rela untuk melepaskannya.
*Pertemuan Kembali
Berterima kasihlah kepada sang pimpinan Haesung Hospital, karena kekesalannya kepada penolakan Mo Yeon, maka akhirnya dia memilih untuk menghukum Mo Yeon dengan cara menyuruhnya pergi memimpin sebuah tugas kemanusiaan bersama dengan rekan-rekan dokter dan perawat terpilih, ke sebuah negara yang bahkan dari beberapa yang akan berangkat tidak tahu ada nama Urk sebagai sebuah wilayah atau negara, wkwkwkwkwkkk... Urk yang berkonflik dan rawan, siapa sangka di situlah justru rasa yang dulu belum sempat menuntaskan klimaksnya, memulai lagi petualangannya. Petualang baru, di tempat dan sikon yang benar-benar baru. Berharapnya sie akan ada semangat baru. Ech, si kapten... Tahu saja caranya untuk menyambut seseorang yang dulu lebih memilih mengakhiri daripada melanjutkan rasa yang sedang bergejolak di hati. Jika sebelumnya Mo Yeon yang ‘pasang harga diri’ serta pertahanannya di hadapan Si Jin, sekarang gilirannya Si Jin yang menegaskan harga dirinya di hadapan Mo Yeon. Dengan cara apa, saudara-saudara? Hahha... Tak usahlah banyak cakap dan mengadu prinsip, cukup dengan memakai kaca mata hitam saja!!! Hahahaaa...
Kaca mata hitam yang tak menghiraukan sebuah syal yang terbang tertiup angin dan pemiliknya yang ternyata tak luput untuk tertegun dan menatap. Adegan melintas yang cukup memorable rupanya untuk para pecinta serial drama ini kemudian. Semoga yang sedang melintas dan mengawas tersebut, bergegas mengurus rasa yang saling ada yaaa... Pertama mungkin kau kurelakan pergi, tapi untuk selanjutnya ternyata kita dipertemukan lagi, pasti karena ada urusan yang belum benar-benar terselesaikan di antara kita. Baiknya memang semuanya dituntaskan sampai ke titik akhirnya. See you...
*Quotes of the day: 1) Si Jin: “... Aku adalah seorang tentara. Tentara mengikuti perintah. Terkadang, apa yang aku yakini itu baik dan benar, tidak berarti demikian juga untuk yang lainnya...” “... Aku percaya, bahwa aku berjuang untuk kedamaian dan kebebasan bangsa dan negaraku.
Selasa, 26 Juli 2016
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu hadir juga. Sang Kapten Yoo Si Jin dan dokter jelitanya, Kang Mo Yeon dalam Descendant Of The Sun!!! Ech, btw masih ditunggu-tunggu gak sie??! Hahha... Kl katanya ‘para sombong’ (wkwkwkwkwkkk, termasuk saiya) yang sudah terbiasa download serial K-Drama mendahului pemirsa kebanyakan, termasuk juga dengan serial drama ini, sudah tidak terlalu exited lagi... Lha iya, lha wonk sudah hapal di luar kepala adegan-adegan serta jalan ceritanya karena sudah ditonton berulang kali ditonton di laptop atau juga media gadget yang lainnya, hahahaaa... Momentumnya lambat-laun sudah meluntur, hhmmm... Apanya lagi dunk yang bikin penasaran??! Apalagi yang memenangkan hak siar drama berbudget fantastis ini di Indonesia adalah stasiun tv RCTI, hadddeh... Berasa exited dan antusiasnya makin jauh panggang dari api. Stasiun tv RCTI terkenal dengan kebiasaan kejamnya yang hobi memotong dan menghentikan program acaranya di tengah jalan karena ekspektasi yang tidak sesuai harapan (baca: alasan rating dan share jeblok). Bukan melulu karena sifat tayangan yang tidak memenuhi standar, justru stasiun tv ini seringkali memangkas acara-acara yang saya pikir itu bagus dan bermutu daripada hanya sekadar tayangan sinetron ribuan episode, yang entah sampai kapan akan mencapai tamatnya, wwweew... Nah, untuk itulah kenapa ketika mengetahui DotS akan ditayangkan oleh stasiun tv berlambang burung rajawali ini, banyak pesimisme dan nyinyir yang berkembang di sana-sini... Eeeyyyaa... RCTI... Akan betah sampai berapa episode mereka akan menayangkan DotS, ada berapa banyak adegan yang akan jadi korban sensor sembarangan, xixixiii...
*Meleset Dari Perkiraan
Ahh, tapi setidak-tidaknya kabar baik itu mulai terjawab seminggu belakangan. Sempat membaca dan mengetahuinya sekilas di sebuah situs berita, katanya RCTI akan menayangkan DotS dengan menggunakan sistem subtitle alias tanpa dubbing dari para dubber, seperti biasanya beberapa program tayangan impor ditayangkan di stasiun-stasiun tv lokal. Daebak, keren dunk!!! Bukannya apa-apa, semenjak kenal yang namanya aktifitas ‘donwload-mendownload’ K-Drama, telinga dan mata saya jadi terbiasa dengan ‘baper original version’, wkwkwkwkkk... Alhasil, giliran ketika sebuah K-Drama tiba ditayangkan di stasiun tv nasional, berasa sudah ‘hambar’ duluan. Belum lagi nanti kl suara para dubber nya tidak sesuai atau melenceng terlalu jauh dari versi aslinya, hadddeh... Bikin berantakan mood untuk menontonnya kembali. Lebih baik menikmati saja hasil download an sendiri dengan subtitle yang bisa dipilih dalam berbagai macam pilihan bahasa, wkwkwkwkwkkk...
Selesai masalah penyajian subtitle, bukan berarti berhenti untuk kekhawatiran yang lain. Apa lagi kl bukan masalah cut adegan alias sensor. Sejak peraturan sensor semakin ketat, berasa seringkali cara menyensor yang dilakukan oleh lembaga terkait atas tayangan-tayangan, khususnya program impor, terlihat berlebihan. Bahkan kl boleh saya menyebut, justru karena sensor yang berlebihan tersebut, malah membuat kenikmatan ketika menonton suatu tayangan jadi terganggu. Belum lagi kl cara memotong adegan asal-asalan, berasa seperti menonton cerita yang terputus-putus. Tapi untuk DotS ini, sepertinya RCTI sedang ingin ‘berbeda’. Ditayangkan hampir tengah malam, di jam yang di luar prime time (18.00-21.00 WIB), berharap serial drama yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Song Joong Ki akan ditonton oleh para penonton yang sudah punya ‘jam terbang tinggi’, wkwkwkwkkk... Karena sudah punya jam terbang tinggi, makanya RCTI berani untuk meminimalisir cut atau sensor, meski commercial break nya luar biasa. Mahal eeeuuyy, maklum deh, hehhe.. Coba kl drama ini nekad tayang di sore hari, bisa-bisa hanya scene Si Jin memerlihatkan luka berdarahnya di bagian pinggang kepada Dokter Kang pasti diblur... Tapi karena ditayangkan ketika sudah hampir mencapai tengah malam, dengan perkiraan anak-anak di bawah umur sudah tidak stand by di depan tv, warna darahnya tidak berubah jadi hitam-putih deh, yuhuuuuu... Lalu untuk adegan cium-mencium bagaiman dunk?? Ya kita tunggu saja bagaimana selanjutnya.
*Mengepaskan Momen
Namanya juga stasiun tv swasta pioneer, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, RCTI selalu punya kelas tersendiri. Sering dibuat keki plus gedheggg dengan stasiun tv ini, tapi sungguh pun demikian RCTI adalah salah satu stasiun tv favorit saya. Ibarat kata, benci-benci tapi rindu, hahahaaa... Di beberapa varian program tayangan, RCTI terbilang jago untuk menghadirkan tayangan-tayangan yang spektakuler. Tapi ya itu tadi, karena terlalu berkepentingan dengan rating dan share, malah justru ‘ke-alay-an’ yang melanda. Duh, saya rindu dengan program-program RCTI zaman dulu, seperti Layar emas, Kuis Tak-Tik-Boom, sinetron Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dan kini, ketika usianya sudah hampir menginjak 27 tahun, saya berharap RCTI terus berbesar hati untuk mau mengevaluasi diri dan semangat untuk terus berkomitmen menghadirkan program-program acara yang menarik dan juga bermutu. Dan sekiranya itu diawali dengan menghadirkan DotS untuk pemirsa di tanah air. Momen ketika ditayangkan serial drama ini hingga sampai nanti selesai 16 (enam belas) episode, bertepatan dengan bulan di mana RCTI merayakan hari jadinya di tanggal 24 Agustus dan juga bulan di mana Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Berkelas karena kualitas, makanya itu segala sesuatunya seperti sudah diperhitungkan. Tema DotS yang berkisah tentang prajurit/tentara yang mengabdi dalam tugas bela negara dan juga seorang dokter yang ditugaskan di daerah konflik, spiritnya berasa pas dengan momen Agustus yang selalu penuh gegap-gempita semangat perjuangan dan cinta tanah air.
*Bukan Lee Byung Hun atau Jung Woo Sung
Berkisah tentang seorang prajurit/tentara yang erat kaitan dengan imej maskulin yang kekar dan berotot, bayangan saya, harusnya yang memerankan sosok Kapten Yoo Si Jin adalah kl tidak Lee Byun Hun yang memesona di IRIS 1, ya pasti Jung Woo Sung yang memikat di Athena, hahahaaa... Eeeeaallah, ternyata pilihan sang sutradara justru jatuh kepada ‘Kang Ma Roo saiya’... Adu aktingnya melawan salah satu primadona Korea pula... Duh, Joong Ki... Ternyata kau bisa juga ya mengimbangi atau bahkan menakhlukkan kharisma seorang Song Hye Kyo... Joong Ki yang dulunya lekat dengan citra unyu-unyu atau istilahnya ‘flower boy’, tapi kemudian menjelma menjadi sosok yang dewasa dan penuh perhitungan sebagai Kang Ma Roo dalam Nice Guy: Innocent Man, kini seolah-olah makin menunjukkan kelasnya, bahkan dia sanggup juga bermain watak dan peran, di samping statusnya sebagai bintang idola. Belum sepenuhnya bisa dikatakan gemilang lho ya (dilarang sewot, wkwkwkwkkk...), tapi setidak-tidaknya karakter Kapten Yoo Si Jin yang berwibawa, teguh dengan komitmen, tapi juga romantis dan doyan becanda, berhasil dihidupkan Joong Ki dengan caranya sendiri. Akan kebangetan jadinya jika saya nekad membandingkan-bandingkan Song Joong Kie dengan sosok Lee Byung Hun dan juga Jung Woo Sung, toh memang bukan itu yang jadi sasarannya. Cukuplah, jadi kapten pujaan di hati Dokter Kang dan juga para pecinta DotS di seluruh dunia.
Karakter Si Jin yang dihidupkan Joong Kie justru membuat gambaran tentang sosoknya tampak lebih manusiawi. Tentara juga manusia, di balik dunianya yang selalu dekat dengan bahaya, dia ternyata masih punya hati dan cinta untuk perempuan yang disukainya. Ahh, tapi tetap saja surprise melihat scene Si Jin tengah berolahraga fitness, wkwkwkwkkk.. Ech, Joong Ki ech... Kekar eeeuuyyy sekarang... Pulang wamil ternyata memang bawa hasil, hahahaaaa...
*Sang Primadona
Song Hye Kyo, siapa yang tak kenal perempuan cantik ini. Kecantikannya disebut-sebut sebagai yang paling alami alias bebas operasi plastik. Di usinya yang sudah menginjak 35 tahun, berasa waktu berhenti untuk kecantikan Hye Kyo yang kian memikat hati. Awet muda, awet cantik, dan kharismanya itu lhoooh... Di manapun kehadirannya, dia seperti pantang untuk disepelekan, hehhe... Termasuk untuk perannya sebagai Dokter Kang Mo Yeon. Dokter cantik yang penuh pengabdian dengan tugas-tugasnya di daerah konflik dan juga punya cinta yang besar untuk Kapten Si Jin. Di balik perannya yang apik dalam DotS, Hye Kyo seperti biasa dalam setiap tampilan peran di dramanya, seperti ikut membawa tren tersendiri. Siapa yang tak mengakrabi penampilan Dokter Kang dengan celana high weist nya (celana berpinggang tinggi) yang bikin para perempuan dengan masalah perut besar berasa sakit hati, xixixiii... Atau juga Dokter Kang dengan rok A-line nya dan dress shirt, berikut tas selempang... Bagi para penggemar DotS yang sudah berkali-kali khatam menontonnya, pasti sudah tidak asing dengan style Kang Mo Yeon yang simpel, tapi elegan. Duh, memang Kang Mo Yeon dan Song Hye Kyo itu sama-sama jelitanya ya,,,
*Memorable Scene
Bukan drama Korea jika tidak mampu menghadirkan unforgetable scenes alias adegan-adegan yang terlupakan. Tak melulu adegan yang bersifat penting, bahkan yang sepele-sepele saja, seringkali K-Drama menghadirkan adegan-adegan yang kompak bikin baperrr para penontonnya. Tak terkecuali dengan DotS berikut. Hhmmm... Baru di episode perdana, berasa saya sudah dipertemukan dengan beberapa scene yang asyik banget. Mungkin untuk yang lain biasa, tapi scene ketika Dokter Kang menelpon polisi kemudian Si Jin dengan seenaknya menampik smartphone yang sedang dipakai menelpon Dokter Kang, lanjut kemudian menangkap smartphone tersebut dengan sigapnya, sukaaaaaaa... Belum lagi ketika Si Jin membantu mendorong tempat tidur yang di atasnya ada seorang pasien berikut Dokter Kang yang penuh darah di bajunya... Sambil terus berlari, Si Jin tak henti memandangi Kang Mo Yeon yang sedang sibuk dan fokus untuk menyelamatkan pasiennya... Ohh... Hehhe... Bahkan ketika menonton scene Dokter Kang yang terpukau melihat gaya berkelahi Si Jin via CCTV rumah sakit, berasa geli dan menggemaskan sekali. Hahha..
Momen-momen yang mengesankan akan semakin indah apabila dibarengi dengan muatan dialog atau bahkan (just) monolog yang segar dan cerdas. Ingat scene ketika Dokter Kang berdebat dengan salah satu koleganya di rumah sakit, tentang cantiknya Dokter Yoon Myung Joo?, wkwkwkwkkk... Lucu gak sie ketika ada seorang perempuan cantik meributkan tentang perempuan cantik lainnya, hahha... Dokter Kang nie yaa... Atau juga dengan scene ketika Si Jin tengah dijahit lukanya oleh Dokter Kang... Saking modusnya, sampai juga ucapan dari mulut Si Jin terlontar, bahwa ia ingin berkunjung ke rumah sakit tiap hari dan hanya mau ditangani oleh dokter yang cantik, wkwkwkwkkk... Ya apapunlah, namanya juga sedang ‘usaha’... Dan sebagainya..dan sebagainya,...
Key ukey... Sekilas dulu untuk yang pertama... Semoga untuk selanjutnya semakin indah dan penuh makna. See you...
*Pranala tambahan: Tabloid Bintang Indonesia
*Meleset Dari Perkiraan
Ahh, tapi setidak-tidaknya kabar baik itu mulai terjawab seminggu belakangan. Sempat membaca dan mengetahuinya sekilas di sebuah situs berita, katanya RCTI akan menayangkan DotS dengan menggunakan sistem subtitle alias tanpa dubbing dari para dubber, seperti biasanya beberapa program tayangan impor ditayangkan di stasiun-stasiun tv lokal. Daebak, keren dunk!!! Bukannya apa-apa, semenjak kenal yang namanya aktifitas ‘donwload-mendownload’ K-Drama, telinga dan mata saya jadi terbiasa dengan ‘baper original version’, wkwkwkwkkk... Alhasil, giliran ketika sebuah K-Drama tiba ditayangkan di stasiun tv nasional, berasa sudah ‘hambar’ duluan. Belum lagi nanti kl suara para dubber nya tidak sesuai atau melenceng terlalu jauh dari versi aslinya, hadddeh... Bikin berantakan mood untuk menontonnya kembali. Lebih baik menikmati saja hasil download an sendiri dengan subtitle yang bisa dipilih dalam berbagai macam pilihan bahasa, wkwkwkwkwkkk...
*Mengepaskan Momen
Namanya juga stasiun tv swasta pioneer, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, RCTI selalu punya kelas tersendiri. Sering dibuat keki plus gedheggg dengan stasiun tv ini, tapi sungguh pun demikian RCTI adalah salah satu stasiun tv favorit saya. Ibarat kata, benci-benci tapi rindu, hahahaaa... Di beberapa varian program tayangan, RCTI terbilang jago untuk menghadirkan tayangan-tayangan yang spektakuler. Tapi ya itu tadi, karena terlalu berkepentingan dengan rating dan share, malah justru ‘ke-alay-an’ yang melanda. Duh, saya rindu dengan program-program RCTI zaman dulu, seperti Layar emas, Kuis Tak-Tik-Boom, sinetron Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dan kini, ketika usianya sudah hampir menginjak 27 tahun, saya berharap RCTI terus berbesar hati untuk mau mengevaluasi diri dan semangat untuk terus berkomitmen menghadirkan program-program acara yang menarik dan juga bermutu. Dan sekiranya itu diawali dengan menghadirkan DotS untuk pemirsa di tanah air. Momen ketika ditayangkan serial drama ini hingga sampai nanti selesai 16 (enam belas) episode, bertepatan dengan bulan di mana RCTI merayakan hari jadinya di tanggal 24 Agustus dan juga bulan di mana Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Berkelas karena kualitas, makanya itu segala sesuatunya seperti sudah diperhitungkan. Tema DotS yang berkisah tentang prajurit/tentara yang mengabdi dalam tugas bela negara dan juga seorang dokter yang ditugaskan di daerah konflik, spiritnya berasa pas dengan momen Agustus yang selalu penuh gegap-gempita semangat perjuangan dan cinta tanah air.
*Bukan Lee Byung Hun atau Jung Woo Sung
Berkisah tentang seorang prajurit/tentara yang erat kaitan dengan imej maskulin yang kekar dan berotot, bayangan saya, harusnya yang memerankan sosok Kapten Yoo Si Jin adalah kl tidak Lee Byun Hun yang memesona di IRIS 1, ya pasti Jung Woo Sung yang memikat di Athena, hahahaaa... Eeeeaallah, ternyata pilihan sang sutradara justru jatuh kepada ‘Kang Ma Roo saiya’... Adu aktingnya melawan salah satu primadona Korea pula... Duh, Joong Ki... Ternyata kau bisa juga ya mengimbangi atau bahkan menakhlukkan kharisma seorang Song Hye Kyo... Joong Ki yang dulunya lekat dengan citra unyu-unyu atau istilahnya ‘flower boy’, tapi kemudian menjelma menjadi sosok yang dewasa dan penuh perhitungan sebagai Kang Ma Roo dalam Nice Guy: Innocent Man, kini seolah-olah makin menunjukkan kelasnya, bahkan dia sanggup juga bermain watak dan peran, di samping statusnya sebagai bintang idola. Belum sepenuhnya bisa dikatakan gemilang lho ya (dilarang sewot, wkwkwkwkkk...), tapi setidak-tidaknya karakter Kapten Yoo Si Jin yang berwibawa, teguh dengan komitmen, tapi juga romantis dan doyan becanda, berhasil dihidupkan Joong Ki dengan caranya sendiri. Akan kebangetan jadinya jika saya nekad membandingkan-bandingkan Song Joong Kie dengan sosok Lee Byung Hun dan juga Jung Woo Sung, toh memang bukan itu yang jadi sasarannya. Cukuplah, jadi kapten pujaan di hati Dokter Kang dan juga para pecinta DotS di seluruh dunia.
Karakter Si Jin yang dihidupkan Joong Kie justru membuat gambaran tentang sosoknya tampak lebih manusiawi. Tentara juga manusia, di balik dunianya yang selalu dekat dengan bahaya, dia ternyata masih punya hati dan cinta untuk perempuan yang disukainya. Ahh, tapi tetap saja surprise melihat scene Si Jin tengah berolahraga fitness, wkwkwkwkkk.. Ech, Joong Ki ech... Kekar eeeuuyyy sekarang... Pulang wamil ternyata memang bawa hasil, hahahaaaa...
*Sang Primadona
Song Hye Kyo, siapa yang tak kenal perempuan cantik ini. Kecantikannya disebut-sebut sebagai yang paling alami alias bebas operasi plastik. Di usinya yang sudah menginjak 35 tahun, berasa waktu berhenti untuk kecantikan Hye Kyo yang kian memikat hati. Awet muda, awet cantik, dan kharismanya itu lhoooh... Di manapun kehadirannya, dia seperti pantang untuk disepelekan, hehhe... Termasuk untuk perannya sebagai Dokter Kang Mo Yeon. Dokter cantik yang penuh pengabdian dengan tugas-tugasnya di daerah konflik dan juga punya cinta yang besar untuk Kapten Si Jin. Di balik perannya yang apik dalam DotS, Hye Kyo seperti biasa dalam setiap tampilan peran di dramanya, seperti ikut membawa tren tersendiri. Siapa yang tak mengakrabi penampilan Dokter Kang dengan celana high weist nya (celana berpinggang tinggi) yang bikin para perempuan dengan masalah perut besar berasa sakit hati, xixixiii... Atau juga Dokter Kang dengan rok A-line nya dan dress shirt, berikut tas selempang... Bagi para penggemar DotS yang sudah berkali-kali khatam menontonnya, pasti sudah tidak asing dengan style Kang Mo Yeon yang simpel, tapi elegan. Duh, memang Kang Mo Yeon dan Song Hye Kyo itu sama-sama jelitanya ya,,,
*Memorable Scene
Bukan drama Korea jika tidak mampu menghadirkan unforgetable scenes alias adegan-adegan yang terlupakan. Tak melulu adegan yang bersifat penting, bahkan yang sepele-sepele saja, seringkali K-Drama menghadirkan adegan-adegan yang kompak bikin baperrr para penontonnya. Tak terkecuali dengan DotS berikut. Hhmmm... Baru di episode perdana, berasa saya sudah dipertemukan dengan beberapa scene yang asyik banget. Mungkin untuk yang lain biasa, tapi scene ketika Dokter Kang menelpon polisi kemudian Si Jin dengan seenaknya menampik smartphone yang sedang dipakai menelpon Dokter Kang, lanjut kemudian menangkap smartphone tersebut dengan sigapnya, sukaaaaaaa... Belum lagi ketika Si Jin membantu mendorong tempat tidur yang di atasnya ada seorang pasien berikut Dokter Kang yang penuh darah di bajunya... Sambil terus berlari, Si Jin tak henti memandangi Kang Mo Yeon yang sedang sibuk dan fokus untuk menyelamatkan pasiennya... Ohh... Hehhe... Bahkan ketika menonton scene Dokter Kang yang terpukau melihat gaya berkelahi Si Jin via CCTV rumah sakit, berasa geli dan menggemaskan sekali. Hahha..
Momen-momen yang mengesankan akan semakin indah apabila dibarengi dengan muatan dialog atau bahkan (just) monolog yang segar dan cerdas. Ingat scene ketika Dokter Kang berdebat dengan salah satu koleganya di rumah sakit, tentang cantiknya Dokter Yoon Myung Joo?, wkwkwkwkkk... Lucu gak sie ketika ada seorang perempuan cantik meributkan tentang perempuan cantik lainnya, hahha... Dokter Kang nie yaa... Atau juga dengan scene ketika Si Jin tengah dijahit lukanya oleh Dokter Kang... Saking modusnya, sampai juga ucapan dari mulut Si Jin terlontar, bahwa ia ingin berkunjung ke rumah sakit tiap hari dan hanya mau ditangani oleh dokter yang cantik, wkwkwkwkkk... Ya apapunlah, namanya juga sedang ‘usaha’... Dan sebagainya..dan sebagainya,...
Key ukey... Sekilas dulu untuk yang pertama... Semoga untuk selanjutnya semakin indah dan penuh makna. See you...
*Pranala tambahan: Tabloid Bintang Indonesia
18.49.00
Unknown
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu hadir juga. Sang Kapten Yoo Si Jin dan dokter jelitanya, Kang Mo Yeon dalam Descendant Of The Sun!!! Ech, btw masih ditunggu-tunggu gak sie??! Hahha... Kl katanya ‘para sombong’ (wkwkwkwkwkkk, termasuk saiya) yang sudah terbiasa download serial K-Drama mendahului pemirsa kebanyakan, termasuk juga dengan serial drama ini, sudah tidak terlalu exited lagi... Lha iya, lha wonk sudah hapal di luar kepala adegan-adegan serta jalan ceritanya karena sudah ditonton berulang kali ditonton di laptop atau juga media gadget yang lainnya, hahahaaa... Momentumnya lambat-laun sudah meluntur, hhmmm... Apanya lagi dunk yang bikin penasaran??! Apalagi yang memenangkan hak siar drama berbudget fantastis ini di Indonesia adalah stasiun tv RCTI, hadddeh... Berasa exited dan antusiasnya makin jauh panggang dari api. Stasiun tv RCTI terkenal dengan kebiasaan kejamnya yang hobi memotong dan menghentikan program acaranya di tengah jalan karena ekspektasi yang tidak sesuai harapan (baca: alasan rating dan share jeblok). Bukan melulu karena sifat tayangan yang tidak memenuhi standar, justru stasiun tv ini seringkali memangkas acara-acara yang saya pikir itu bagus dan bermutu daripada hanya sekadar tayangan sinetron ribuan episode, yang entah sampai kapan akan mencapai tamatnya, wwweew... Nah, untuk itulah kenapa ketika mengetahui DotS akan ditayangkan oleh stasiun tv berlambang burung rajawali ini, banyak pesimisme dan nyinyir yang berkembang di sana-sini... Eeeyyyaa... RCTI... Akan betah sampai berapa episode mereka akan menayangkan DotS, ada berapa banyak adegan yang akan jadi korban sensor sembarangan, xixixiii...
*Meleset Dari Perkiraan
Ahh, tapi setidak-tidaknya kabar baik itu mulai terjawab seminggu belakangan. Sempat membaca dan mengetahuinya sekilas di sebuah situs berita, katanya RCTI akan menayangkan DotS dengan menggunakan sistem subtitle alias tanpa dubbing dari para dubber, seperti biasanya beberapa program tayangan impor ditayangkan di stasiun-stasiun tv lokal. Daebak, keren dunk!!! Bukannya apa-apa, semenjak kenal yang namanya aktifitas ‘donwload-mendownload’ K-Drama, telinga dan mata saya jadi terbiasa dengan ‘baper original version’, wkwkwkwkkk... Alhasil, giliran ketika sebuah K-Drama tiba ditayangkan di stasiun tv nasional, berasa sudah ‘hambar’ duluan. Belum lagi nanti kl suara para dubber nya tidak sesuai atau melenceng terlalu jauh dari versi aslinya, hadddeh... Bikin berantakan mood untuk menontonnya kembali. Lebih baik menikmati saja hasil download an sendiri dengan subtitle yang bisa dipilih dalam berbagai macam pilihan bahasa, wkwkwkwkwkkk...
Selesai masalah penyajian subtitle, bukan berarti berhenti untuk kekhawatiran yang lain. Apa lagi kl bukan masalah cut adegan alias sensor. Sejak peraturan sensor semakin ketat, berasa seringkali cara menyensor yang dilakukan oleh lembaga terkait atas tayangan-tayangan, khususnya program impor, terlihat berlebihan. Bahkan kl boleh saya menyebut, justru karena sensor yang berlebihan tersebut, malah membuat kenikmatan ketika menonton suatu tayangan jadi terganggu. Belum lagi kl cara memotong adegan asal-asalan, berasa seperti menonton cerita yang terputus-putus. Tapi untuk DotS ini, sepertinya RCTI sedang ingin ‘berbeda’. Ditayangkan hampir tengah malam, di jam yang di luar prime time (18.00-21.00 WIB), berharap serial drama yang dibintangi oleh Song Hye Kyo dan Song Joong Ki akan ditonton oleh para penonton yang sudah punya ‘jam terbang tinggi’, wkwkwkwkkk... Karena sudah punya jam terbang tinggi, makanya RCTI berani untuk meminimalisir cut atau sensor, meski commercial break nya luar biasa. Mahal eeeuuyy, maklum deh, hehhe.. Coba kl drama ini nekad tayang di sore hari, bisa-bisa hanya scene Si Jin memerlihatkan luka berdarahnya di bagian pinggang kepada Dokter Kang pasti diblur... Tapi karena ditayangkan ketika sudah hampir mencapai tengah malam, dengan perkiraan anak-anak di bawah umur sudah tidak stand by di depan tv, warna darahnya tidak berubah jadi hitam-putih deh, yuhuuuuu... Lalu untuk adegan cium-mencium bagaiman dunk?? Ya kita tunggu saja bagaimana selanjutnya.
*Mengepaskan Momen
Namanya juga stasiun tv swasta pioneer, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, RCTI selalu punya kelas tersendiri. Sering dibuat keki plus gedheggg dengan stasiun tv ini, tapi sungguh pun demikian RCTI adalah salah satu stasiun tv favorit saya. Ibarat kata, benci-benci tapi rindu, hahahaaa... Di beberapa varian program tayangan, RCTI terbilang jago untuk menghadirkan tayangan-tayangan yang spektakuler. Tapi ya itu tadi, karena terlalu berkepentingan dengan rating dan share, malah justru ‘ke-alay-an’ yang melanda. Duh, saya rindu dengan program-program RCTI zaman dulu, seperti Layar emas, Kuis Tak-Tik-Boom, sinetron Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dan kini, ketika usianya sudah hampir menginjak 27 tahun, saya berharap RCTI terus berbesar hati untuk mau mengevaluasi diri dan semangat untuk terus berkomitmen menghadirkan program-program acara yang menarik dan juga bermutu. Dan sekiranya itu diawali dengan menghadirkan DotS untuk pemirsa di tanah air. Momen ketika ditayangkan serial drama ini hingga sampai nanti selesai 16 (enam belas) episode, bertepatan dengan bulan di mana RCTI merayakan hari jadinya di tanggal 24 Agustus dan juga bulan di mana Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Berkelas karena kualitas, makanya itu segala sesuatunya seperti sudah diperhitungkan. Tema DotS yang berkisah tentang prajurit/tentara yang mengabdi dalam tugas bela negara dan juga seorang dokter yang ditugaskan di daerah konflik, spiritnya berasa pas dengan momen Agustus yang selalu penuh gegap-gempita semangat perjuangan dan cinta tanah air.
*Bukan Lee Byung Hun atau Jung Woo Sung
Berkisah tentang seorang prajurit/tentara yang erat kaitan dengan imej maskulin yang kekar dan berotot, bayangan saya, harusnya yang memerankan sosok Kapten Yoo Si Jin adalah kl tidak Lee Byun Hun yang memesona di IRIS 1, ya pasti Jung Woo Sung yang memikat di Athena, hahahaaa... Eeeeaallah, ternyata pilihan sang sutradara justru jatuh kepada ‘Kang Ma Roo saiya’... Adu aktingnya melawan salah satu primadona Korea pula... Duh, Joong Ki... Ternyata kau bisa juga ya mengimbangi atau bahkan menakhlukkan kharisma seorang Song Hye Kyo... Joong Ki yang dulunya lekat dengan citra unyu-unyu atau istilahnya ‘flower boy’, tapi kemudian menjelma menjadi sosok yang dewasa dan penuh perhitungan sebagai Kang Ma Roo dalam Nice Guy: Innocent Man, kini seolah-olah makin menunjukkan kelasnya, bahkan dia sanggup juga bermain watak dan peran, di samping statusnya sebagai bintang idola. Belum sepenuhnya bisa dikatakan gemilang lho ya (dilarang sewot, wkwkwkwkkk...), tapi setidak-tidaknya karakter Kapten Yoo Si Jin yang berwibawa, teguh dengan komitmen, tapi juga romantis dan doyan becanda, berhasil dihidupkan Joong Ki dengan caranya sendiri. Akan kebangetan jadinya jika saya nekad membandingkan-bandingkan Song Joong Kie dengan sosok Lee Byung Hun dan juga Jung Woo Sung, toh memang bukan itu yang jadi sasarannya. Cukuplah, jadi kapten pujaan di hati Dokter Kang dan juga para pecinta DotS di seluruh dunia.
Karakter Si Jin yang dihidupkan Joong Kie justru membuat gambaran tentang sosoknya tampak lebih manusiawi. Tentara juga manusia, di balik dunianya yang selalu dekat dengan bahaya, dia ternyata masih punya hati dan cinta untuk perempuan yang disukainya. Ahh, tapi tetap saja surprise melihat scene Si Jin tengah berolahraga fitness, wkwkwkwkkk.. Ech, Joong Ki ech... Kekar eeeuuyyy sekarang... Pulang wamil ternyata memang bawa hasil, hahahaaaa...
*Sang Primadona
Song Hye Kyo, siapa yang tak kenal perempuan cantik ini. Kecantikannya disebut-sebut sebagai yang paling alami alias bebas operasi plastik. Di usinya yang sudah menginjak 35 tahun, berasa waktu berhenti untuk kecantikan Hye Kyo yang kian memikat hati. Awet muda, awet cantik, dan kharismanya itu lhoooh... Di manapun kehadirannya, dia seperti pantang untuk disepelekan, hehhe... Termasuk untuk perannya sebagai Dokter Kang Mo Yeon. Dokter cantik yang penuh pengabdian dengan tugas-tugasnya di daerah konflik dan juga punya cinta yang besar untuk Kapten Si Jin. Di balik perannya yang apik dalam DotS, Hye Kyo seperti biasa dalam setiap tampilan peran di dramanya, seperti ikut membawa tren tersendiri. Siapa yang tak mengakrabi penampilan Dokter Kang dengan celana high weist nya (celana berpinggang tinggi) yang bikin para perempuan dengan masalah perut besar berasa sakit hati, xixixiii... Atau juga Dokter Kang dengan rok A-line nya dan dress shirt, berikut tas selempang... Bagi para penggemar DotS yang sudah berkali-kali khatam menontonnya, pasti sudah tidak asing dengan style Kang Mo Yeon yang simpel, tapi elegan. Duh, memang Kang Mo Yeon dan Song Hye Kyo itu sama-sama jelitanya ya,,,
*Memorable Scene
Bukan drama Korea jika tidak mampu menghadirkan unforgetable scenes alias adegan-adegan yang terlupakan. Tak melulu adegan yang bersifat penting, bahkan yang sepele-sepele saja, seringkali K-Drama menghadirkan adegan-adegan yang kompak bikin baperrr para penontonnya. Tak terkecuali dengan DotS berikut. Hhmmm... Baru di episode perdana, berasa saya sudah dipertemukan dengan beberapa scene yang asyik banget. Mungkin untuk yang lain biasa, tapi scene ketika Dokter Kang menelpon polisi kemudian Si Jin dengan seenaknya menampik smartphone yang sedang dipakai menelpon Dokter Kang, lanjut kemudian menangkap smartphone tersebut dengan sigapnya, sukaaaaaaa... Belum lagi ketika Si Jin membantu mendorong tempat tidur yang di atasnya ada seorang pasien berikut Dokter Kang yang penuh darah di bajunya... Sambil terus berlari, Si Jin tak henti memandangi Kang Mo Yeon yang sedang sibuk dan fokus untuk menyelamatkan pasiennya... Ohh... Hehhe... Bahkan ketika menonton scene Dokter Kang yang terpukau melihat gaya berkelahi Si Jin via CCTV rumah sakit, berasa geli dan menggemaskan sekali. Hahha..
Momen-momen yang mengesankan akan semakin indah apabila dibarengi dengan muatan dialog atau bahkan (just) monolog yang segar dan cerdas. Ingat scene ketika Dokter Kang berdebat dengan salah satu koleganya di rumah sakit, tentang cantiknya Dokter Yoon Myung Joo?, wkwkwkwkkk... Lucu gak sie ketika ada seorang perempuan cantik meributkan tentang perempuan cantik lainnya, hahha... Dokter Kang nie yaa... Atau juga dengan scene ketika Si Jin tengah dijahit lukanya oleh Dokter Kang... Saking modusnya, sampai juga ucapan dari mulut Si Jin terlontar, bahwa ia ingin berkunjung ke rumah sakit tiap hari dan hanya mau ditangani oleh dokter yang cantik, wkwkwkwkkk... Ya apapunlah, namanya juga sedang ‘usaha’... Dan sebagainya..dan sebagainya,...
Key ukey... Sekilas dulu untuk yang pertama... Semoga untuk selanjutnya semakin indah dan penuh makna. See you...
*Pranala tambahan: Tabloid Bintang Indonesia
*Meleset Dari Perkiraan
Ahh, tapi setidak-tidaknya kabar baik itu mulai terjawab seminggu belakangan. Sempat membaca dan mengetahuinya sekilas di sebuah situs berita, katanya RCTI akan menayangkan DotS dengan menggunakan sistem subtitle alias tanpa dubbing dari para dubber, seperti biasanya beberapa program tayangan impor ditayangkan di stasiun-stasiun tv lokal. Daebak, keren dunk!!! Bukannya apa-apa, semenjak kenal yang namanya aktifitas ‘donwload-mendownload’ K-Drama, telinga dan mata saya jadi terbiasa dengan ‘baper original version’, wkwkwkwkkk... Alhasil, giliran ketika sebuah K-Drama tiba ditayangkan di stasiun tv nasional, berasa sudah ‘hambar’ duluan. Belum lagi nanti kl suara para dubber nya tidak sesuai atau melenceng terlalu jauh dari versi aslinya, hadddeh... Bikin berantakan mood untuk menontonnya kembali. Lebih baik menikmati saja hasil download an sendiri dengan subtitle yang bisa dipilih dalam berbagai macam pilihan bahasa, wkwkwkwkwkkk...
*Mengepaskan Momen
Namanya juga stasiun tv swasta pioneer, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, RCTI selalu punya kelas tersendiri. Sering dibuat keki plus gedheggg dengan stasiun tv ini, tapi sungguh pun demikian RCTI adalah salah satu stasiun tv favorit saya. Ibarat kata, benci-benci tapi rindu, hahahaaa... Di beberapa varian program tayangan, RCTI terbilang jago untuk menghadirkan tayangan-tayangan yang spektakuler. Tapi ya itu tadi, karena terlalu berkepentingan dengan rating dan share, malah justru ‘ke-alay-an’ yang melanda. Duh, saya rindu dengan program-program RCTI zaman dulu, seperti Layar emas, Kuis Tak-Tik-Boom, sinetron Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dan kini, ketika usianya sudah hampir menginjak 27 tahun, saya berharap RCTI terus berbesar hati untuk mau mengevaluasi diri dan semangat untuk terus berkomitmen menghadirkan program-program acara yang menarik dan juga bermutu. Dan sekiranya itu diawali dengan menghadirkan DotS untuk pemirsa di tanah air. Momen ketika ditayangkan serial drama ini hingga sampai nanti selesai 16 (enam belas) episode, bertepatan dengan bulan di mana RCTI merayakan hari jadinya di tanggal 24 Agustus dan juga bulan di mana Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Berkelas karena kualitas, makanya itu segala sesuatunya seperti sudah diperhitungkan. Tema DotS yang berkisah tentang prajurit/tentara yang mengabdi dalam tugas bela negara dan juga seorang dokter yang ditugaskan di daerah konflik, spiritnya berasa pas dengan momen Agustus yang selalu penuh gegap-gempita semangat perjuangan dan cinta tanah air.
*Bukan Lee Byung Hun atau Jung Woo Sung
Berkisah tentang seorang prajurit/tentara yang erat kaitan dengan imej maskulin yang kekar dan berotot, bayangan saya, harusnya yang memerankan sosok Kapten Yoo Si Jin adalah kl tidak Lee Byun Hun yang memesona di IRIS 1, ya pasti Jung Woo Sung yang memikat di Athena, hahahaaa... Eeeeaallah, ternyata pilihan sang sutradara justru jatuh kepada ‘Kang Ma Roo saiya’... Adu aktingnya melawan salah satu primadona Korea pula... Duh, Joong Ki... Ternyata kau bisa juga ya mengimbangi atau bahkan menakhlukkan kharisma seorang Song Hye Kyo... Joong Ki yang dulunya lekat dengan citra unyu-unyu atau istilahnya ‘flower boy’, tapi kemudian menjelma menjadi sosok yang dewasa dan penuh perhitungan sebagai Kang Ma Roo dalam Nice Guy: Innocent Man, kini seolah-olah makin menunjukkan kelasnya, bahkan dia sanggup juga bermain watak dan peran, di samping statusnya sebagai bintang idola. Belum sepenuhnya bisa dikatakan gemilang lho ya (dilarang sewot, wkwkwkwkkk...), tapi setidak-tidaknya karakter Kapten Yoo Si Jin yang berwibawa, teguh dengan komitmen, tapi juga romantis dan doyan becanda, berhasil dihidupkan Joong Ki dengan caranya sendiri. Akan kebangetan jadinya jika saya nekad membandingkan-bandingkan Song Joong Kie dengan sosok Lee Byung Hun dan juga Jung Woo Sung, toh memang bukan itu yang jadi sasarannya. Cukuplah, jadi kapten pujaan di hati Dokter Kang dan juga para pecinta DotS di seluruh dunia.
Karakter Si Jin yang dihidupkan Joong Kie justru membuat gambaran tentang sosoknya tampak lebih manusiawi. Tentara juga manusia, di balik dunianya yang selalu dekat dengan bahaya, dia ternyata masih punya hati dan cinta untuk perempuan yang disukainya. Ahh, tapi tetap saja surprise melihat scene Si Jin tengah berolahraga fitness, wkwkwkwkkk.. Ech, Joong Ki ech... Kekar eeeuuyyy sekarang... Pulang wamil ternyata memang bawa hasil, hahahaaaa...
*Sang Primadona
Song Hye Kyo, siapa yang tak kenal perempuan cantik ini. Kecantikannya disebut-sebut sebagai yang paling alami alias bebas operasi plastik. Di usinya yang sudah menginjak 35 tahun, berasa waktu berhenti untuk kecantikan Hye Kyo yang kian memikat hati. Awet muda, awet cantik, dan kharismanya itu lhoooh... Di manapun kehadirannya, dia seperti pantang untuk disepelekan, hehhe... Termasuk untuk perannya sebagai Dokter Kang Mo Yeon. Dokter cantik yang penuh pengabdian dengan tugas-tugasnya di daerah konflik dan juga punya cinta yang besar untuk Kapten Si Jin. Di balik perannya yang apik dalam DotS, Hye Kyo seperti biasa dalam setiap tampilan peran di dramanya, seperti ikut membawa tren tersendiri. Siapa yang tak mengakrabi penampilan Dokter Kang dengan celana high weist nya (celana berpinggang tinggi) yang bikin para perempuan dengan masalah perut besar berasa sakit hati, xixixiii... Atau juga Dokter Kang dengan rok A-line nya dan dress shirt, berikut tas selempang... Bagi para penggemar DotS yang sudah berkali-kali khatam menontonnya, pasti sudah tidak asing dengan style Kang Mo Yeon yang simpel, tapi elegan. Duh, memang Kang Mo Yeon dan Song Hye Kyo itu sama-sama jelitanya ya,,,
*Memorable Scene
Bukan drama Korea jika tidak mampu menghadirkan unforgetable scenes alias adegan-adegan yang terlupakan. Tak melulu adegan yang bersifat penting, bahkan yang sepele-sepele saja, seringkali K-Drama menghadirkan adegan-adegan yang kompak bikin baperrr para penontonnya. Tak terkecuali dengan DotS berikut. Hhmmm... Baru di episode perdana, berasa saya sudah dipertemukan dengan beberapa scene yang asyik banget. Mungkin untuk yang lain biasa, tapi scene ketika Dokter Kang menelpon polisi kemudian Si Jin dengan seenaknya menampik smartphone yang sedang dipakai menelpon Dokter Kang, lanjut kemudian menangkap smartphone tersebut dengan sigapnya, sukaaaaaaa... Belum lagi ketika Si Jin membantu mendorong tempat tidur yang di atasnya ada seorang pasien berikut Dokter Kang yang penuh darah di bajunya... Sambil terus berlari, Si Jin tak henti memandangi Kang Mo Yeon yang sedang sibuk dan fokus untuk menyelamatkan pasiennya... Ohh... Hehhe... Bahkan ketika menonton scene Dokter Kang yang terpukau melihat gaya berkelahi Si Jin via CCTV rumah sakit, berasa geli dan menggemaskan sekali. Hahha..
Momen-momen yang mengesankan akan semakin indah apabila dibarengi dengan muatan dialog atau bahkan (just) monolog yang segar dan cerdas. Ingat scene ketika Dokter Kang berdebat dengan salah satu koleganya di rumah sakit, tentang cantiknya Dokter Yoon Myung Joo?, wkwkwkwkkk... Lucu gak sie ketika ada seorang perempuan cantik meributkan tentang perempuan cantik lainnya, hahha... Dokter Kang nie yaa... Atau juga dengan scene ketika Si Jin tengah dijahit lukanya oleh Dokter Kang... Saking modusnya, sampai juga ucapan dari mulut Si Jin terlontar, bahwa ia ingin berkunjung ke rumah sakit tiap hari dan hanya mau ditangani oleh dokter yang cantik, wkwkwkwkkk... Ya apapunlah, namanya juga sedang ‘usaha’... Dan sebagainya..dan sebagainya,...
Key ukey... Sekilas dulu untuk yang pertama... Semoga untuk selanjutnya semakin indah dan penuh makna. See you...
*Pranala tambahan: Tabloid Bintang Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)



























